Moral Generasi Diambang Kehancuran

128
Dewi Sartika (Pemerhati Umat)

Oleh : Dewi Sartika

Faktual.Net, Sultra. Dalam sejarah peradaban bangsa, generasi pemuda adalah aset yang mahal dan tak ternilai harganya. Kemajuan, maupun keburukan juga sangat bergantung oleh pemuda yang menjadi tokoh utama dalam peranannya  melakukan suatu perubahan. Ada ungkapan dalam bahasa Arab “Syubbanul Al-yaum rijalu al-ghaddi” artinya “pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang”.

Namun, pemuda yang terkungkung dalam sistem kapitalis dan mengadopsi kebebasan ( liberalisme) akan jauh dari harapan untuk dapat melakukan perubahan. Akan tetapi, mereka justru akan cenderung melakukan perbuatan yang merugikan.

Sebagaimana berita yang beredar, seorang gadis berinisial YS diamankan jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Perempuan berusia 26 tahun asal Pontianak ini ditangkap setelah membobol bank sebesar Rp 1,85 milyar lewat sebuah game online mobile Legends. (viva.co.id)

YS merupakan seorang gamer online Mobile Legends. Wakil Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Ade Ary Syam mengatakan, perempuan muda asal pontianak, Kalimantan Barat itu membobol bank untuk membeli peralatan yang ada di mobile legend, namun tidak menggunakan uangnya. YS menggunakan e-voucer cheat sehingga uang yang ada diakunnya tidak berkurang. (viva.co.di)

Jika kita mengamati kejadian YS, ini sudah menjadi bukti nyata bahwa permainan game online memiliki dampak buruk. Sehingga, membuat orang jadi nekat untuk melakukan hal-hal yang merugikan.

Dengan uang sebanyak itu, YS tidak menggunakannya untuk keperluan lain, Sseperti pemenuhan kehidupannya yang layak, melainkan khusus untuk membeli peralatan yang ada di Mobile Legends yang telah membuat dia tercandu.

Mobile Legends adalah salah satu game online yang menimbulkan ketagihan, serta merangsang insting untuk mempertahankan diri.Sehingga, penggunanya berupaya untuk naik ke level selanjutnya dan begitu seterusnya.

Dan dari kasus pembobolan bank yang dilakukan oleh YS, terbukti bahwa game online adalah aktivitas yang rusak dan merusak. Selain itu, Mobile Legends merupakan game online yang menyuguhkan dampak negatif bagi penggunanya.

Dampak negatif utama yang ditimbulkan adalah kecanduan dalam bermain game, berbicara hal yang kasar dan juga kotor, serta membuat pekerjaan di dunia nyata menjadi terbengkalai.

Berkaca dari tindak kriminal atas nama game online tersebut, seharusnya ada langkah strategis dari pemerintah untuk mencegah kriminalitas   selanjutnya.

Akar masalah

Kita bisa lihat disini bahwa pola pikir kapitalis liberalisme telah menjadi tolak ukur dalam kehidupan para generasi muda. Ibarat penyakit, ia menyerang generasi muda kita, dan kondisinya pun sudah kronis, serta cepat dicarikan solusi untuk menyembuhkanya. Permasalahan yang membelenggu generasi kita tidak luput dari tiga faktor, yakni:

Pertama, Orang Tua. Ia sebagai rujukan pertama dan utama bagi anak-anaknya, orang tualah yang dituntut untuk menanamkan pendidikan keimanan, membangun ketaatan pada agama, serta memberikan keteladanan mulia pada anak-anaknya. Namun, kondisi orang tua saat ini yang notabene orang tua karir melalaikan semua itu. Mereka sibuk mencari nafkah dunia, sehingga anak menjadi kurang perhatian dan melampiaskanya pada hal-hal yang tidak bermanfaat seperti game online. Begitupun orang tua tidak sepenuhnya mampu  mengontrol penggunaan gadget pada anaknya.

Baca Juga : Umat Dilarang “Bersuara”, Wajah Demokrasi Tercoreng!

Kedua, Masyarakat. Dia sebagai salah satu sekolah besar bagi generasi, berperan melakukan kontrol sosial, mencegah berbagai tindakan kriminal yang menyalahi norma agama. Tetapi saat ini, masyarakat cenderung abai terhadap masalah-masalah yang terjadi pada generasi muda. Ini disebabkan sikap individualisme yang bercokol di tengah-tengah masyarakat telah tertanam dalam diri masyarakat saat ini. Sehingga mereka melupakan peran mereka sebagai pengontrol sosial.

Ketiga, Negara. Dia adalah pihak yang berperan besar melindungi generasi, menerapkan berbagai kebijakan yang dapat menyelamatkan generasi muda dari kerusakan. Namun pada faktanya saat ini, negara terkesan Abai dan lepas tangan terhadap urusan generasi,  justru secara tidak langsung mereka memasukkan generasi muda ke dalam lembah jurang kerusakan, dengan dalih kebebasan.  Kebebasan yang tanpa memandang agama tersebut menciptakan gaya hidup pemuda yang bablas. Ditambah lagi, negara terlena akan bujuk rayu kaum sekuler yang memberikan keuntungan bagi segelincir orang untuk melindungi kebebasan yang sejatinya merusak generasi muda bangsa. Potensi generasi muda yang mampu mengubah dunia menjadi lebih baik kini telah mati, karena sistem demokrasi sekuler yang telah menjauhkan generasi muda dari aturan sang pencipta.

Islam Solusi Terbaik

Islam adalah agama yang sempurna. Dari dalamnya terpancar peraturan yang dapat menyelesaikan seluruh problematika kehidupan. Untuk itu Islam memberi perhatian besar pada para generasi muda sejak dini, di masa lalu banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat. Pada masa Khalifah, para generasi muda diberikan perhatian yang sangat besar.

Islam memiliki solusi tuntas dalam masalah kerusakan moral generasi. Pertama, Pendidikan dini oleh Keluarga.  Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan  “Ajarkanlah kepada anak-anakmu salat, ketika mereka berusia 7 tahun”

Dimasa lalu, keluarga menjadi madrasah pertama bagi putra putrinya. Mereka mendampinggi tumbuh kembang anaknya dengan baik, orang tua, terutama seorang ibu tidak pernah melepaskan tanggungjawabnya sebagai Ummu wa Rabatulbai (Ibu dan pengatur rumah tangga). Mereka (orang tua) membiasakan anaknya untuk mengerjakan shalat, puasa, zakat, infaq hingga berjihad. Sehingga anak tumbuh menjadi generasi yang beradab.  Seperti sosok Abdulan bin Zubair, yang terkenal sebagai kesatria pemberani. Dia  tidak lepas dari didikan orang tuanya, Zubair bin al Awwam dan Asma binti Abu Bakar. Abdulah bin Zubair sudah diajak berperang oleh ayahnya saat usianya masih 8 tahun.

Kedua, kehidupan yang bersih dan kontrol masyarakat.  Masyarakat dalam Islam mendukung tumbuh kembang para generasi. Mereka memantau dan memberikan kontribusi besar terhadap tumbuh kembang generasi muda menjadi lebih baik. Masyarakat menjalankan fungsinya sebagai kontrol sosial, mencegak kemungkaran yang terjadi dalam lingkungan mereka. Bahkan mereka senan tiasa bekerja sama membentuk generasi peradaban yang mulia.

Dengan adanya bekal ilmu, mental yang kuat, dan lingkungan yang alim, serta ditopang sikap dan nafsiyah yang mantap pemuda diera Islam jauh dari kata hura-hura, kegiatan yang tidak bermanfaat (sia-sia), dan kehidupan hedonistik lainnya.

 Ketiga, Negara. Dalam Islam negara memiliki andil besar dalam pembentukan moral generasi. Sehingga negara memberikan perhatian besar terhadap generasi muda. Disini negara akan senan tiasa menjaga masyarakatnya, terkhusus para generasi dari peradaban kufur yang dapat merusak moral mereka. Negara menutup seluruh pintu kemaksiatan yang dapat melalaikan aktifitas kehidupan masyarakatnya dari hal-hal negatif. Seperti film porno, situs-situs pacaran, tayangan-tayangan tak senonoh, dan lain sebagainya. Sehingga generasi muda mampu tumbuh menjadi pemuda penerus bangsa yang mulia dan siap menjadi penerus kepemimpinan Islam.

Untuk itu, jika kita ingin menyelamatkan generasi muda maka butuh solusi fundamental untuk menuntaskan problematika hingga akarnya. Yakni mengganti sistem sekuler demokrasi yang menjauhkan manusia dari agama. Dengan sistem yang membuat manusia tunduk dan patuh pada agama, dan sistem itu adalah sitem islam. Waullahualam bissawab.

Penulis Adalah Pemerhati Umat

Opini Diluar Tanggungjawab Redaksi
Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :