Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Metropolitan

Antara Dharma Bangsa, Agama dan Negara

×

Antara Dharma Bangsa, Agama dan Negara

Sebarkan artikel ini
Faktual.Net, Jakarta-Acara Poadcast yang dipandu Setyo Hajar Dewantoro dengan narasumber Kurator dan Budayawan Nasional Taufik Rahzen dan Prof Yudhie Haryono selaku pakar politik ekonomi, Kamis, 7 september 2023, sebagai rangkaian pameran seni rupa di galery NAS Pasar Seni Ancol telah berjalan lancar.
Selain memperingati hari kemerdekaan Bangsa yang ke 78 tahun dan menyambut KTT Asean yang diselenggarakan di Jakarta. Pameran yang mengangkat tema “Di Bawah Panji Kamardikan” dibuat sebagai usaha merefleksikan kembali kemerdekaan sebagai penyebabnya semangat revolusi yang pernah terjadi di era 1940 an.
Strategi kebudayaan dalam kacamata darma wangsa agama dan negara menjadi perbincangan berikutnya setelah pertanyaan yang di sampaikan Prof Yudhie Haryono. Taufik Rahzen dalam ungkapannya menyinggung tiga peranan peradaban tersebut. Dimana dharma negera berperan pada kekuasaan dan aspek hukum sebuah negara. Sedang dharma agama menempatkan pada ajaran agama sebagai rujukan hukum bagi setiap umat beragama.
Adapun dharma wangsa (bangsa) menjalankan tata kelola sebuh wilayah berdasarkan identitas kebhinekaan, yang sampai sekarang masih tetap hidup dilapisan etnisitas masyarakat. Dharma wangsa mengambil peranan dan melakukan tindakan kongkrit secara dialektis dari persoalan yang muncul dari darma agama dan negara. Tentunya ketiganya perlu kolaborasi dalam usaha membangun identitas kesemstaannya yang aggung dan beradab. Nilai inheren inilah sebagai peleburan dalam menjalankan semangat Pancasila. Menjadi aksi laku hidup masyarakatnya.
Bangsa Indonesia adalah wadah yang dipilih. Bukan hanya menjadi bertemunya arus ideologi, agama dan budaya, namun juga unsur hidup, hewan serta tumbuhan lainnya. Terpilih menjadi cermin dari aneka kebhinnekaan yang berada dalam satu wadah bernama Indonesia. Dengan potensi kemampuan daya survival mampu menampung aneka macam kebudayaan dunia.
Nilai Kemampuan adabtif inilah yang semestinya di jaga dan dikembangkan. Menjadi strategi kebudayaan yang ditawarkan kepada Dunia. Sehingga bangsa Indonesia tidak terjebak dalam pola kompetisi, kuat kuatan dan memonopoli atas bangsa bangsa yang lain. Namun menjadi bangsa Indonesia yang mampu menjadi cermin dan memenangkan peradaban tanpa peperangan, tanpa mengalahkan bangsa lain. Sebagaimana istilah menyerang tanpa kawan dan memenangkan tanpa merendahkan.
Sedang Prof Yudhie Haryono, menyoal strategi kebudayaan dan potret seniman dan budayawan era kekinian dianggap kurang progresif dan revolusioner. Kurang membawa semangat indeologi Pancasila. Bahkan cenderung terpengaruh oleh prodak kebudayaan luar negeri. Hal ini berbanding terbalik dengan para seniman dan budayawan diera kemerdekaan. Bahkan karya budaya era sekarang kurang di hargai di luar negeri, termasuk di dalam negeri sendiri.
Para seniman masa lalu tidak hanya sibuk dipersoalan inward looking, namun juga outward looking. Sehingga karya karyanya mampu dikenal ke manca negara dan punya pengaruh besar dalam membangun perubahan. Beda dengan era paska 65 hingga order revormasi sekarang. Semua sibuk kedalam, bahkan suka melayani penjajahan dan pola strategi kebudayaan dari luar.
Tentunya Poadcast yang diselenggarakan dalam pameran Panji dan seni rupa yang diikuti 25 pelukis dari manca negara dan 78 karya ini memberikan dampak positif bagi perhelatan kebudayaan Indonesia. Tema “Di Bawah Panji Kamardikan” bertempat di galery NAS Pasar seni Ancol ini adalah langkah awal untuk menuju pada estafet berikutnya. Hingga perwujudan dharma raga, cipta, jiwa dan rasa menjadi tumbuh subuh. Termasuk makna kita cita itu sendiri.
Faktual.Net, Jakarta-Acara Poadcast yang dipandu Setyo Hajar Dewantoro dengan narasumber Kurator dan Budayawan Nasional Taufik Rahzen dan Prof Yudhie Haryono selaku pakar politik ekonomi, Kamis, 7 september 2023, sebagai rangkaian pameran seni rupa di galery NAS Pasar Seni Ancol telah berjalan lancar.
Selain memperingati hari kemerdekaan Bangsa yang ke 78 tahun dan menyambut KTT Asean yang diselenggarakan di Jakarta. Pameran yang mengangkat tema “Di Bawah Panji Kamardikan” dibuat sebagai usaha merefleksikan kembali kemerdekaan sebagai penyebabnya semangat revolusi yang pernah terjadi di era 1940 an.
Strategi kebudayaan dalam kacamata darma wangsa agama dan negara menjadi perbincangan berikutnya setelah pertanyaan yang di sampaikan Prof Yudhie Haryono. Taufik Rahzen dalam ungkapannya menyinggung tiga peranan peradaban tersebut. Dimana dharma negera berperan pada kekuasaan dan aspek hukum sebuah negara. Sedang dharma agama menempatkan pada  ajaran agama sebagai rujukan hukum bagi setiap umat beragama.
Adapun dharma wangsa (bangsa) menjalankan tata kelola sebuh wilayah berdasarkan identitas kebhinekaan, yang sampai sekarang masih tetap hidup dilapisan etnisitas masyarakat. Dharma wangsa mengambil peranan dan melakukan tindakan kongkrit secara dialektis dari persoalan yang muncul dari darma agama dan negara. Tentunya ketiganya perlu kolaborasi dalam usaha membangun identitas kesemstaannya yang aggung dan beradab. Nilai inheren inilah sebagai peleburan dalam menjalankan semangat Pancasila. Menjadi aksi laku hidup masyarakatnya.
Bangsa Indonesia adalah wadah yang dipilih. Bukan hanya menjadi bertemunya arus ideologi, agama dan budaya, namun juga unsur hidup, hewan serta tumbuhan lainnya. Terpilih menjadi cermin dari aneka kebhinnekaan yang berada dalam satu wadah bernama Indonesia. Dengan potensi kemampuan daya survival mampu menampung aneka macam kebudayaan dunia.
Nilai Kemampuan adabtif inilah yang semestinya di jaga dan dikembangkan. Menjadi strategi kebudayaan yang ditawarkan kepada Dunia. Sehingga bangsa Indonesia tidak terjebak dalam pola kompetisi, kuat kuatan dan memonopoli atas bangsa bangsa yang lain. Namun menjadi bangsa Indonesia yang mampu menjadi cermin dan memenangkan peradaban tanpa peperangan, tanpa mengalahkan bangsa lain. Sebagaimana istilah menyerang tanpa kawan dan memenangkan tanpa merendahkan.
Sedang Prof Yudhie Haryono, menyoal strategi kebudayaan dan potret seniman dan budayawan era kekinian dianggap kurang progresif dan revolusioner. Kurang membawa semangat indeologi Pancasila. Bahkan cenderung terpengaruh oleh prodak kebudayaan luar negeri. Hal ini  berbanding terbalik dengan para seniman dan budayawan diera kemerdekaan. Bahkan karya budaya era sekarang kurang di hargai di luar negeri, termasuk di dalam negeri sendiri.
Para seniman masa lalu tidak hanya sibuk dipersoalan inward looking, namun juga outward looking. Sehingga karya karyanya mampu dikenal ke manca negara dan punya pengaruh besar dalam membangun perubahan. Beda dengan era paska 65 hingga order revormasi sekarang. Semua sibuk kedalam, bahkan suka melayani penjajahan dan pola strategi kebudayaan dari luar.
Tentunya Poadcast yang diselenggarakan dalam pameran Panji dan seni rupa yang diikuti 25 pelukis dari manca negara dan 78 karya ini memberikan dampak positif bagi perhelatan kebudayaan Indonesia. Tema “Di Bawah Panji Kamardikan” bertempat di galery NAS Pasar seni Ancol ini adalah langkah awal untuk menuju pada estafet berikutnya. Hingga perwujudan dharma raga, cipta, jiwa dan rasa menjadi tumbuh subuh. Termasuk makna kita cita itu sendiri.
(Amin)
Tanggapi Berita Ini
Baca Juga :  "Udah Mulai Kecium Baunya",Warga Keluhkan Bau Aroma Genangan Air Sukapura Jakut