Example floating
Example floating
Opini

Partai Kristen: Antara Ambisi dan Konsistensi

×

Partai Kristen: Antara Ambisi dan Konsistensi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Yusuf Mujiono
(Ketua Umum Pewarna Indonesia)

Faktual.net – Jakarta Barat, DKI Jakarta – Menjelang penyelenggaraan pemilihan umum, seringkali kita melihat fenomena bermunculannya partai-partai politik yang bernafaskan keagamaan, termasuk yang berbasis pada nilai-nilai Kristen. Hal ini sebenarnya adalah langkah yang wajar dan logis, mengingat umat Kristen merupakan kelompok agama terbesar kedua di Indonesia.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Sebagai warga negara, umat Kristen tentu membutuhkan wadah atau “rumah politik” sendiri yang memiliki visi dan misi jelas untuk memperjuangkan aspirasi serta kepentingan mereka dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara. Singkatnya, ini adalah upaya mewujudkan kedaulatan politik bagi umat tersebut.

Secara konsep, upaya ini tidaklah salah. Namun, pada tataran realitas, kegagalan demi kegagalan terus berulang. Partai berbasis Kristen terakhir yang berhasil bertarung di kancah pemilu nasional adalah Partai Damai Sejahtera (PDS) pada tahun 2009. Setelah itu, meski banyak upaya pembenahan maupun pendirian partai baru, hasilnya masih jauh dari harapan.

Padahal, secara hitungan matematika pemilih, seharusnya ada setidaknya satu partai yang mampu lolos dan menjadi representasi aspirasi umat di parlemen. Lantas, di mana letak persoalannya? Jawabannya terletak pada konsistensi yang masih sangat lemah.

Fenomena yang terjadi sering kali adalah partai-partai ini hanya “muncul” saat musim pemilu tiba. Jika gagal lolos verifikasi atau tidak menjadi peserta pemilu, organisasi tersebut seolah “tidur panjang” dan nyaris mati suri hingga mendekati jadwa pemilu berikutnya.

Padahal, konsistensi adalah kunci utama untuk mengubah kebiasaan menjadi karakter dan mencapai tujuan jangka panjang. Membangun partai politik bukanlah pekerjaan instan yang bisa selesai dalam waktu singkat. Konsistensi dibangun mulai dari hal-hal kecil yang dilakukan rutin, kemudian ditingkatkan secara bertahap, fokus pada rencana yang realistis, dan diulang terus-menerus.

Sayangnya, orientasi yang ada sering kali hanya mengejar hasil cepat. Ada anggapan seolah hari ini mendirikan partai, besok sudah bisa memanen hasil. Padahal, membangun partai politik membutuhkan waktu yang panjang, ibarat membangun sebuah negara. Mustahil hal itu bisa terwujud hanya dalam hitungan lima tahun. Kalau pun ada yang bisa secepat itu, itu hanyalah dongeng seperti legenda Bandung Bondowoso yang membuat candi dalam semalam, bukan kenyataan yang bisa diraih secara logis dan berkelanjutan.

Membangun Konsistensi: Bagaimana Caranya?

Pertanyaannya kemudian, bagaimana konsistensi ini bisa dibangun dan dijaga? Ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:

1. Keselarasan Visi dan Aksi
Partai wajib menunjukkan kesesuaian antara apa yang tertulis dalam visi, misi, dan slogannya dengan tindakan nyata di lapangan. Jangan sampai ada jarak antara ucapan dan perbuatan.

2. Kolektivitas dalam Membangun Citra
Konsistensi tidak boleh hanya bertumpu pada figur ketua atau pimpinan semata, melainkan harus menjadi budaya kerja kolektif seluruh pengurus dan anggota dalam mencitrakan partai sebagai organisasi yang kredibel.

3. Fokus pada Ideologi dan Pondasi Kuat
Menurut Reza M. Syarief (2005), konsistensi berarti fokus pada satu bidang atau basis pemilih, dan tidak mudah berpindah-pindah sebelum pondasi ideologi tersebut benar-benar kokoh dan kuat.

4. Keberanian Mengambil Risiko
Konsistensi menuntut keberanian untuk mengambil keputusan yang benar secara prinsip, meskipun terkadang berisiko secara elektoral atau politik. Prinsip harus di atas kepentingan sesaat.

5. Keberlanjutan Komunikasi Organisasi
Di luar musim pemilu, komunikasi internal harus tetap berjalan efektif, sistematis, dan terus menerus untuk menjaga soliditas struktur organisasi.

6. Kepatuhan terhadap Aturan Main
Menunjukkan konsistensi dalam mematuhi undang-undang dan peraturan yang berlaku adalah wujud nyata komitmen terhadap sistem demokrasi.

Berangkat dari konsistensi itulah, tujuan untuk mewujudkan partai politik Kristen yang kuat dan lolos sebagai peserta pemilu akan tercapai. Jangan hanya menjadi “partai musiman” yang hadir saat ada pemilu saja. Terlepas dari lolos atau tidaknya dalam verifikasi, gerak organisasi harus terus berjalan sebagai bukti bahwa kehadiran partai tersebut adalah sebuah kebutuhan, bukan sekadar formalitas.

Memang, ini membutuhkan perjalanan panjang dan proses yang tidak instan. Namun, faktor manusia juga sangat menentukan. Jangan sampai belum menjadi apa-apa, sudah lupa diri dan enggan menerima masukan. Semoga ke depan lahir partai yang benar-benar siap dan konsisten memperjuangkan aspirasi rakyat. (Red/ JS)

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit