Faktual.net, Gowa — Proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Pencong, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, mendadak menjadi sorotan publik usai bagian pondasi/talud bangunan roboh setelah diguyur hujan. Peristiwa ini viral di media sosial dan memicu gelombang kritik dari warga yang mempertanyakan kualitas proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.
Talud setinggi sekitar tiga meter dengan panjang kurang lebih 26 meter dilaporkan ambruk setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Di media sosial, banyak warganet mempertanyakan mutu pekerjaan proyek, bahkan muncul dugaan anggaran pembangunan senilai Rp1,6 miliar tidak sepenuhnya terealisasi ke kualitas fisik bangunan.
Salah seorang warga Desa Pencong yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada Faktual.net menilai robohnya talud itu bukan sekadar faktor cuaca, tetapi diduga kuat akibat pekerjaan yang dikerjakan asal jadi.
Menurutnya, sejak awal masyarakat telah memantau adanya kejanggalan dalam pelaksanaan proyek. Ia menuding campuran material dikurangi dan pengerjaan terkesan tidak sesuai standar teknis.
“Kalau baru beberapa saat hujan lalu langsung roboh, ini patut dicurigai. Jangan sampai program rakyat justru jadi ladang keuntungan oknum. Kami duga ada yang bermain dalam proyek ini,” ungkapnya.
Warga menilai pembangunan KDMP yang merupakan program Presiden Prabowo Subianto seharusnya menjadi sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat desa, bukan malah memunculkan dugaan pekerjaan asal-asalan yang berpotensi merugikan Negara.
Masyarakat mendesak instansi terkait segera turun tangan meninjau ulang progres pembangunan di Desa Pencong. Mereka menilai ambruknya struktur sebelum bangunan digunakan menjadi sinyal serius adanya dugaan lemahnya pengawasan.
Sementara itu, pemborong proyek, H. Tumpu, saat dikonfirmasi Faktual.net menjelaskan bahwa yang roboh bukan bangunan utama, melainkan talud area parkir. Menurutnya, kerusakan dipicu hujan berturut-turut selama lima hari, ditambah saluran air dari bagian atas belum dialihkan.
Ia mengaku nilai borongan proyek yang dikerjakannya sebesar Rp850 juta. Namun hingga saat ini, pembayaran yang diterimanya baru Rp250 juta, padahal progres pembangunan diklaim hampir selesai.
“Yang roboh itu talud, bukan badan bangunan. Kalau badan proyek yang roboh, tentu lain persoalannya. Material juga tidak sampai terbuang. Ini musibah karena hujan terus menerus,” katanya.
H. Tumpu juga menyebut dirinya masih menalangi biaya dua titik pekerjaan, yakni di Desa Pencong dan Desa Parangloe, sementara pencairan dana belum maksimal. Ia berharap sisa anggaran segera dicairkan untuk menuntaskan tahap akhir pembangunan.
Namun, insiden ambruknya talud ini tetap menimbulkan tanda tanya besar. Publik menilai proyek yang baru dibangun tetapi sudah rusak saat hujan pertama menjadi tamparan keras bagi pengawasan proyek desa. Dugaan kualitas buruk dan potensi penyimpangan anggaran pun kini menjadi perbincangan panas di tengah masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak-pihak terkait yang berwenang dalam pembangunan KDMP belum berhasil dihubungi untuk memberikan penjelasan resmi.
Media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi seluruh pihak terkait.
Reporter: Saenal Abidin Daeng Rate
















