oleh

Ali Mazi: Kehadiran Pabrik Smelter di Sultra Berdampak Positif Bagi Perekonomian

Faktual.Net, Kendari, Sultra РGubernur Provinsi Sulawesi Tenggara, H Ali Mazi memandang  keberadaan pabrik smelter di bumi anoa membawa dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Terlebih lagi, potensi nikel di bumi anoa sangatlah besar.

Hal ini disampaikannya saat menjadi salah satu pembicara diacara Economic Chalangges bertajuk “Hilirisasi Menggaet Investasi” yang disiarkan langsung Metro TV. Hadir juga dalam kegiatan itu, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Arifin.

“Sultra memiliki potensi SDA berupa cadangan bahan baku nikel yang diperkirakan sebesar 97,4 miliar ton. Secara ekonomis akan menguntungkan karena bahan baku yang tersebar di Sultra sangat luar biasa,” kata Ali Mazi disalah satu TV Swasta di Jakarta, Senin, 27/7/2020, malam.

Ali Mazi mengatakan, jika beberapa tahun sebelumnya, pertambahan industri pertambangan di Sultra hanya menghasilkan bahan baku industri hulu. Kemudian seiring kebijakan pemerintah pusat, mengupayakan terjadinya penambahan nilai ekonomi dari industri pertambangan dengan adanya industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi, dan inilah industri hilir.

“Pertanyaannya bagaimana keuntungan yang didapatkan Sultra. Tentu saya selaku Gubernur mewakili pemerintah pusat bersama-sama masyarakat mendukung kebijakan pemerintah pusat karena hadirnya smelter di Sultra, maka sangat berdampak poitif tehadap pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.

Baca Juga :  Kemenparekraf RI Salur 1500 Paket Balasa di Sultra

Gubernur Sultra ini mengungkapkan, pada akhir 2018 VDNI perusahaan pertambangan nikel di Sultra telah berkotribusi sebesar 142,2 juta dolar Amerika Serikat terhadap ekspor Indonesia. Kemudian, pada 25 Februari 2019 smelter diresmikan oleh Menteri Perindustrian RI, Erlangga Hartanto.

Orang nomor satu di Sultra ini mengatakan,Tahun ini VDNI mendatangkan 500 TKA asal Tiongkok secara bertahap, dengan batas waktu enam bulan bekerja di Indonesia. Namun, lanjut Ali Mazi, apabila melebihi batas maka akan dideportasi.

Dia menjelaskan, TKA didatangkan karena memiliki keahlian khusus menginstalasi pabrik smelter. Selain itu, juga karena Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan kerja sektor ini. Olehnya itu, kata Ali Mazi, Kehadiran tenaga kerja asing ini diharapkan memberikan tranfers teknologi pada pekerja lokal. Apalagi, ada 5.000 pekerja lokal yang akan direkrut untuk proyek smelter Konawe. Nantinya, pabrik smelter ini akan dijadikan pabrik pembuatan baterai.

“Inilah harapan-harapan kami khususnya dari Pemprov. Potensi nikel di Sultra sangat besar sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal. Dimana berdasarkan RKAB, tahun 2019 sumber daya terukur mencapai 480.240 juta ton dengan cadangan terbukti mencapai 893.267 ton. Nah, nilai tambah yang diperoleh cukup besar. Dimana ekspor berupa ore nikel mencapai 19,85 persen lebih sedikit dibanding jika nikel tersebut diolah menjadi vero nikel yang mencapai 79,60 persen dari total nilai ekpsor Sultra pada tahun 2019. Kemudian kontribusi kawasan Konawe cukup besar dalam upaya hilirisasi pertambangan,” jelasnya.

Baca Juga :  Kasubdit Pemulihan Dan Peningkatan Perumahan BNPB RI Kuker Di Tidore

Dalam kesempatan itu, Ali Mazi juga berharap kehadiran Industri pertambangan di Sultra membawa multiplier efeck yang dirasakan oleh masyarakat. Terlebih lagi, dalam waktu dekat VDNI dan OSS berencana mendirikan Politeknik di Konawe.

“Ini sangat luar biasa untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Sultra sehingga ilmu pengetahuan khususnya bidang pertambangan menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri ESDM, Arifin menyebutkan bahwa sampai tahun 2024 ada 48 smelter yang sementara dalam proses pembangunan.

“Cadangan nikel kita itu ada 21 juta ton. Nah, ini bisa bertahan sampai 30 tahun lebih. Kemudian, sekarang ini ada proses hidrometalogi yaitu proses yang bisa memproses nikel-nikel berkadar konsentrasi rendah. Waktu belum ada larangan ekspor, sulit untuk melakukan kontrol untuk konsentrasi nikel-nikel yang diekspor. Jadi kedepannya sudah akan dibagi untuk nikel kadar rendah ini akan diproses hidrometalogi. Nanti, kita harapkan kadar tinggi dicampur dengan kadar rendah sehingga bisa menambah kemampuan kita berproduksi,” katanya.

Reporter: Marwan Toasa

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :