Kapitalisme Biang Kerok Gejolak Papua

123
Ilustrasi (Sumber : Eduspenda)

Faktual.Net – Jakarta,CNN Indonesia. Aksi protes yang terjadi di sejumlah daerah di Papua Narat sejak Senin 19/8 di sebabkan karna mereka tidak terima ketika mahasiswa asal Papua mendapat perlakuan kurang mengenakan di Surabaya dan Malang.

Aksi turun ke jalan lalu dilakukan masyarakat Manokwari, Sorong dan Jaya pura melancarkan aksi protes. Sejumlah mobil dan bangunan rusak. Gelombang aksi protes belum sepenuhnya berhenti. Masyarakat Mimika dan Fak fak masih berunjuk rasa sampai Rabu 21/8.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengamini bahwa sejumlah aksi protes di Papua merupakan buntut peristiwa di Surabaya dan Malang dan diperparah oleh hoaks yang beredar di media sosial.

Namun, menurut mantan Cawapres Sandiaga Uno menganggap wajar jika masyarakat Papua marah karna ketimpangan ekonomi yang ada tergolong memprihatinkan. Sandi menyebut tingkat kemiskinan masyarakat Papua 8 kali lipat dibanding warga Jakarta. Padahal, daerah mereka begitu kaya dengan berbagai jenis sumber daya alamnya.

Sandi merujuk kepada Badan Pusat Statistik (BPS). Dia menyatakan angka kemiskinan di Papua meningkat hampir 60 ribu orang sejak tahun 2014 hingga 2018 jika di bandingkan dengan jumlah penduduk miskin di Jakarta yang hanya 3,5 persen. Jumlah penduduk miskin di Papua mencapai 28 persen dan di Papua Barat hampir 23 persen.

Sandi pun menegaskan bahwa kesejahteraan masih menjadi persoalan utama di Papua.
Menurutnya perlu ada perhatian serius. Dia yakin persoalan di papua bisa di selesaikan.
Hal ini pun diakui Staf Khusus Presiden kelompok kerja papua, Lenis Kogoya menilai persoalan insiden rasisme terhadap mahasiswa Papua menjadi momentum bagi warga papua untuk menyampaikan kemarahannya terhadap layanan pemerintahan di Papua dan Papua barat.

Akar Masalah

Papua adalah daerah Indonesia yang terkenal dengan kandungan kekayaan alamnya, mulai dari hasil perut buminya, minyak, hutan bahkan sampai keindahan alamnya. Tidaklah heran daerah ini menjadi incaran negara lain untuk dapat dikuasai. Terbukti kekayaan alam yang terkandung di bumi Papua hanya dirasakan oleh segelintir orang, bahkan asing.

Penduduk pribumi akhirnya gigit jari, dan ketika terjadi diskriminasi yang menyinggung rasisme orang Papua ini digunakan untuk menyampaikan rasa kekecewaan masyarakat Papua.

Sebenarnya ada beberapa masalah yang manyebabkan konflik papua, yaitu penyelesaian masalah pelanggaran HAM yang terjadi di Papua. Persoalan ini berlarut sejak orde baru hingga reformasi saat ini, kemudian terjadi kegagalan pembangunan dengan fakta yang terlihat dari kondisi kemiskinan yang semakin tinggi.

Kemudian masalàh selanjutnya adalah terkait sejarah politik Papua. konflik Papua adalah konflik di wilayah Papua, Indonesia diwali pada tahun 1961 muncul keinginan belanda untuk membentuk negara Papua Barat agar terlepas dari Indonesia. Langkah Belandà ini di lawan oleh presiden Soekarno dengan mendekatkan diri kepada negara komunis terutama Uni sofyet. Sikap Soekarno ini membuat takut Belanda dan presiden Amerika Serikat John f Kennedy. Ketakutan itu lalu membuat belanda mengambil sikap untuk menyarahkan masalah Papua ke PBB. Dari dan melalui PBB, Belanda mengambil sikap untuk keluar dari Papua tidak jadi mengambil, merebut dan menjajah Papua kemudian di serahkan kepada Indonesia dengan syarat memberi kesempatan kepada rakyat Papua untuk menentukan sikap sendiri (referendum). Penentuan Pendapat Rakyat/PEPPERA. Lewat Peppera inilah rakyat Papua memilih tetap dlm lingkungan RI. Namun, hari ini rakyat Papua merasa dizolimi dengan minimnya pembangunan yang belum
merata di daerahnya jika dibandingkan dengan hasil bumi yang dimiliki sangat berbanding
terbalik.

Namun yang paling berpengaruh terhadap gejolak Papua adalàh sistem kapitalis. Sistem inilah yang mencetuskan gerakan Papua merdeka. Bagi negara Kapitalis global, keberadaan Papua merdeka sangat cocok dengan strategi penjajahan mereka karena akan lebih leluasa menguras kekayaan Papua tanpa hambatan.

Di sisi lain, nampàk narasi yang mencuat dengan keinginan negara kapitalis global. Para perusuh dan aktifis kemerdekaan Papua tidak pernah mendapat stigma radikal apalagi teroris walau kenyataannya mereka membuat kerusakan dan kehancuran.

Islam Solusi Nyata

Papua merdeka adalah jalan lancar untuk penjajahan lebih masif dan sistematis. Hal ini semakin menguatkan bahwa memang ada Kapitalisme global dibalik aktifitas Papua merdeka. Salah satu upaya untuk melemahkan dan menguasai Indonesia adalah dengan dengan strategi pecah belah dan disintegrasi.

Di dalam Islam sikap disintegrasi ini sangat diharamkan. Islam selalu mengajarkàn persatuan dan kesatuan agar kita tidak mudah dipecah belah oleh pihak manàpun termasuk asing.

Olehya Islam sangat mewanti-wanti agar seluruh komponen bangsa, khususnya umat Islam di negeri ini harus selalu waspada terhadap makar dan pihak asing yang ingin memecah belah negeri ini. Kita harus sadar bahwa disintegrasi hanya akan semakin memperlemah negeri muslim terbesar ini. Kelemahan itulah yang diinginkan kafir pènjajah. Padahal Allah berfirman :“Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada kaum kafir untuk memusnahkan kaum mukmin”.
(QS Annisa:141).

Jadi jelas solusi keadilan Papua bukan dengan Papua merdeka tetapi dengan mengenyahkan negara kapitalis global plus cukong-cukongnya dari negeri Papua dengan ketegasan agar Papua tidak lagi terjajah.

Solusi selanjutnya adalah dengan menerapkan kebijakan yang benar-benar membawa kekayaan melimpah di Papua menjadi milik rakyat Papua dan didistribusikan secara adil tanpa memandang ras, suku, maupun agama. Hanya Islam yang mampu menyelesaikannya dengan sederet hukum tegas yang di miliki akan menuntaskan madalah Papua yang berkepanjangan.

Wallahu A’lambi Bisshawab

(Opini Di Luar Tanggung Jawab Redaksi)


Di tulis Oleh : Sulatri (Seorang Pemerhati Umat, Konda)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :