Sebab Bencana Banjir Di Sultra, Ini Pendapat Aktivis Lingkungan Senior Indonesia, Alimaturahim

1926
Alimaturahim

Faktual.Net, Kendari, Sultra. Curah hujan yang mulai menurun minggu ini, nampaknya tidak begitu saja menyurutkan dampak lingkungan seperti tanah longsor dan amblasnya jalan akibat dari luapan air yang terlanjur membawa banjir di Kabupaten Konawe, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Timur, dan sebagian Konawe Selatan, di musim penghujan tahun ini.

Dampak banjir itu, kini mulai mematahkan jalur jalan utama, penghubung antara jalan kabupaten-provinsi, bahkan jalur provinsi-provinsi, tepatnya di Kelurahan Rawua Kecamatan Sampara Kabupaten Konawe. Hasil foto udara yang beredar viral di media sosial, membuat masyarakat resah dan turut prihatin terhadap dampak maupun penyebab banjir itu sendiri. Salah satunya adalah aktivis lingkungan senior di negeri ini, Alimaturahim, yang dihubungi oleh faktual.net, Selasa, 2/5/2019.

Ketgam: Salah Satu Akses Jalan Di Kelurahan Rawua Kecamatan Sampara Konawe Yang Lagi Viral di Media Sosial 2/5/2019.

Menurut Alimaturahim, amblasnya jalan tersebut sangat berdampak pada perputaran peningkatan roda ekonomi masyarakat di Sulawesi Tenggara (Sultra), sebab jalan tersebut merupakan ruas strategis, sehingga harus ditangani segera oleh pemerintah daerah. “Jika tidak cepat ada perbaikan akan fatal, karena ini salah satu jalur provinsi yang menghubungkan Kabupaten Konawe, Konawe Utara, Kolaka Timur, Kolaka, Kolaka Utara dan Provinsi Sulawesi Selatan, juga Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Ini memprihatinkan,” ungkap Alimaturahim.

Baca Juga :  Ada Apa??? Bank Bni Cabang Pengayoman Disoroti Lsm Poros Rakyat

Dijelaskan oleh aktivis lingkungan yang kini menetap di Bogor itu, bahwa penyebab bencana banjir di Sultra bukan hanya soal tidak singkronnya tata ruang, dengan adanya bangunan di pinggir sungai, namun penyebab pastinya lebih kompleks dari itu. “Ada faktor-faktor alam, misalnya gempa tektonik, pergeseran lempeng bumi, dan lainnya,” jelas mantan wartawan senior beberapa media nasional wilayah Sultra era 90-an.

Dilanjutkan oleh Direktur Eksekutif Komunitas Penadbhiran Sampah (KPS) ini, bahwa faktor penyebab yang tak kalah besar pengaruhnya adalah faktor-faktor antopogenis yaitu akibat ulah manusia, terutama pertambangan, penggundulan hutan dan lain-lain, yang mengakibatkan merosotnya stigma tanah, dan tanah pun menjadi labil dan amblas.

Baca Juga :  Pasangan AMAN Resmi Kantongi Rekomendasi PAN

Meskipun saat ini pemerintah berusaha memperbaikinya, tapi kalau faktor-faktor penyebab tersebut tidak ditanggulangi, tanah itu akan amblas lagi. “Pada prinsipnya tanah amblas itu mustahil ditempel, karena biasanya sangat dalam, yang bisa dilakukan manusia hanya perbaikan yang bersifat sementara, itupun paling bisa bertahan beberapa bulan saja, setelah itu amblas lagi,” ungkap Alimaturahim yang mengaku bukan ahli geologi.

Salah satu promotor ekotourism dunia ini Alimaturahim, berpesan bahwa berbuat baiklah untuk alam maka alam pun akan seribu kali baik kepadamu, tapi jika kamu merusaknya maka liat saja contohnya amukan unsur terkecil alam seperti air yang sehari-hari digunakan untuk minum, mandi, wudhu, bisa melenyapkan segalanya, bagaimana jika amukan alam datang dari unsur terbesar seperti gunung?

Reporter : Wa Ode Deli Yusniati

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :