Faktual.Net – Jakarta Pusat – Usianya telah memasuki 83 tahun di bulan Oktober nanti. Ia dilahirkan Tanjung Balai, Sumatera Utara tepatnya tanggal 13 Oktober 1936. Pria yang senantiasa masih memiliki semangat daya juang yang tinggi ini tidak mau ketinggalan hadir di Graha Oikoumene 23 Juli 2019 beberapa waktu yang lalu, yang merupakan acara Pembukaan dan dilanjutkan di Cisarua Bogor tanggal 24-25 Juli 2019.Justru guyonan baginya kalau Opung Sabam Sirait tidak beraktivitas justru sakit dia.
Sabam Sirait sangat bersyukur dapat menghadiri acara Semiloka Advokasi Hukum dan HAM Lembaga Pelayanan Kristen atas kerjasama Persekutuan Gereja-gereja di Indodnesia (PGI), Sinode Gereja Betel Inodnesia (GBI), Majelis Pendidikan Kristen (MPK), Yayasan Komunikasi Indonesia (YKI) dan Yayasan Bina Dharma (YBD), membahas pelayanan gereja di Indonesia khusunya Pembekalan Lembaga-Lembaga Kristen dalam Mengelola Aset.
Acara ini dengan keynote speaker seklaigus membuka acara secara resmi Menteri Hukum dan HAM RI Prof. Dr. Yasonna Hamonangan Laoly, S.H., M.Sc., Ph.D yang lahir di Sorkam, Tapanuli Tengah, 27 Mei 1953. Sebagai tokoh senior di PGI Sabam Sirait diberi kesempatan juga sebagai nara sumber memaparkan sejarah kehadiran PGI dan nostalgiaPGI di masa lalu.
Selain Yasonna, para peserta mendapat pembekalan melalui panel diskusi bersama narasumber, R.B. Agus Widjayanto,S.H., M.Hum dan Dr. Ronsen Purba (Peluang Lembaga Kristen dalam Pemanfaatan Program Percepatan Daerah).
Dr. Aartje Tehupeiory, S.H., M.H dan Theofransus Litaay SH., LLM., Ph.D (Pengelolaan Aset Kelembagaan Kristen Perspektif Hukum Pertanahan, Telaah Kritis Kasus-Kasus Pertanahan di PTUN Ditinjau dari UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan).

Selain itu, Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang, Dr. Bernard Nainggolan dan Marcelino R. Pandin, PhD (Pengelolaan Aset Kelembagaan Kristen dari Perspektif Teologis dan Perspektif Manajemen Bisnis).
Prof. Dr. Anna Erilyana, SH, MH dan Dr. Daniel Yusmic P. Foekh, SH, MH (Perlindungan Hukum Lembaga Keagamaan dari Perspektif UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan).Pewarta: Markus Saragih
Dalam kisahnya, Sabam Sirait mengatakan ia juga turut serta dalam mendorong kehadiran PGI yang dulu masih disebut DGI (Dewan Gereja-gereja Indonesia). Ia bertutur pernah mewakili HKBP melalui DGI sidang di Australia pada tahun 1961.
Sabam Sirait sangat sigap menjawab pertanyaan-pertanyaan bahkan mampu menjelaskan secara akurat. Ia merasa senang dan bangga karena masih melihat lambang pohon terang dan lilin Parkindo, masih ada dan tidak diganti meskipun sudah berubah menjadi Yayasan Komunikasi Indonesia.
Ketika ditanya tentang pengalaman berpolitik dengan sigap ia menjelaskan, “Saya sudah masuk beberapa kali di parlemen, sejak tahun 1968, pernah duduk di DPA dan kini saya kembali menjadi senator duduk menjadi anggota DPD RI Masa Bakti 2019 – 2024, meskipun saya tidak pernah duduk menjadi anggota eksekutif,” tegasnya.
Sabam Sirait memiliki 4 anak yaitu : Maruarar Sirait anggota DPR RI, Batara Sirait dokter kebidanan, Johan Bakti Porsea berlatar belakang ilmu hukum yang menjadi pengusaha serta Mira Sirait yang menikah dengan Putra Nababan seorang jurnalis yang kini melenggang ke dunia politik sebagai anggota DPR RI untuk masa bakti 2019-2024.
Ditanya akivitasnya sehari-hari ia menjelaskan, “Saya disamping bekerja sebagai anggota DPD RI juga masih memberi cemarah-ceramah ke daerah dan beberarapa Negara lain. Di samping itu Sabam Sirait juga telah menulis 7 buku sdh ditulis walau tidak terkenal tapi cukup laku diminati masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut Sabam Sirait menyampaikan pesan kepada generasi muda Kristen, “Generasi muda Kristen harus belajar dengan baik, bergaul dengan baik dengan semua orang semua agama yang ada. Indonesia sudah berhasil melahirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan negara Pancasilanya,” ungkapnya.
(Johan Sopaheluwakan)
















