Dua Garis Biru, Benarkah Solusi bagi Rusaknya Generasi?

130
Siti Mundayanah (Pemerhati Umat)

Faktual.Net – Film berjudul dua garis biru yang baru tayang di bioskop hari ini dinilai sangat menggambarkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam program remaja di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (BKKBN) M Yani, mengatakan film dua garis biru dapat membantu BKKBN dalam menjangkau remaja Indonesia lebih luas dengan program generasi berencana (genre), (antaranews.com).

Film dua garis biru karya sutradara Ti Ginarti S Nur mengisahkan sepasang remaja yang melampaui batas dalam berpacaran, sehingga berujung pada pernikahan usia dini. Film tersebut memberi pesan bahwa remaja harus memiliki rencana kehidupannya sejak awal hingga kelak membangun rumah tangga. Garis dua biru menggambarkan pernikahan di usia muda bisa merusak masa depan dan memupuskan berbagai cita-cita.

Liberalisme, Akar Masalah

Masa remaja bagi sebagian orang adalah masa yang berkesan dan penuh dengan cerita. Masa-masa yang sering dikenang karena banyak sekali momen-momen Yang Tak Terlupakan. Namun, pada masa ini juga adalah masa-masa transformasi dari anak-anak menjadi remaja. Banyak perubahan sikap dari berani menentang pendapat orang tua, sulit dimintai tolong, mudah marah-marah dan sensitif. Kalau ada maunya suka memaksa. Masa-masa inilah yang di namakan pubertas. Yang dimana pada masa ini sangat rentan mendapatkan pengaruh yang tidak baik diluar lingkungan, meskipun sebagai orang tua senantiasa menanamkan ajaran-ajaran agama sejak dini. Namun, tidak bisa menjamin apabila di luar rumah ajaran itu tetap dipakai. Kadang kalau di rumah terlihat alim dan sopan, tetapi ternyata berbeda kalau di luar perilakunya liar dan bebas bak burung keluar dari sangkar.

Baca Juga :  Perilaku Seks Bebas, Hancurkan Generasi Bangsa Indonesia

Banyaknya ancaman kejahatan yang terjadi di kalangan remaja baik itu aborsi, pornografi, tawuran pelajar, geng motor, miras dan narkoba, dan paling marak adalah hamil diluar nikah semua itu siap membayang-bayangi mereka setiap saat kapanpun dan dimanapun, dikarenakan pergaulan bebas. Pemerintah pun senantiasa memberikan solusi baik itu lewat pendidikan sex usia dini, kampanye bahaya sex bebas, media, ataupun lewat film baru baru ini film yang berjudul “dua garis biru” yang menceritakan pacaran yang kelewat batas. Hingga berakhir hamil diluar nikah. Membuat masa depan mereka kabur, pendidikannya hancur, keluarganya menanggung malu.

Dengan film ini pemerintah berharap dapat menangkal fenomena hamil diluar nikah yang marak terjadi di negeri ini. Namun, apakah dengan solusi ini akan berhasil? tentu tidak. Justru para penontonnya yang kebanyakan remaja, mereka akan merasa penasaran dengan adegan-adegan yang ada di film dan tidak sedikit yang akan mencobanya. Seharusnya kalaupun pemerintah ingin menyelesaikan permasalahannya. Dicarilah dulu akar permasalahannya. Kenapa semua bisa terjadi tentu ada sebabnya. Karena semua itu tidak terjadi begitu saja.

Adanya paham liberalisme (kebebasan) dan permisifme (serba boleh)yang ada dalam sistem hari ini membuat remaja bergaul bebas, berbuat sekehendaknya. Tidak ada lagi standar hidup seperti halal -haram, benar – salah, pahala -siksa, surga – neraka, terpuji -tercela seperti yang ada pada agama. Maka itulah yang membuat generasi pada sistem hari ini banyak yang terperosok ke dalam berbagai jurang kemaksiatan gaul bebas semakin meluas.

Baca Juga :  Perilaku Seks Bebas, Hancurkan Generasi Bangsa Indonesia

Hedonisme (hura-hura) yang tumbuh subur dalam sistem hari ini membuat manusia menikmati kemewahan dan kesenangan duniawi semata. Manusia terlena dan lupa dengan negeri akhirat. Tidak heran kalau banyak kita jumpai generasi saat ini gemar mengumbar syahwat dan suka berpesta pora yang penting mereka bahagia.

Islam Memandang

Berbeda dengan Islam yang memandang generasi muda keberadaannya amat berharga dan akan senantiasa dijaga dan dilindungi karena merupakan bibit penerus membangun bangsa. Islam menjamin hak keamanan pada remaja, menciptakan lingkungan yang kondusif. Serta, menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk memberikan sanksi yang tegas kepada para pelakunya. Senantiasa menanamkan ketakwaan kepada mereka, sehingga mereka takut untuk berbuat dosa karena dia sadar bahwa ada Allah subhanahu wa ta’ala yang senantiasa memperhatikan nya.

Oleh karena itu, untuk menyelamatkan generasi dari kebobrokan sistem hari ini harus diupayakan perubahan mendasar dan sistemik. Sistem hukum dan penerapannya berdasarkan aturan Islam . Firman Allah SWT mengingatkan kita “siapa saja yang berpaling dari peringatan-ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS Thaha (20) :124). Oleh karena itu, sebagai manusia patutlah takut akan peringatan Alloh dan kembali kepada aturannya.

Wallahualam bissawab

(Opini Diluar Tanggung Jawab Redaksi)


Penulis : Siti Mundayanah (Penulis Adalah Pemerhati Umat).

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :