
Faktual.Net, Kendari, Sultra — Tiga warga Sulawesi Tenggara (Sultra) ditemukan tewas di area Pegunungan Bintang Papua pada Senin 5 Desember 2022. Diketahui ketiganya menjadi korban penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Setelah kejadian tersebut, terdapat beberapa penyampaian belasungkawa dan tuntutan kepada pemerintah, TNI dan Polri disejumlah kanal sosial media.
Namun yang menjadi sorotan beberapa pihak adalah pernyataan dari ketua Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) Umar Bonte di akun TikTok pribadinya.
Dalam video yang berdurasi 3 menit 12 detik tersebut, Umar mengatakan akan membentuk pasukan/laskar sipil untuk lakukan perang di Papua kalau Panglima TNI tidak mampu mengerahkan pasukan besar-besaran di Papua.
Koordinator Ruang Sipil La Ode Muhammad Safaat mengatakan pernyataan Umar berbau narasi provokatif yang dapat memperkeruh situasi.
“Saya turut berduka cita terhadap ketiga korban, semoga pelaku segera ditemukan dan untuk Umar stop dengan pernyataan provokatifnya,” tutur Safaat, di Kota Kendari, Kamis (15/12) .
“Kini videonya sudah viral. Mengenai dia mau bentuk laskar dan akan perang, semoga tidak ada orang yang terbius dengan kalimat bodohnya,” lanjut Safaat.
Persoalan permintaan Umar agar dilakukannya operasi besar-besaran, Safaat mengatakan langkah tersebut sudah sejak lama terjadi di Papua, bahkan hingga saat ini masih menjadi perdebatan karena pendekatan tersebut terbukti tidak mampu menghadirkan kedamaian.
Dalam laporan Imparsial periode Januari hingga Agustus 2022 sebanyak 3.657 personel non-organik TNI dan Polri dikirim ke Papua. 3.000 prajurit TNI dan 657 anggota Polri dalam hal ini Brimob.
“Sepanjang tahun ini yang dikirim ke Papua semuanya kualifikasi perang. Hingga saat inipun kita belum selesai terkait perdebatan pelibatan TNI dalam penanganan terorisme. Umar meminta untuk melakukan operasi besar-besaran, sudah ada,” tegasnya.
Dalam waktu dekat Safaat dan pihaknya akan menyurat ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Tenggara untuk mengundang Umar agar dapat memberikan keterangan lebih lanjut atas pernyataannya.
Kekhawatiran seandainya ada pihak yang terprovokasi dengan pernyataan Umar dan dapat berimbas pada orang Papua yang bertempat tinggal di luar tanah Papua. Hal ini diungkap oleh Safaat.
“Umar faham tidak kalau saat ini ada stigma buruk terhadap orang Papua. Kalau dia mau perang, itu hak dia. Tapi jangan galang masa yang dapat memperkeruh situasi, menghadirkan korban jiwa dan dapat melahirkan sentimen,” tutupnya.
Reporter: Kariadi















