Example floating
Example floating
Headline

Pemimpin Harus Hadir dan Beri Contoh Toleransi: Sekum PGIS Depok Soroti Ketiadaan Rumah Ibadah Umat Kristiani

×

Pemimpin Harus Hadir dan Beri Contoh Toleransi: Sekum PGIS Depok Soroti Ketiadaan Rumah Ibadah Umat Kristiani

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net  –  Depok, Jawa Barat – Tingkat toleransi antarumat beragama di Kota Depok, Jawa Barat, diklaim berada pada titik terendah di dua wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Sawangan dan Kecamatan Cimanggis. Hal ini ditandai dengan belum adanya satu pun bangunan rumah ibadah bagi umat Kristiani di kedua wilayah tersebut, padahal jumlah jemaatnya mencapai ribuan orang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Kota Depok, Mangaranap M. Sinaga, SE., MH., saat berbincang dengan awak media Faktual.net baru-baru ini. Menurutnya, fakta ini menjadi bukti nyata bahwa kebebasan beribadah dan toleransi masih menjadi persoalan serius yang harus diselesaikan bersama, terutama oleh pemerintah daerah.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

“Yang terendah masalah toleransi antarumat beragama di Depok ada di dua wilayah, yaitu Kecamatan Sawangan dan Kecamatan Cimanggis. Dari sekitar 9.000 umat Kristiani di kedua wilayah tersebut, tidak satu pun berdiri bangunan beribadah untuk mereka,” tegas Mangaranap dengan nada prihatin.

Ia menambahkan, kondisi di Kecamatan Sawangan memerlukan perhatian khusus. Dari data yang dihimpun, terdapat sekitar 7.000 umat Kristen yang berdomisili di sana, namun hingga kini belum memiliki tempat ibadah resmi. Bagi Mangaranap, situasi ini jauh dari makna toleransi yang sesungguhnya.

“Selain kedua wilayah tersebut, sejumlah wilayah lain pun masih mengalami kendala sulitnya mendirikan tempat ibadah. Dari sekitar 7.000 umat Kristen di Sawangan belum atau tidak ada tempat ibadah untuk mereka. Apakah hal ini bisa disebut sebagai wujud toleransi antarumat beragama?” tanyanya, menyoroti ketimpangan yang terjadi.

Mangaranap menegaskan, Depok memiliki visi besar sebagai kota yang bangkit dan menjunjung tinggi keberagaman. Namun, visi tersebut tidak akan tercapai jika persoalan dasar hak beribadah warga masih terabaikan. Ia meminta seluruh elemen, khususnya para pemimpin di pemerintahan maupun tokoh masyarakat, untuk turun tangan dan memberikan teladan nyata.

“Depok harus benar-benar menjadi kota toleransi. Pemimpinnya harus memberikan teladan dan contoh bagaimana seharusnya bertoleransi. Kebebasan beribadah menjadi persoalan yang patut diselesaikan, termasuk sulitnya perizinan pendirian rumah ibadah, khususnya gereja. Ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah kota, agar toleransi beragama yang sesungguhnya dapat terwujud,” ujarnya.

Harapan besar pun disampaikannya agar Depok benar-benar menjadi kota yang maju, damai, dan sejahtera dengan semangat kebersamaan.

“Harapannya, Depok sebagai kota yang bangkit dan penuh toleransi. Semua saling bergandengan tangan untuk satu tujuan, yaitu menuju Depok yang maju sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat,” tambahnya.

Baca Juga :  Dewan Pimpinan Pusat GRIB Jaya Klarifikasi Polemik GRIB Jaya dan Ahmad Bahar: Kami Korban Teror, Bukan Pelaku

Sekilas Profil Kecamatan Sawangan

Kecamatan Sawangan adalah salah satu wilayah di Kota Depok yang memiliki makna nama unik, yaitu berasal dari bahasa Sunda yang berarti “tempat melihat”. Konon, nama ini muncul karena secara geografis wilayah ini terletak lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya, sehingga sejak dulu dijadikan titik pandang ke arah sekelilingnya.

Sebelum Kota Depok terbentuk, Sawangan merupakan bagian dari Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Wilayahnya memiliki luas sekitar 46,7 km² dengan ketinggian 138 meter di atas permukaan laut dan topografi yang relatif datar.

Secara klimatologis, Sawangan memiliki suhu udara berkisar antara 24–27 °C, kelembapan udara rata-rata mencapai 82 persen, kecepatan angin rata-rata 3,2 knot, dan curah hujan tahunan sekitar 2.684 milimeter. Penggunaan lahan didominasi oleh kebun campuran dan pekarangan warga. Secara administratif, kecamatan ini membawahi tujuh kelurahan, yakni Bedahan, Cinangka, Kedaung, Pasir Putih, Pengasinan, Sawangan Baru, dan Sawangan, serta dikenal memiliki Terminal Sawangan sebagai salah satu pusat transportasi lokal.

Sekilas Profil Kecamatan Cimanggis

Sementara itu, Kecamatan Cimanggis terletak di sisi timur Kota Depok pada ketinggian sekitar 115 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 200,91 mm per tahun. Sejarah pembentukannya tidak terlepas dari dinamika wilayah administratif masa lalu, di mana wilayah ini merupakan pemekaran dari Kecamatan Gunungputri pada masa Kawedanan Jonggol. Wilayah ini pernah pula menjadi bagian dari Kawedanan Cibinong di distrik Cimpaeun, yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Tapos.

Dahulu, Cimanggis merupakan bagian dari sejarah Kabupaten Bogor (Buitenzorg), dan pembentukannya menjadi kecamatan berdiri sendiri beriringan dengan penetapan Depok menjadi Kota Administratif. Pada awal pembentukannya, pusat pemerintahan menempati kawasan sekitar Jalan Raya Bogor (sekarang lokasi UPTD Pemadam Kebakaran dan satu kompleks dengan Polsek Cimanggis), sebelum akhirnya pindah ke alamat sekarang di Jalan Radar Auri Nomor 15 sejak tahun 1986.

Wilayah ini memiliki sejarah penting sebagai lokasi sentral kegiatan Jambore Nasional dan kini membawahi enam kelurahan, yaitu Kelurahan Curug, Harjamukti, Cisalakpasar, Mekarsari, Tugu, dan Pasirgunung Selatan.

Kondisi geografis, sejarah, dan kepadatan penduduk di kedua kecamatan ini menjadi alasan mengapa ketiadaan rumah ibadah bagi ribuan umat Kristiani menjadi sorotan tajam, dan diharapkan segera mendapatkan solusi dari pemerintah Kota Depok demi menjaga keharmonisan warga.

Reporter: Sri Supraptiningsih

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit