
Faktual.Net, Kendari, Sultra – Mengubah pola pikir petani kearah yang lebih moderen, dianggap sebagai hal yang masih membutuhkan pekerjaan berat oleh sebagian pihak. Hal ini terungkap dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling – up Initiative (READSI) tahap II Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara, bertempat di Plasa Inn Hotel Kota Kendari, Selasa, 23/11/2021.
“Mengubah mindset itu sangat sulit, pola pikir itu pembentukannya tidak mudah, apalagi kepada para petani yang latar belakang umur sudah diatas 40 tahun keatas dengan pendidikan dibawah rata-rata, ini adalah pekerjaan yang sangat-sangat berat,” ungkap Ir Hj Kartini MP Sekertaris Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara membuka Rakor READSI.
Olehnya itu ia menyampaikan apresiasi kepada para penyuluh, fasilitator dan tenaga ahli Program READSI atas kerja keras memberikan pemahaman kepada petani sehingga terjadi perubahan signifikan dalam pola pertanian yang selama ini masih konvensional menuju pengelolaan pertanian yang lebih baik melalui ilmu pengetahuan di bidang pertanian serta tidak hanya pada hal tehnis pertanian saja melainkan ada pengelolaan hasil.
Namun keprihatinan pun diungkapkan oleh Ir Hj Kartini MP Sekertaris Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara, sebab saat ini generasi muda sudah cenderung apatis dengan dunia pertanian.
“Ini menjadi pekerjaan berat bagi kita untuk menumbuhkan motivasi bagi generasi muda agar mau menjadi generasi pelanjut supaya mau jadi petani,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ketua Jurusan Program Studi Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Salahuddin SP MSc menyampaikan kenyataan bahwa mahasiswa peminat jurusan pertanian tiap tahun makin berkurang karena kurangnya ketertarikan anak muda di dunia pertanian.
“Bagaimana petani bisa berdaya agar tidak terjebak pada hal-hal tehnis pertanian saja, menjadikan pertanian bisa diandalkan dan diwariskan pada anak cucu, maka pertanian itu harus bisa membanggakan dan menjanjikan masa depan, sehingga generasi muda tertarik menggeluti pertanian dan masuk di fakultas pertanian,” urai Salahuddin SP MSc Ketua Jurusan Program Studi Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo sebagai narasumber pada kegiatan Rakor Tingkat Provinsi Sultra.
Upaya mengembangkan sektor pertanian menjadi lebih menarik, juga diungkapkan oleh Ilhas Landu S TP MP Kabid Perkebunan Dinas Pekebunan & dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara, melalui pengembangan sentra-sentra perkebunan dan pertanian di sejumlah kabupaten di Sultra dengan klasternya masing-masing.
“Contohnya klaster komoditi tanaman kakao, untuk di wilayah kabupaten daratan lebih tersebar di Kabupaten Konawe, Kolaka dan Kolaka Utara, sehingga disetiap sentra harus ada usaha pengolahan hasil, ini juga masuk dalam wilayah Program READSI,” ungkap Ilhas Landu S TP MP Kabid Perkebunan Dinas Pekebunan & dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tenggara.
Pantauan kinerja Program READSI di tiga kabupaten se-Sultra turut disampaikan Tenaga Ahli READSI Provinsi Sultra Aisa Rauf, dari beberapa empat kegiatan yang sudah terlaksana yaitu pelaksanaan Sekolah Lapang (SL) di Kabupaten Kolaka telah direalisasi di 123 Poktan, penyaluran Saprodi 100 % atau 125 Poktan, Alsintan 110 Poktan serta pembentukan Kelompok Simpan Pinjam (KSP)123 Poktan, sementara realisasi kegiatan di Kabupaten Kolaka yaitu Sekolah Lapang (SL) 72 Poktan, penyaluran saprodi 107 Poktan, dan pembentukan KSP 105, Kabupaten Konawe telah realisasi kegiatan SL 119 Poktan, Penyaluran saprodi 73 Poktan, pembentukan KSP 93 Poktan.
Adapunt total dana kegiatan KSP Poktan, terkumpul masing-masing kabupaten yaitu Kolaka Utara Rp 346.927.742, Kolaka Rp. 751.941.000 dan Konawe Rp. 265.313.000. Dana KSP Poktan dimaksudkan sebagai simpanan swadaya anggota dalam mengakses bantuan Alsintan dengan mekanisme 30 :70 yaitu 30 % berasal dari swadaya Poktan dan 70 % adalah bantuan Program READSI, bertujuan agar tercipta rasa kepemilikan terhadap bantuan peralatan sehingga proses pemeliharaan dan perawatan tetap terjaga oleh anggota kelompok tani itu sendiri.
Diskusi cara mengumpulkan kelompok tani menjadi hal penting dalam kegiatan rapat koordinasi ini, dimana menurut Werry Bella dari Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) Penyuluh Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra, sangat sulit namun di Program READSI nampaknya begitu mudah mengumpulkan petani untuk datang mendengar penyuluhan.
“Resep apa yang digunakan oleh READSI sehingga bisa begitu gampang kumpulkan petani sementara dulu pengalaman program lain sangat sulit datangkan petani untuk dengar penyuluhan apa kiat-kiatnya apakah karena pendekatan program,” tanya Werry Bella.
Pertanyaan tersebut selanjutnya dijawab oleh TA READSI Sultra Aisa Rauf, agar mendengar pengalaman Fasilitator Desa secara langsung, yang disampaikan oleh Olivia FD Desa Pewutaa Kabupaten Kolaka dan Andriani FD Desa Asinua Jaya Kabupaten Kolaka.
“Caranya adalah rajin mengunjungi petani bersilaturahim mendengarkan masalah mereka bukan hanya sebatas aktivitas program tapi hal diluar program, pokoknya harus lebih akrab dengan petani, maka pasti akan dirindukan kalau tidak datang, sehingga petani merasa penting untuk melakukan pertemuan atau berkumpul dalam setiap bulan,” urai Olivia FD Desa Pewutaa Kabupaten Kolaka.
Pengalaman lain diungkapkan oleh Andriani FD Desa Asinua Jaya Kabupaten Konawe, yaitu sesama anggota Poktan menyepakati aturan bersama berupa sanksi kepada anggota yang tidak mau datang pertemuan rutin yang sudah mereka jadwalkan bersama bulan sebelumnya, berupa denda lima ribu rupiah per orang bagi yang tidak hadir, sehingga petani merasa lebih baik hadir daripada harus membayar denda, sementara uang lima ribu sangat bernilai bagi petani di Desa Asinua Jaya yang rata-rata keluarga miskin.
“ Petani sepekati aturannya sehingga semua patuh, sebab uang lima ribu rupiah sangat berharga bagi mereka, jadi lebih baik datang pertemuan rutin daripada didenda lima ribu, jadi saling mengingatkan satu sama lain anggota Poktan,” ungkap Andriani. (RED)















