oleh

Ratusan Jamaah Padati Pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Dusun Pattiro

Faktual.Net, Gowa- Sekitar 300 jamaah memadati Pelaksanaan shalat Idul Fitri 1 syawal 1441 Hijriah di mesjid Nurul Yaqim Rw Bonto marannu, dusun pattiro desa manimbahoi kecamatan parigi kabupaten gowa sulawesi selatan(Sulsel)


Lebaran tahun ini terasa sedikit berbeda bagi umat Islam yang ada di kecamata parigi khususnya di desa manimbahoi, karena adanya virus corona membuat mereka tak bisa shalat Idul Fitri yang biasanya dipusatka di lapangan

Mesjid yang berkapasitas sekitar 200 jamaah tersebut tak mampu menampung antusias masyarakat yang datang ke lokasi sehingga para jamaah terpaksa shalat di jalan dan halaman rumah warga yang berada di sekitar pelaksanaan shalat idul fitri

 


“Saat ini kita mendapat ujian dari Allah SWT dengan merebaknya wabah virus corona maka dari itu kami harus patuhi imbauan pemerintah dengan melaksanakan shalat ied di rumah masing-masing, namun mengingat kampung kita masih dalam kondisi zona hijau maka kami shalat di mesjid” ungkap Jafaruddin Sawing selaku ketua BPD desa manimbahoi Ahad 24 mei 2020

“Saya juga mengimbau kepada para jamaah untuk tetap memakai masker, dan meminta kepada warga untuk tidak menerima tamu apabila ada keluarga yang akan berkunjung dan berasal dari daerah yang di tetapkan zona merah” imbaunya

Baca Juga :  Penyaluran BLTDD Dinilai Dikriminasi, Warga Salah Satu Desa di Wakatobi Murka

“Di dusun pattiro terdapat 2 masjid namun kami koordinasi dengan kepala dusun dan iman dusun kami sepakat satu mesjid saja di gunakan makanya banyak warga tidak bisa shalat di dalam.”Tutup Daeng Sawing 

Baca Juga :  Usai Tikam Suaminya Lalu Istrinya Dibawa Lari, Penjual Semangka di Gowa Diburu Polisi


Adapun pelaksanaan shalat idul Fitri di pimpin imam mesjid nurul yaqim, Ahmad daeng Rola serta Khatib ustadz Ardan ibnu rahman

Dalam isi khutbahnya ustadz Ardan ibnu Rahman mengingatkan “Manusia adalah makhluk yang lemah, maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi”

“Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya.” Ungkapnya

Reporter : Anton

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :