Kemiskinan Lingkungan Kian Marak

95

Faktual.Net, Jakarta. Kian maraknya berbagai bencana alam di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini dikuatirkan akan makin memperparah kondisi kemiskinan lingkungan (environmental poverty) dengan segala konsekuensi buruknya di tingkat lokal hingga global.

Kecemasan itu diungkapkan aktivis lingkungan Umi N. Kudori, Direktur Eksekutif “Yayasan Veganindo” (Veganindo Foundation), dalam percakapan khusus dengan Wa Ode Deli Yusniati dari Faktual.Net di Jakarta, kemarin.

Umi mendefinisikan ‘kemiskinan lingkungan’ sebagai langkanya lingkungan sehat yang dibutuhkan masyarakat untuk bertahan hidup dan melaksanakan pembangunan utamanya gara-gara terjadinya degradasi lingkungan akibat ulah manusia.

Ia mencontohkan perambahan hutan yang dilakukan para pemegang Hak Penguasaan Hutan (HPH) memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan, terutama pada musim kemarau.

Peristiwa ini sangat berkontribusi terhadap lenyapnya sumber air yang menjadi andalan utama kalangan penduduk yang bermukim di sekitar kawasan hutan, rusaknya lahan- lahan pertanian serta berbagai produksi kaum tani dan peternak, dan masih banyak lagi dampak mengerikan lainnya. “Semua ini menjadi faktor penyebab meningkatnya kemiskinan lingkungan,” ujar Umi.

Kasus dahsyat lainnya yang kini juga makin merajalela di tanah air ialah banjir bandang akibat perambahan hutan yang dilakukan para industri pertambangan maupun pengusaha kayu. Ribuan rumah terendam air dan puluhan ribu penduduk pun terpaksa mengungsi. Sebagian besar di antara penduduk ini, terutama yang bukan pegawai negeri dan pengusaha, akan berkubang dalam kemiskinan kronis. Ini adalah contoh konkret lainnya tentang realita kemiskinan lingkungan di Indonesia.

Petani Rumput Laut

Masalahnya, papar Umi Kudori, mereka yang terjebak dalam kemiskinan lingkungan itu akan lebih sulit ditanggulangi, apalagi oleh pemerintah. “Pasalnya, pemerintah hingga kini masih belum mampu mengidentifikasi masalah kemiskinan lingkungan itu secara memadai. Akibatnya, penanggulangannya pun menjadi kurang memadai pula,” tukas Umi yang pernah bertahun-tahun menjadi aktivis LSM di Hong Kong dan Singapura.

Dibanding jenis-jenis kemiskinan lainnya, yaitu kemiskinan struktural dan kultural, kemiskinan lingkungan jauh lebih kompleks dan membutuhkan penanganan khusus. “Namun kaum penderita kemiskinan lingkungan itu tidak pernah menikmati penanganan yang mereka butuhkan. Ini gara-gara ketidaktahuan atau pengabaian pemerintah terhadap masalah itu,” kritik Umi.

Salah satu bukti bahwa pemerintah tidak tahu atau abai, tegas Umi, ialah tidak tercantumnya masalah kemiskinan lingkungan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional Indonesia. Padahal, isyu kemiskinan lingkungan ini sangat konkret dan masif.

Akibatnya, masalah kemiskinan lingkungan itu semakin meluas dengan jumlah korban yang kian meningkat dan tak teratasi.

Lebih parahnya lagi, menurut penelitian Yayasan Veganindo dalam tiga tahun terakhir ini, ternyata kemiskinan lingkungan itu telah memicu merebaknya kemiskinan jenis lain yakni feminisasi kemiskinan (feminization of poverty). Ini adalah suatu fenomena di mana kaum perempuan mengalami tingkat kemiskinan yang jauh lebih parah dibanding kaum pria.

Isyu feminisasi kemiskinan ini, meski sangat konkret dan makin menyebar luas, namun juga tak tercantum dalam sistem perencanaan pembangunan di negeri ini.

Wa Ode Deli Yusniati

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :