Example floating
Example floating
BeritaDaerahHeadlineHukumInspirasiKriminalNasional

Polemik Tahura Ibarat Dua Sisi Mata Pedang, Melawan Lupa Bersama AMAN

×

Polemik Tahura Ibarat Dua Sisi Mata Pedang, Melawan Lupa Bersama AMAN

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.Net, Sinjai, Sulsel – Warga masyarakat Desa Barambang Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai.Selama ini telah merasa kehilangan hak masyarakat adat setempat, dan berharap pemimpin kabupaten Sinjai memberikan perlindungan dan pengakuan atas hak adat masyarakat tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh Ismail yang merupakan seorang tokoh adat Barambankatute dan anggota Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) Wilayah Sulawesi Selatan, Jum’at (12/02/2021).

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

“Saya berharap agar yang menahkodai Sinjai supaya memberikan pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat di Kabupaten Sinjai pada umumnya dan warga adat Desa Barambankatute pada khususnya. Apalagi saya lihat saat banyak yang bermunculan Tokoh namun Visi dan misinya tidak jelas seperti apa, perlu kita sadari sebagaimana Sinjai di kenal sebagai bumi Panrita Kitta”, ujar Ismail.

Hal itulah yang menjadi polemik selama ini di Tahura, dan berharap adanya perlidungan dan pengakuan atas hak-hak masyarakat adat Barambang Katute maupun sekitarnya yang selama ini diklaim oleh pemerintah sehingga menjadi perselisihan pandangan antara warga masyarakat dengan pemerintah termasuk pembangunan Bumi Perkemahaan di Taman Hutan Raya Abd Latif Sinjai.

Menurutnya, pernyataan diatas tidak ada kaitannnya dengan politik dan jangan diasumsikan sebagai hal yang berhubungan dengan kepentingan pribadi maupun kepentingan Kelompok.

Lebih lanjut Ismail sampaikan, bahwa adanya Penolakan pembangunan Bumi perkemahaan di Taman Hutan Raya Abd Latif di Desa Batu Belerang dan penolakan aktivitas tambang di Bontokatute Kecamatan Sinjai Borong dan sekitarnya dengan area seluas 24.830 Ha, Wilayah hutan dengan tanah garapan masyarakat yang tidak jelas batasnya, itu adalah wujud dari adanya polemik itu. Padahal daerah Bontokatute merupakan wilayah adat yang dikenal dengan Adat Barambangkatute.

Baca Juga :  Krontjong Toegoe Tampil Memukau di King’s Day 2026 Bertema Air di Erasmus Huis Jakarta

“Saya berharap kepada anggota Aman kabupaten Sinjai, forum Gerakan Tolak Tambang (Gertak) dan Aliansi Tahura menggugat (ATM) untuk tidak melupakan sejarah yang pernah diperjuangkan pada tahun 2010 hingga November 2013 Silam kini mulai Muncul Isu pertambangan lagi, ada apa sebenarnya di terjadi,” harapnya.

Terkait pembangunan Bumi perkemahaan khususnya yang merasa mendukun pembangunan tersebut dan di anggap dirinya sebagai Tokoh Sebaiknya jangan Asal mendukun lihat dua hal yakni Dihulu dan hilir bagaimana Dampaknya.

“Saya berpesan kepada bagi yang merasa dirinya Tokoh atau di tuakan di Sinjai Borong jangan asal bicara apalagi Asal mendukung karena apa bila dikemudian hari ada hal hal yang tidak di ingikan seperti longsor di hulu dan mengakibatkan banjir di hilir, mau tidak bertanggun jawab, kalau mau bikin surat pernyataan secara tertulis dan bermaterai”, tegas Ismail.

Editor:Dzul

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit