oleh

Dunia Berduka, Sosok Kyal Sin yang Ditembak Militer dan Menjadi Martir Demokrasi Myanmar

Kisah Perjuangan Seorang gadis (Angel atau di kenal juga dengan nama Kyal Sin, yang berusia 19 tahun tewas dalam sebuah aksi damai menentang Kudeta Myanmar.

Faktual.Net — Dunia berduka, Sosok Kyal Sin, aktivis muda yang bersusia 19 tahun tewas ditembak oleh militer Myanmar saat berdemonstrasi di Myanmar pascakudeta junta militer semakin memanas, di jalanan kota Mandalay, Rabu (03/03/2021).

Dikabarkan tewasnya Kyal Sin, beredar dengan begitu cepat di media sosial dan dengan segera mendapat simpati Internasional.

Kyal Sin tertembak di kepala saat ikut berunjuk rasa bersama ribuan demonstran lainnya menolak pemerintahan junta militer serta mendukung pemerintahan sipil yang dipilihnya pada 8 November 2020, sekaligus pemilu pertama bagi Angel.

Memakai kaos hitam bertuliskan “Everything Will be OK” Kyal Sin bergabung dengan para demonstran kendati gelombang protes terus berkembang makin membahayakan. Dalam sejumlah foto yang tersebar di media sosial, Kyal Sin terlihat menggenggam sebotol Coca-Cola tengah membantu seorang pengunjuk rasa lain membersihkan wajahnya yang baru saja terkena tembakan gas air mata.

Myat Thu, yang bersama Kyal Sin saat berunjuk rasa, menyebutnya sebagai sosok yang pemberani. Ia kerap membantu pengunjuk rasa lain membasuh wajah jika habis terkena gas air mata, ia juga disebut yang akan menendang balik gas air mata ke arah polisi.

“Ketika polisi mulai mengokang senjata ia akan memperingatkanku tiarap tiarap kamu akan kena peluru!,” ujar Myat Thu kepada Reuters mengenang kembali momennya bersama Kyal Sin.

Myat Thu lantas menceritakan detik-detik sebelum Kyal Sin tewas tertembak. Sebelum polisi mulai menyerang, dalam sebuah video Kyal Sin terdengar berteriak “Kami tidak akan lari dan tak boleh ada darah yang tumpah”.

Myat Tu, demonstran yang bersama Angel, menceritakan, gadis muda itu punya keberanian luar biasa. Dia juga sempat menolong beberapa teman demonstran.

Baca Juga :  Andi Kartini Jalani Fit and Propertest di Golkar

Angel menendang pipa air agar para demonstran bisa cuci muka akibat serangat gas air mata militer.

Angel yang punya nama China Deng Jia Xi itu sempat juga mengingatkan Myat Tu agar hati-hati. Itu terjadi ketika polisi menembaki demonstran.

“Duduk, kamu bisa terkena peluru,” kata Myat Tu menirukan Angel.

Sebelum polisi menyerang, Angel sembat berteriak tak akan mundur.

“Jangan ada darah tertumpah,” kata Angel ditirukan Myat Tu.

Myat Tu pun kaget setelah tahu kalau Angel menjadi korban kebrutalan aparat. Kerusuhan berdarah tersebut menambah kepiluan masyarakat Myanmar atas kudeta sejak 1 Februari lalu.

Saat itu polisi menembakkan gas air mata ke arah massa. Lalu tiba-tiba peluru mulai melesat. Dari gambar-gambar yang diambil sebelum ia tertembak.

“Kyal Sin terlihat tiarap bersama dengan demonstran lain di belakang spanduk dengan kepala masih terlihat tegak.Para demonstran kemudian terpencar,” ujar Myat Thu, dan detik berikutnya yang ia dengar Seorang gadis tewas.

“Aku saat itu tidak tahu yang di maksud itu dia,” kata Myat Thu. Sampai akhirnya ia melihat foto-foto peristiwa tadi tersebar di media sosial Facebook, memperlihatkan Kyal Sin terbaring bersama korban tembak lainnya.

Nampaknya Kyal Sin sendiri tahu ia bisa saja tewas dalam unjuk rasa itu. Sebelum bergabung turun ke jalanan Mandalay, gadis sudah menyiapkan nomor kontak yang bisa dihubungi saat darurat, golongan darah dan sebuah pesan yang meminta jika ia ditemukan sekarat atau tewas, tak perlu berusaha untuk menyelamatkannya. Ia berharap bagian tubuhnya dapat menjadi donor bagi yang membutuhkan jika ia terbunuh.

Mendukung Demokrasi, Kyal Sin merupakan gadis remaja yang peduli dengan politik negerinya, jika tidak bisa dibilang seorang pejuang muda demokrasi Myanmar. Pada saat pemilu berlangsung 8 November 2020, ia mengunggah foto ke akun media sosialnya dengan jari bertinta ungu.

Baca Juga :  DPP POROS RAKYAT INDONESIA Soroti Dampak Lingkungan Tambang Di Aliran Sungai Je'neberang

“Pemilu pertamaku. Aku memilih dari lubuk hatiku yang terdalam. Aku sudah lakukan tugasku untuk negara,” ungkap Kyal Sin.

Kendati demikian, ia sempat melempar guyon bahwa ia tak tahu apapun saat kudeta mililter pertama kali terjadi pada 1 Februari 2021 lantaran internet yang diputus pada pagi harinya. Namun ia langsung menyatakan sikap beberapa hari setelahnya dan turun ke jalan mendukung pemerintahan sipil partai Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi.

Ia terus turun berunjuk rasa kendati eskalasi protes semakin memanas dan membahayakan setelah junta militer menurunkan personel tentara Tatmadaw berdampingan dengan kepolisian untuk menghalau para demonstran. Kyal Sin tahu saat itu ia mempertaruhkan hidupnya.

Seorang kawan, Kyaw Zin Hein, membagikan pesan terakhir Kyal Sin kepadanya ke media sosial.

“Ini mungkin terakhir kalinya aku mengucapkannya. Aku sangat menyayangimu. Jangan lupa itu,” pesan Kyal Sin.

Junta militer di bawah pengaruh Jenderal Min Aung Hlaing mengkudeta pemerintah sah Myanmar pada 1 Februari 2021. Kudeta terjadi lantaran partai bentukan militer kalah dari partai Aung San Syu Kyi dalam pemilu November tahun lalu.

Kudeta yang tidak disadari masyarakat pada pagi hari itu, menuai protes dari warga yang mayoritas mendukung transisi ke demokrasi.

Semula warga memprotes Tatmadaw hanya dengan membunyikan perkakas dapur dan klakson kendaraan. Dalam budaya setempat, ini biasa dilakukan untuk mengusir setan. Dalam arti sesungguhnya mengusir militer dari tampu kekuasaan.

Protes terus memuncak. Eskalasi pembangkangan sipil naik usai dua pendemo tewas ditembus peluru tajam meski polisi membantah memakai senjata api untuk membubarkan demonstran. Akhir Februari 2021, ratusan ribu orang turun ke jalan menyerukan junta militer membebaskan Suu Kyi.

Pendemo membawa mobil untuk memblokade jalan. Kekerasan demi kekerasan ditunjukkan aparat terhadap pendemo hingga menewaskan 38 orang. Belum ada keterangan resmi dari pihak militer terkait penembakan tersebut. Kyal Sin, pada akhirnya harus tewas dan menjadi martir bagi demokrasi Myanmar.

Pemimpin politik ditahan militer, antara lain Aung San Kyi. Sebelumnya diberitakan, Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Myanmar, Christine Schraner Burgener melaporkan setidaknya 38 orang tewas di Myanmar, ketika aparat keamanan menemnaki para demonstran untuk membubarkan massa aksi protes terhadap pemerintahan militer.

Sumber: Ruters/YouTubeTribunnews.

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :