Astaga : Garuda Indonesia Bisa Tergadai Dalam Jeratan Sewa Menyewa Dengan China

95

Opini Ditulis Oleh: Jacob Ereste

Faktual.Net, Jakarta. Mantan Menko Perekonomian, Dr. Rizal Ramli saja kaget ikhwal Pesawat Garuda ternyata terjerat sewa pesawat dengan pihak perusahaan asal China. “Wah! Garuda Termyata Sewa Pesawat dari China”, kata Rizal Ramli di akun twitternya, Sabtu (27/7/2019).

Dalam rangka itulah Luhut Binsar Panjaitan meminta China menurunkan bea sewa pesawat Garuda. (CNN Indonesia, 26/07/2019). Meski posiainya tak jelas sebagai apa, namun yang pasti Luhut Binsar Panjaitan adalah Menko Kemaritiman RI yang masih aktif. Dia bisa membicarakan sewa menyewa pesawat Garuda dan meminta perusahaan China itu untuk menurunkan biaya sewa pesawat Garuda Indonesia yang masih terus dipakai pihak Indonesia sampai sekarang.

Untuk dapat jeringanan beban sewa atau leasing pesawat yang dipakai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ini, Luhut Binsar Panjaitan sudah bertemu dengan perwakilan dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Aviation Co. Ltd. Adapun, ICBC Aviation ini merupakan anak usaha dari ICBC Financial Leasing Co. Ltd. Yaitu Perusahaan yang bertindak sebagai lessor (pemberi sewa dari beberapa unit pesawat yang dipakai PT. Garuda Indonesia.

Baca Juga :  Sumangaik Baru ? Untuk Sumatera Barat

Luhut Binsar Panjaitan memang tak menyebut jenis pesawat yang disewa Garuda Indonesia dari ICBC. Namun, informasi yang diperoleh dari berbagai sumber.

Pihak Garuda Indonesia yang menandatangani dokumen perjanjian kerja sama pendanaan lima pesawat Boeing 777-300 ER, dan enam pesawat Airbus A320 dari ICBC sejak tahun 2013 lalu.

Nilai kerja sama pendanaan ini mencapai US$1,7 miliar. “Iya, kami sudah bertemu (membahas keringanan beban sewa pesawat),” jelas Luhut, Kamis (26/7/2019 di Jakarta. Agaknya, karena itu Garuda ikut-ikutan Maskapai Sriwijaya Air yang Ogah memangkas harga tiket untuk menyaingi Low Cost Carrier (LCC). Intinya, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan pemerintah meminta restrukturisasi pembayaran sewa pesawat dengan tenor sepanjang 20 tahun.

Restrukturisasi ini diharapkan bisa membuat perusahaan bisa menghemat biaya sewa sebesar US$35 juta atau Rp490,15 miliar (kurs Rp14.004 per dolar AS). Celakanya, menurut laporan keuangan Garuda Indonesia per Desember 2018, beban sewa dan charter pesawat pada tahun ini mencapai US$1,08 miliar atau naik dari tahun lalu US$1,06 miliar.

Sebelumnya, juga diakui bahwa sewa pesawat merupakan persoalan penting yang membebani keuangan perusahaan pelat merah tersebut. PT. Garuda Indonesia memang sudah bermasalah dari dulu. Masalah rumitnya baru mencuat setelah terbongkarnya pemalsuan Laporan Keuangan Garuda Indonesia tahun 2018.

Baca Juga :  Sumangaik Baru ? Untuk Sumatera Barat

Laporan Keuangan direvisi, Garuda Indonesia tercatatk Net Loss atau Rugi Bersih US$ 175,028 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun (kurs Rp 14.000). Data ini berbeda dengan laporan yang dirilis sebelumnya yang diklaim dapat Laba sebesar US$ 5,018 juta.

Diantara beban biaya itu, baru diketahui bahwa pesawat garuda menyewa dari China.Sedangkan untuk dapat keringanan, Luhut Binsar Panjaitan sudah menemui perwakilan dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Aviation Co. Ltd. Pihak ICBC Aviation sendiri merupakan anak usaha dari ICBC Financial Leasing Co. Ltd. Jadi perusahaan inilah yang bertindak sebagai lessor (pemberi sewa) dari beberapa unit pesawat yang digunakan oleh PT. Garuda Indonesia sampai sekarang. Inilah yang membuat Luhut Binsar Panjaitan ikut puyeng.

Penulis Adalah Seorang Penulis Senior Indonesia, Pemerhati Sosial

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :