Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
BeritaDaerahOpini

Jalan Panjang Industri Pengolahan Ikan Tuna di Sulawesi Tengah

×

Jalan Panjang Industri Pengolahan Ikan Tuna di Sulawesi Tengah

Sebarkan artikel ini
Oleh : Irmawan syafitrianto, S.Pi.,M.P

Faktual.Net,Palu,Sulawesi Tengah – Industri pengolahan ikan tuna di Sulawesi Tengah bukan sekadar cerita tentang ikan yang ditangkap dari laut, kemudian dijual dan dikonsumsi. Di baliknya ada perjalanan panjang yang melibatkan nelayan, pelaku usaha, pengolah, tenaga kerja, pemerintah, hingga pasar nasional dan internasional.

Sulawesi Tengah memiliki modal besar untuk menjadi salah satu wilayah penting dalam industri tuna. Laut yang luas, potensi sumber daya ikan, serta keberadaan sentra-sentra perikanan menjadi fondasi yang kuat. Namun, potensi saja tidak cukup. Tantangan terbesar justru bagaimana ikan yang dihasilkan dari laut dapat memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Pasang Iklanmu
Pasang Iklanmu

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut terjadi pada tahun 2021, ketika untuk pertama kalinya dilakukan ekspor tuna segar sebanyak 500 kilogram dari Sulawesi Tengah menuju Jepang. Jumlah tersebut mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan potensi sumber daya tuna yang dimiliki Sulawesi Tengah. Namun, dari sudut pandang pembangunan industri, 500 kilogram itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar angka.

Ekspor perdana tersebut sekaligus menjadi sebuah pesan bahwa Sulawesi Tengah mampu melangkah dari daerah penghasil menuju daerah yang mampu memasok produk perikanan ke pasar global.

Namun, ekspor perdana bukanlah garis akhir. Justru, itu adalah titik awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang.

Perjalanan tersebut kemudian menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 186 kali pengiriman ekspor dengan total volume mencapai 68,86 ton dan nilai ekonomi sebesar USD 468.871. Angka ini menunjukkan bahwa tuna Sulawesi Tengah tidak lagi sekadar berbicara tentang satu pengiriman perdana, tetapi mulai tumbuh menjadi aktivitas perdagangan yang lebih rutin dan memiliki nilai ekonomi yang semakin nyata.

Perkembangan tersebut berlanjut pada periode Januari hingga Agustus 2026. Dalam kurun waktu hanya delapan bulan, tercatat 159 kali pengiriman ekspor dengan volume mencapai 47,2 ton dan nilai sebesar USD 272.636. Data ini memperlihatkan bahwa aktivitas ekspor tuna Sulawesi Tengah tetap bergerak dan menunjukkan intensitas pengiriman yang cukup tinggi.

Jika dibandingkan dengan capaian sepanjang tahun 2025, 159 kali pengiriman hanya dalam periode Januari–Agustus 2026 menunjukkan bahwa pasar ekspor tuna Sulawesi Tengah terus memiliki peluang untuk berkembang. Angka tersebut juga menjadi sinyal bahwa keberlanjutan industri tidak hanya ditentukan oleh besarnya volume, tetapi juga oleh kemampuan menjaga konsistensi mutu, kontinuitas pasokan, dan kepercayaan pasar.

Di balik angka 159 kali pengiriman, 47,2 ton volume, dan USD 272.636 nilai ekspor, terdapat kerja panjang para nelayan, pelaku usaha, tenaga pengolahan, eksportir, pemerintah, serta seluruh mata rantai yang menjaga kualitas tuna sejak dari laut hingga sampai ke tangan konsumen.

Angka-angka tersebut memberikan sebuah perspektif penting: membangun industri tidak terjadi dalam semalam. Ia tumbuh melalui proses, pengalaman, pembenahan, pemenuhan standar, peningkatan kepercayaan pasar, dan konsistensi menjaga mutu.

*Peran Pemerintah Menjaga Mutu dari Hulu hingga Hilir*

Dalam perjalanan panjang tersebut, pemerintah memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa produk perikanan yang dihasilkan tidak hanya tersedia dalam jumlah yang cukup, tetapi juga memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan jaminan kualitas yang dipersyaratkan pasar.

Melalui Sinergi Apik antara Badan Mutu Palu- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama instansi terkait, dan pemerintah daerah, pembinaan, pengawasan dan sertifikasi dilakukan sepanjang rantai proses, dari hulu hingga hilir.

Baca Juga :  Siap Bongkar Dalang Teror Pembunuhan di Desa Korup, Film "Lobang Buaya" Rilis Trailer dan Poster Menuju Tayang 1 Oktober

Di sisi hulu, jaminan mutu dimulai dari bagaimana ikan ditangkap dan ditangani. Sertifikasi Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) di atas kapal menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan ikan ditangani secara higienis dan mempertahankan mutu sejak pertama kali diangkat dari laut.

Perjalanan kemudian berlanjut ke unit pengolahan. Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa proses pengolahan hasil perikanan dilaksanakan pada unit yang memenuhi persyaratan sanitasi, higiene, dan kelayakan pengolahan.

Lebih jauh, penerapan dan sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) menjadi instrumen penting dalam menjamin keamanan pangan melalui pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan mencegah potensi bahaya pada tahapan proses yang kritis.

Dengan demikian, sertifikasi bukan sekadar dokumen administratif. Sertifikasi adalah bagian dari upaya membangun kepercayaan. Kepercayaan nelayan terhadap sistem, kepercayaan pelaku usaha terhadap pendampingan dan pengawasan pemerintah, dan terutama kepercayaan konsumen serta negara tujuan ekspor terhadap mutu dan keamanan produk perikanan Indonesia.

Bagi industri tuna Sulawesi Tengah, keberadaan sistem jaminan mutu dari hulu hingga hilir menjadi semakin penting ketika orientasi pasar diarahkan ke pasar internasional. Sebab, pasar global tidak hanya bertanya berapa banyak tuna yang dapat kita kirim, tetapi juga seberapa konsisten kita mampu menjamin mutu dan keamanan tuna tersebut.

Karena itu, pemerintah dan pelaku usaha harus berjalan beriringan. Pemerintah melalui fungsi pembinaan, pengawasan, sertifikasi, dan penjaminan mutu; sementara pelaku usaha memastikan standar tersebut diterapkan secara konsisten dalam kegiatan operasional sehari-hari.

*Dari Komoditas Menjadi Nilai Tambah*

Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga keberlanjutan ekspor, meningkatkan volume dan kualitas produk, memperkuat rantai dingin, meningkatkan kapasitas industri pengolahan, serta memastikan bahan baku tersedia secara konsisten. Yang tidak kalah penting, bagaimana aktivitas tersebut memberikan manfaat nyata bagi nelayan dan masyarakat pesisir.

Industri pengolahan tuna membutuhkan rantai dingin yang kuat, pelabuhan dan logistik yang memadai, kontinuitas bahan baku, teknologi pengolahan, sumber daya manusia yang kompeten, serta penerapan standar mutu dan keamanan pangan yang konsisten. Tantangan tersebut harus dijawab secara bersama-sama, karena satu mata rantai yang lemah dapat memengaruhi keseluruhan industri.

Di sisi lain, tuntutan pasar juga semakin tinggi. Konsumen tidak hanya melihat harga, tetapi juga kualitas, keamanan pangan, ketertelusuran, keberlanjutan, dan kepatuhan terhadap standar. Artinya, masa depan industri tuna Sulawesi Tengah tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Kita harus meningkatkan kualitas dari hulu sampai hilir.

Karena itu, jalan panjang industri pengolahan tuna bukan hanya tentang membangun pabrik. Ini adalah tentang membangun sebuah ekosistem.

Ekosistem yang mempertemukan nelayan dengan industri, pemerintah dengan pelaku usaha, teknologi dengan sumber daya manusia, serta potensi laut dengan pasar global. Semua harus bergerak dalam arah yang sama.

Jika hal tersebut dapat diwujudkan secara konsisten, maka Sulawesi Tengah tidak hanya menjadi daerah penghasil tuna. Lebih jauh, Sulawesi Tengah dapat tumbuh sebagai pusat industri pengolahan tuna yang memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan nelayan, dan memperkuat posisi perikanan daerah di pasar nasional maupun global.

Jalan itu mungkin panjang. Tetapi setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah.

Semoga perjalanan panjang ini terus berlanjut, dari laut Sulawesi Tengah, dengan jaminan mutu dari hulu hingga hilir, menuju pasar dunia.

Penulis: Irmawan syafitrianto, S.Pi.,M.P (Inspektur Mutu Pada Badan Mutu KKP Palu) | Editor: Handri.

 

 

Tanggapi Berita Ini