Example floating
Example floating
Opini

PEWARNA Indonesia Ucapakan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026: Jejak Perjuangan 1678 di Kampung Tugu dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

×

PEWARNA Indonesia Ucapakan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026: Jejak Perjuangan 1678 di Kampung Tugu dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net – Jakarta Timur, DKI Jakarta – Sabtu, 2 Mei 2026 

Pendahuluan

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Setiap tanggal 2 Mei, seluruh warga Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Peringatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan bentuk penghormatan dan pengakuan atas perjuangan para pahlawan pendidikan yang telah membuka jalan bagi terciptanya sistem pendidikan yang adil dan bermutu. Di tahun 2026 ini, peringatan ini hadir dengan makna yang semakin dalam, mengingat perjalanan panjang pendidikan di Indonesia dari masa ke masa, serta memandang kembali warisan sejarah yang masih hidup hingga kini.

Melalui kesempatan ini Saya Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D , Ketua PEWARNA Indonesia Provinsi DKI Jakarta dan segenap Keluarga Besar mengucapkan, “Selamat Hari Guru bagi segenap para guru di mana saja berada di tanah air Indonesia kiranya semakin maju, semakin inovatif, berbanggalah karena Guru merupakan profesi yang sangat berjasa bagi kemajuan bangsa. Tetaplah mengajar dan mendidik bagi para guru yang belum mencapai tingkatan kesejahteraan yang diharapkan. Tetapi percayalah jiwa seorang guru tak pernah sedikitpun kekurangan kebijaksanaan untuk menyikapi kehidupan ini, karena sejatinya kita adalah guru bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara!”


Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Hari Pendidikan Nasional ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, yang mengangkat tanggal 2 Mei sebagai momen peringatan. Tanggal ini dipilih bertepatan dengan hari kelahiran R.M. Soewardi Soeryaningrat, yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara – sosok yang dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, pendidikan hanya dapat diakses oleh kalangan elit dan orang-orang kulit putih, sementara sebagian besar rakyat pribumi terpinggirkan. Ki Hajar Dewantara menjadi suara perlawanan dengan menuntut hak pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia mendirikan lembaga pendidikan Taman Siswa pada tahun 1922 di Yogyakarta, yang menjadi simbol perjuangan pendidikan yang berpihak pada rakyat dan mengutamakan nilai-nilai budaya bangsa. Filosofinya yang terkenal, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, hingga kini tetap menjadi pedoman utama dalam dunia pendidikan Indonesia.

Perkembangan Pendidikan dari Masa ke Masa

Perjalanan pendidikan di Indonesia dimulai jauh sebelum masa kemerdekaan. Pada masa prasejarah, pengetahuan diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi, mencakup cara bertani, berburu, dan nilai-nilai sosial. Masuknya pengaruh kebudayaan asing, seperti agama Hindu-Buddha dan Islam, membawa sistem pendidikan formal berupa pendidikan di lembaga-lembaga keagamaan yang mengajarkan pengetahuan agama, bahasa, dan kebudayaan.

Sistem pendidikan modern mulai berkembang pada masa penjajahan Belanda. Melalui kebijakan Politik Etis di akhir abad ke-19, didirikanlah sekolah-sekolah dasar yang disebut Sekolah Rakyat atau Volkschool, yang menjadi cikal bakal Sekolah Dasar masa kini. Namun akses ke sekolah ini masih sangat terbatas dan berjenjang berdasarkan status sosial. Pada masa pendudukan Jepang, sistem pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan kekuasaan, meskipun akses pendidikan mulai sedikit terbuka bagi lebih banyak orang.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, pendidikan menjadi salah satu sektor utama yang mendapat perhatian besar. Pemerintah segera menyusun sistem pendidikan nasional yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Pada tahun 1946, Sekolah Rakyat resmi berubah menjadi Sekolah Dasar dengan tujuan memberikan pendidikan dasar yang merata bagi seluruh anak bangsa. Sejak saat itu, sistem pendidikan terus mengalami perubahan dan penyempurnaan. Mulai dari kurikulum yang berubah seiring perubahan zaman – mulai dari Kurikulum 1947 yang menekankan semangat nasionalisme, Kurikulum 1975 yang berorientasi pada pembangunan ekonomi, hingga Kurikulum Merdeka yang diperkenalkan saat ini untuk memberikan kebebasan lebih kepada sekolah dan guru dalam mengembangkan potensi peserta didik.

Warisan Sejarah: Sekolah Setingkat SR Pertama 1678 di Kampung Tugu

Salah satu bukti awal perkembangan pendidikan di Nusantara dapat ditemukan di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Di wilayah ini, terdapat Sekolah setingkat Sekolah Rakyat yang telah berdiri sejak tahun 1678, menjadikannya sebagai salah satu sekolah tertua yang masih memiliki jejak sejarahnya hingga kini. Kampung Tugu didirikan oleh keturunan masyarakat Mardijker – kelompok orang yang dibawa oleh Belanda dari wilayah India dan Afrika untuk menetap di Batavia. Seiring berjalannya waktu, warga yang beragama Kristen ini membentuk komunitas yang kuat dan memandang pendidikan sebagai hal yang sangat penting untuk kemajuan kehidupan mereka.

Sekolah yang didirikan pada tahun 1678 ini awalnya berfungsi sebagai tempat untuk mengajarkan pengetahuan dasar, bahasa, dan nilai-nilai agama. Meskipun pada masa itu sistem pendidikan masih terbatas dan hanya dapat diakses oleh sebagian kecil masyarakat, keberadaan sekolah ini menunjukkan bahwa hasrat untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan telah ada di tengah masyarakat Nusantara sejak berabad-abad yang lalu. Sekolah ini menjadi bukti bahwa perjuangan pendidikan di Indonesia bukanlah hal yang baru, melainkan telah dimulai oleh para leluhur kita yang menginginkan generasi penerusnya memiliki bekal ilmu untuk hidup dan membangun kehidupan yang lebih baik. Hingga saat ini, warisan sejarah ini tetap dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya dan pendidikan bangsa.

Perkembangan Pendidikan di Masa Kini

Memasuki era modern, pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pemerintah terus meningkatkan akses pendidikan ke seluruh wilayah, termasuk daerah-daerah terpencil dan terluar. Berdasarkan data terbaru, Angka Partisipasi Kasar pendidikan dasar telah mencapai lebih dari 99 persen, yang menunjukkan bahwa hampir seluruh anak usia sekolah telah mendapatkan kesempatan untuk belajar. Anggaran pendidikan juga terus ditingkatkan, bahkan telah mencapai 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Saat ini, pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga dapat diakses melalui platform digital, perangkat interaktif, dan sumber informasi yang tersedia secara luas. Sekolah-sekolah di seluruh Indonesia telah dilengkapi dengan perangkat teknologi modern, dan guru-guru terus mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mengajar mereka. Kurikulum yang diterapkan saat ini juga berfokus pada pengembangan kompetensi siswa, seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan kerja sama tim – keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan masa depan.

Selain itu, pendidikan juga semakin inklusif, di mana setiap anak tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, agama, atau kondisi fisiknya berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Berbagai program telah diluncurkan untuk memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam mengakses pendidikan, sehingga tujuan pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat terwujud secara menyeluruh.

Penutup

Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momen yang tepat untuk merenungkan perjalanan panjang pendidikan di Indonesia – dari masa-masa awal yang penuh perjuangan, melalui masa perubahan sistem, hingga ke era modern yang penuh dengan peluang. Sejarah Sekolah SR Pertama 1678 di Kampung Tugu mengingatkan kita bahwa hasrat untuk belajar telah ada sejak lama, sedangkan perjuangan Ki Hadjar Dewantara dan para pahlawan pendidikan lainnya menjadi teladan bahwa pendidikan adalah alat untuk membebaskan dan memajukan bangsa.

Di masa kini, tantangan pendidikan semakin kompleks, namun peluang untuk mengembangkan sistem pendidikan yang lebih baik juga semakin besar. Melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, marilah kita bersama-sama menjaga semangat perjuangan, terus berinovasi dalam dunia pendidikan, dan memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan kesempatan untuk meraih ilmu pengetahuan, mengembangkan potensi dirinya, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan yang dimiliki oleh generasi penerusnya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2025). Laporan Perkembangan Pendidikan Nasional Tahun 2024-2025. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

2. Poesponegoro, Marwati Djoened & Notosusanto, Nugroho. (2008). Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka.

3. Supriyanto, Agus. (2022). Perkembangan Sistem Pendidikan di Indonesia dari Masa ke Masa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 8(2), 145-158.

4. Suwandi, Ahmad. (2019). Sejarah Pendidikan di Indonesia: Dari Masa Kerajaan Hingga Era Reformasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

5. Tim Penyusun. (2023). Kisah Sekolah Tertua di Indonesia: Jejak Sejarah Pendidikan di Kampung Tugu. Jakarta: Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

6. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (2003). Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.

7. Wahyudi, Slamet. (2024). Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Penerapannya di Era Modern. Jurnal Ilmiah Pendidikan, 12(1), 78-92.

8. Zarkasi, Ahmad. (2021). Perkembangan Teknologi Pendidikan dan Pengaruhnya Terhadap Proses Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Penulis adalah Guru dan Mahasiswa Magister PAK pada STTI Philadelphia.

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit