oleh

IMM Dan Tantangan Zaman di Era Disrupsi

Faktual.Net, Kendari, Sultra – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Lebih dari setengah abad usianya, yang didirikan pada tahun 1964 yang bertempat di Yogyakarta.

Hanya ada satu ideologi di IMM ini, yakni Dahlaniyah. Mengadopsi dari gerakan-gerakan serta pemikiran KH. Ahmad Dahlan dengan patokan Al-Qur’an dan sunah.

IMM didirikan karena dengan alasan dua faktor yaitu, untuk menjawab tantangan zaman yang mencerahkan umat dalam melawan kebodohan dan meluruskan kiblat bangsa saat pergolakan pengaruh paradigma ideologi sekulerisme (PKI).

Dengan memahami lebih jauh mengenai disrupsi tentunya telah memiliki bekal untuk tetap terus menjaga eksistensi di era seperti saat ini.

Era Disrupsi yakni, kondisi dimana terjadinya inovasi yang menyebabkan perubahan secara besar-besaran atau mendasar ke dalam sistem yang baru atau berubahnya tatanan lama ke arah yang baru membawa dampak yang cukup serius.

Dalam sebuah organiasi, tentunya merupakan tantangan yang cukup berat dimana organisasi harus melakukan inovasi secara terus-menerus agar dapat tetap relevan dengan perubahan zaman.

Oleh karena itu, sangat diperlukan strategi yang tepat terkait dengan langkah-langkah organisasi dalam menghadapi persaingan di era seperti saat ini.

Tentunya era disrupsi memiliki dampak yang cukup signifikan bagi organisasi dari Perubahan teknologi ke arah yang semakin canggih di satu sisi membawa kemudahan-kemudahan baru bagi organiassi dalam menjalankan misi ideologinya.

Harus bisa beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Untuk mlakukan transformasi digital organiasi mahasiswa yang telah memanfaatkan teknologi digital agar mampu bertahan di era disrupsi saat ini untuk menggunakan berbagai teknologi untuk menunjang pendidikan inteletual agar tetap relevan terhadap perubahan zaman.

Fenomena saat ini Indonesia berada di pusaran revolusi 4.0 atau zaman serba digital yang akan menjelang zaman tantangan baru yaitu society 5.0 atau menyosong smart Masyarakat 5.0 yang artinya integrasi melalui dunia maya ke dunia nyata berbasis teknologi, yang dicetuskan melalui pemerintah Jepang.

Revolusi industri 1.0 ditandai oleh penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan.

Revolusi industri 2.0 melalui penerapan konsep produksi massal dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik. Revolusi industri 3.0 ditandai dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri.

Selanjutnya revolusi industri 4.0, menjadi lompatan besar bagi sektor industri, di mana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Namun, seiring berkembangnya waktu Revolusi Industri 4.0 yang dibarengi berkembangan era disrupsi, tiba-tiba kita dikejutkan dengan munculnya Society 5.0.

Ditengah arus global dan hadirnya era Disrupsi Inovasi yang semua dituntut serba cepat, efektif, solutif.

Kita hadir ditengah era yang sangat maju dan berkembang dalam segala bidang sosial-ekonomi budaya dan politik yang membuat persaingan nasional-global yang sangat kompetitif.

Pengguliran zaman ini akan menjadi persoalan fundamental bagi Kader-kader IMM, agar bersiap melakukan gerakan perubahan, demi menyambut era disrupisi berganti.

Untuk itu, kita mengobarkan semangat dedikasi yang tinggi dalam memberikan ide dan gagasan untuk mengamalkan nilai-nilai dasar perjuangan, agar tetap eksis menuju society 5.0 yang berorientasi pada teknologi yang kongkrit.

Soal intelektual digital kader, harus diasah dengan gerakan literasi dari teks tual ke ke kontekstual, sehingga mampu membaca dan menjawab kondisi tantangan zaman.

Atas dasar itu, kita mengunakan teknologi komunikasi sebagai sarana media pembelajaran agar tidak gagap kedepannya.

Kita harus mengisi ruang-ruang gerakan dan berbeperan aktif dalam mengembangkan karya digital dan karya nyata sebagai tranformasi gerakan.

Kita terus berusaha sekuat mungkin untuk upgrade skill serta mendorong, menata dan memperbaiki kapasitas kader. Agar lebih mumpuni dan layak dalam menghadapi era disrupsi.

Dalam menjelang masa society 5.0 ini, kita dituntut untuk dapat lebih merekonstruksi spirit pergerakan agar memiliki kemampuan memecahkan masalah kompleks, berpikir maju, kritis, kreativitas dan inovasi baru untuk menjawab tantangan zaman kedepannya.

Perlu adanya gerakan pembaharuan menuju revolusi yang besar seperti yang di Cita-citakan founding father IMM Djazman Al-Kindi Dkk.

Agar memberikan terobosan baru dan memberikan contoh yang terbaik pada regenerasi mendatang. Agar tidak mengalami degradasi atau stagnan.

Berangkat dari hal itu, kita menyikapi perkembangan zaman dan menyiapkan strategi, konsep berpikir maju untuk menciptakan kualitas dan pontensi kader yang sesuai dengan basic keilmuan masing-masing untuk berkontribusi pada ikatan, bangsa dan negara, demi menyambut pergantian era revolusi 4.0 ke-5.0 yang mencerahkan.

Sejatinya IMM dilahirkan untuk menjawab tantangan zaman dan sebagai wadah menumbukan tardisi intelektual mahasiswa, sehingga melatih para kadernya membaca (iqra), berdiskusi dan menulis. Agar semakin tajam dalam menganalisis realitas sosial untuk menjawab tantangan dalam menjelang zaman era society 5.0.

Selain hal itu, IMM juga memiliki Trilogi Gerakan, yaitu Spiritulitas, Humanitas dan Intelektualitas yang harus diwujudkan, berdasarkan trilogi gerakan tersebutlah sehingga IMM harus tampil sebagai gerakan kemahasiswaan yang berpihak pada kepentingan berorientasi pada aspek akademis, spiritualis dan society (Altruisme).

Semua itu, hanya dapat tercapai jikalau IMM mampu membaca kondisi kekinian mahasiswa zaman sekarang dan yang akan datang.

Dilain sisi kita harus mampu berpikir futuristis jika tak ingin kehilangan arah dalam percaturan lembaga kemahasiswaan khususnya di kampus-kampus PTN/PTM.

IMM tidak boleh memasung dirinya dalam Muhammadiyah tapi harus mampu melakukan revitalisasi maupun rekonstruksi gerakan dalam rangka memberikan sumbangsih dalam upaya membangun peradaban yang lebih baik dan berkeadilan sosial, sehingga melahirkan kader yang kompetitif, kreatif dan inovatif.

Kader-kader IMM harus senantiasa dipertahankan peran intelektualnya. Agar tidak terjerumus pada perkembangan zaman yang sifatnya tidak mendidik dan merusak moral.

Penulis: Eks. Ketua Umum Pikom IMM Fisip Universitas Haluo Oleo Kariadi.

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :