Example floating
Example floating
Tokoh

Dari Perantauan yang Keras Menjadi Gembala — Kesaksian Hidup Penuh Penyertaan Tuhan dari Pdt. Bambang

×

Dari Perantauan yang Keras Menjadi Gembala — Kesaksian Hidup Penuh Penyertaan Tuhan dari Pdt. Bambang

Sebarkan artikel ini

Faktual.net – JAKARTA TIMUR, Minggu 16 Agustus 2026 — Ibadah Minggu di Jemaat Spot of God, Gereja Allah Baik Jakarta Timur, diberkati dengan kesaksian hidup yang luar biasa dari Gembala Jemaat, Pendeta Akang. Dengan tulus dan sederhana, beliau membagikan perjalanan hidupnya — dari seorang perantau yang tak memiliki apa-apa, hingga mengalami kesetiaan Tuhan yang menuntunnya langkah demi langkah.

Pdt. Bambang bercerita bahwa sejak muda ia merantau ke Jakarta pada tahun 1984, bekerja di bengkel kecil, dan pernah hidup di tempat-tempat yang sangat rawan — hingga ke pedalaman Sumatera di mana premanisme begitu kuat, bahkan aparat keamanan pun mengakui bahayanya. Pernah suatu kali ia turun di Muara Bungo pada tengah malam karena salah naik bus, nyaris terancam bahaya, dan hanya diselamatkan berkat kedatangan kepolisian. “Kehidupan yang begitu keras mengajar saya satu hal: kalau dihadapi dengan amarah, kita pasti hancur. Tapi dihadapi dengan lembut dan iman, Tuhan yang akan membelanya,” ungkapnya.

Di masa-masa paling sulit, dengan penghasilan yang sangat kecil, ia belajar satu prinsip hidup yang mengubah seluruh jalannya masa depan: mengatur apa yang Tuhan berikan dengan setia dan bertanggung jawab. Walaupun penghasilannya terbatas, makan pun harus diatur — kadang hanya nasi goreng tepung terigu — ia tetap belajar menabung, hidup hemat, dan tidak memboroskan apa yang dipercayakan kepadanya. Prinsip sederhana ini menjadi fondasi yang Tuhan pakai untuk membangun hidupnya selanjutnya.

Ketika ia mengenal Tuhan dan bertobat pada tahun 1998, Firman Tuhan yang mengubah hidupnya secara mendasar adalah Lukas 16:10 — “Barangsiapa dapat dipercaya dalam hal yang paling kecil, ia juga dapat dipercaya dalam hal yang besar.” Dari sanalah ia memahami bahwa kesetiaan dalam hal-hal kecil — termasuk mengatur uang, makan, dan kebutuhan sehari-hari — adalah tempat Tuhan mulai menyiapkan kita untuk tugas-tugas yang lebih besar.

Meskipun hidupnya sederhana, bahkan pernikahan pun tidak dirayakan karena tidak memiliki biaya, ia tetap belajar memberi persembahan dan persepuluhan dengan setia — bahkan ketika yang ia miliki sangat sedikit. Setiap hari ia menyiapkan sembako sederhana senilai Rp15.000 untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, dan tetap setia membayar persepuluhan. “Bukan karena saya kaya, tapi karena saya percaya Firman Tuhan. Memberi bukan soal banyaknya, melainkan soal hati yang taat,” tegasnya.

Kesetiaan itu Tuhan pakai untuk menuntun langkahnya naik demi langkah. Dari anggota komunitas, ia dipercaya menjadi pengurus, lalu diangkat menjadi wakil pimpinan, hingga akhirnya dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar. Semua itu bukan karena kekuatannya sendiri, melainkan karena kesetiaan yang Tuhan lihat dalam hal-hal kecil.

Di akhir kesaksiannya, Pdt. Bambang mengajak seluruh jemaat memahami satu kebenaran yang mendalam: pertumbuhan rohani dan pertumbuhan iman tidak hanya terjadi ketika kita mendengarkan Firman, melainkan ketika kita melakukan Firman Tuhan — dalam hal-hal kecil, dalam pengelolaan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, dan dalam kesetiaan sehari-hari. “Tuhan tidak melihat seberapa besar yang kita berikan, tetapi seberapa tulus dan setia hati kita yang melakukannya. Dia yang memegang masa depan kita, Dia yang menuntun langkah kita — dari yang kecil menjadi besar, dari yang lemah menjadi kuat, semata-mata karena kasih karunia-Nya,” tutupnya dengan penuh syukur.

Reporter: Johan Sopaheluwakan – Pattinasarany / Nikolas 

Tanggapi Berita Ini