Krisis Kecerdasan Spiritual Akar Perilaku Menyimpang Para Koruptor

136

Opini Ditulis Oleh: Muhammad Idris putra

Faktual.Net, Yogyakarta. Pekan ini pembentukan pansel KPK kembali menjadi topik perbincangan hangat masyarakat Indonesia. Regenerasi pimpinan kpk ini tentu diharapkan mampu meningkatkan kinerja KPK ke arah yang lebih baik lagi. Sejak awal dibentuk tahun 2002 silam, KPK sudah menjadi lembaga independent yang manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat terlepas dari semua kontroversi dan perdebatan di kalangan elit negeri ini. Akan tetapi, garangnya KPK tidak serta merta mampu menghabisi perilaku korupsi para pemangku kekuasaan.

Belum hilang panas diskusi soal arah baru KPK, publik kembali dihebohkan dengan penangkapan bupati Kudus Muhammad Tamzil dengan dugaan kasus suap jual beli jabatan.

Sebelum terjerat tangkap tangan KPK, Tamzil juga pernah tersandung kasus korupsi pengadaan sarana dan prasarana pendidikan Kabupaten Kudus
tahun 2004. Ia divonis 1 tahun 10 bulan oleh Pengadilan Tipikor Semarang dan bebas pada 2015.(CNN,30/7/19)

Menanggapi kasus tersebut, wakil presiden Jusuf Kalla menilai bahwa sampai saat ini Indonesia masih belum berhasil memaksimalkan pemberantasan korupsi. Korupsi yang dilakukan bupati Kudus secara berulang menjadi bukti tidak adanya efek jera terhadap ancaman pidana yang diberikan.

Jika ditinjau lebih jauh, Jawa tengah yang termasuk di dalamnya Kabupaten Kudus merupakan Provinsi yang mendapatkan apresiasi karena seluruh kepala daerahnya aktif diikutkan pelatihan anti korupsi di KPK. Akan tetapi masih tetap ada pejabat daerahnya yang tersandung kasus korupsi hingga berulang kali. Kasus bupati Kudus yang kembali tertangkap untuk kedua kalinya karena dugaan tindak pidana korupsi hanyalah satu diantara banyak kasus yang benar-benar menjadi pukulan telak bagi lembaga anti korupsi. Kemana efek hukum yang diberikan selama ini, apakah kurang maksimal hingga harus mewacanakan hukuman mati bagi koruptor ataukah ada faktor lain yang tidak bisa dituntaskan dengan sekedar ancaman hukuman pidana?

Mencegah Selalu lebih baik dari mengobati.

Mungkin kalimat singkat itu harus benar-benar mampu ditanamkan dalam upaya memberantas tindak kejahatan korupsi di negeri ini. Begitu banyak laporan KPK tentang keberhasilan OTT (Operasi tangkap tangan) para pejabat negeri. Akan tetapi, sangat jarang terdengar dalam setiap konferensi persnya KPK mengungkapkan tentang keberhasilannya dalam mencegah tindakan korupsi.

Melalui laman resminya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan mengajak pimpinan pengurus organisasi masyarakat (ormas) Islam dan Takmir Masjid untuk memperkenalkan nilai-nilai antikorupsi lewat media dakwah di lingkungan dakwah masing-masing.

Baca Juga :  Sumangaik Baru ? Untuk Sumatera Barat

Ajakan ini adalah salah satu indikasi bahwa ada masalah fundamental yang belum mampu dijangkau oleh KPK dalam upaya pencegahan korupsi di Negeri ini. Sehingga KPK ingin membangkitkan kesadaran berpikir melalui peran ormas islam dan agama lain. Jika berkaitan dengan kesadaran dan krisis moral, maka kembali kapada fitrah adalah solusinya. Sebab seseorang yang dalam dirinya selalu mampu manghadirkan upaya menjunjung tinggi nilai-nilai Ilahiah, maka akan sangat sulit untuk terjerumus dalam perilaku-perilaku menyimpang.

Pentingnya kecerdasan spiritual

Manusia dilengkapi tiga jenis kecerdasan utama dalam dirinya. Kecerdasan itu adalah kecerdasan intelektual (intellectual quotient). kecerdasan emosi (emotional quotient), dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient).

Kecerdasan Intelektual merupakan kemampuan intelektual, analisis, dan logika.  Banyak orang beranggapan bahwa kecerdasan intelektual adalah akar dari keberhasilan seseorang. Akan tetapi dalam kenyataannya begitu banyak orang-orang yang dianugerahi IQ tinggi, tetapi terpuruk menghadapi persaingan hidup. Sebaliknya, orang dengan kemampuan intelektual biasa-biasa saja justru sukses menjadi pemimpin di berbagai bidang. Inilah yang disebut kemampuan mengelola mental atau kecerdasan emosi (EQ). sedangkan kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang disandarkan pada nilai-nilai kebenaran dari sang pencipta. Kecerdasan spiritual merupakan fondasi keberhasilan mengelola kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi.

Jika dihubungkan dengan para pelaku kejahatan korupsi yang mayoritas memiliki prestasi dan latar belakang akademik yang tinggi, rasanya sangat tidak mungkin mereka dikatakan tidak memiliki kecerdasan intelektual. Begitupun dengan kecerdasan emosi. Para pelaku korupsi yang berlatar belakang pejabat publik tak perlu dipertanyakan lagi bagaimana kemampuan manajerial dan kualitas interaksi sosialnya. Tentu saja hal ini makin membingungkan bukan?. Mereka memiliki keduanya (IQ dan EQ) namun memanfaatkanya untuk hal yang merugikan diri sendiri, merugikan ummat, bahkan merugikan bangsa dan Negara.

Bagi umat beragama, moralitas semacam ini menjadi indikasi jauhnya seseorang dari nilai-nilai kehidupan agama yang mengajarkan perilaku bijak dan taat dalam setiap sendi kehidupan.

Krisis moral adalah masalah utama yang menjadikan intelektualitas dan kecerdasan emosi seseorang dapat kehilangan arah. Oleh karenanya manusia membutuhkan kecerdasan spiritual sebagai fondasi dan kontrol dalam mengelola IQ dan EQ yang dimilikinya. Adapun kiat-kiat memaksimalkan kecerdasan spiritual diantaranya adalah dengan terus memotifasi diri untuk mencari dan memperdalam ilmu agama, berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa semua yang ada di dunia ini hanyalah sementara dan Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan, serta senantiasa menyibukkan diri untuk hal-hal yang bernilai kebajikan.

Baca Juga :  Sumangaik Baru ? Untuk Sumatera Barat

Kecerdasan Spiritual dalam Islam

Kecerdasan spiritual dalam Islam sesungguhnya bukan lagi pembahasan yang baru. Filsuf terkemuka seperti imam Al Ghazali telah lama membahas hal ini. Kecerdasan spiritual dinilai paling mendasar dan memiliki peran besar dalam diri manusia karena berhubungan langsung dengan aspek ruhiah. Allah Azza wa Jalla menganugrahkan hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). Hal ini menunjukkan begitu eratnya hubungan kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual.

Jauhnya seseorang dari nilai-nilai ajaran  islam berpotensi merubah arah dan tujuan hidup. Tanpa dilandasi kecerdasan spiritual, manusia akan menjadi sangat liar sehingga dengan ringannya menggunakan kemampuan intelektual untuk sesuatu yang dapat mendatangkan mudharat baik bagi dirinya maupun orang lain.

Dengan demikian, kembali kepada fitrah islam dan berupaya memaksimalkan kecerdasan spiritual serta terus menghadirkan ketaatan pada hukum-hukum Allah dalam setiap aktifitas adalah solusi paling mendasar dari semua permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan ini.

Al-Quran secara tegas menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh yang merupakan kunci utama dalam mencapai puncak kecerdasan spiritual. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Ayat diatas menjelaskan bahwa tidak cukup dengan sekedar yakin. Ayat ini juga merupakan penegasan tidak adanya pilihan lain, masuk ke dalam Islam secara menyeluruh dengan mengakui dan melaksanakan ajarannya dalam setiap aspek kehidupan, atau hanya ada pilihan kedua, yaitu mengikuti langkah-langkah syaithan yang jelas-jelas akan menjerumuskan manusia kedalam kubangan kehancuran.

Menerapkan ajaran islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan adalah solusi paling efektif untuk meningkatkan kecerdasan spiritual. Hanya dengan ini kita dapat terhindar dari perilaku-perilaku menyimpang yang dapat mendatangkan kemudharatan baik dunia maupun akhirat.

Wallahu A’lam.

Penulis Adalah Seorang Mahasiswa Pasca Sarjana UGM Asal Sulawesi Tenggara

(Isi Opini Diluar Tanggungjawab Redaksi)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :