Example floating
Example floating
Daerah

Halaqoh Ke-6, Dandim 0736/Batang Perkenalan Diri dan Berikan Materi Kebangsaan

×

Halaqoh Ke-6, Dandim 0736/Batang Perkenalan Diri dan Berikan Materi Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.Net, Batang, Jateng – Komandan Kodim 0736/Batang Letkol Inf. Dwison Evianto didampingi Kasdim Mayor Kav. Haryono dan Danramil Tersono
menghadiri Halaqoh serta mengisi acara dengan memberikan materi kebangsaan. Bertempat di Aula Rumah Makan Kampung Sawah, Desa Rejosari, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang, Selasa (13/10/20).

Tampak hadir Kapolsek Tersono AKP Akhmad Almunasifi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) diwakili KH. Ijroh Saputro, Camat Tersono H. Bambang Urip Widodo, dan Para Ulama.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Pada acara tersebut, Dandim 0736/Batang Letkol Inf. Dwison Evianto memberikan materi kebangsaan tentang “Menolak Paham Radikalisme.” Dalam momen tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud keberadaannya selama melaksanakan tugas dinas sebagai Dandim 0736/Batang.

”Radikalisme itu merupakan tindakan yang akan melakukan perubahan secara cepat yang tidak mengindahkan aturan. Keras atau brutal, seperti bom bunuh diri,” terang Dandim.

”Tujuan Radikalisme adalah mengklaim kebenaran beragama bagi kelompoknya sendiri, sedangkan kelompok yang lain dianggap salah. Merasa paling paham agama, merasa punya otoritas dan menghakimi kelompok beda agama. Dalam jihadnya apapun di perbolehkan termasuk bom bunuh diri, pembantaian serta merasa ajaranya yang paling benar,” jelasnya.

Yang menyebabkan berbuat seperti itu di antaranya faktor kemiskinan, kurangnya pendidikan, akan mudah disusupi paham radikalisme, dengan orang semakin berpendidikan akan semakin kritis, Marjinalisasi adalah orang yang terpinggirkan atau disisihkan dan merasa tidak terpakai.

Lanjutnya, tujuan terorisme dan radikalisme di Indonesia antara lain, mendirikan Negara Islam di Indonesia yang notabenya banyak berbagai suku dan adat istiadat.

“Contoh kejadian di Indonesia pada tahun 1999, awal kerusuhan Ambon, konflik di Kalimantan (antara Jawa dan Madura), Bom Natal, Bom Bali, Bom JW Marriot di Jakarta dan pelatihan para militer di Jantho.

Baca Juga :  Pemprov Sulsel: Anggaran Jamuan Bukan untuk Satu Acara

Lanjutnya, Untuk mencegah, kita harus bersama memberikan pengertian tentang paham radikalisme, mempererat ukhuwah Islamiyah dengan hidup berdampingan, kita semua bersaudara.

“Suku, ras, agama, budaya dan adat istiadat merupakan kekayaan serta keberagaman dari bangsa Indonesia, harus saling menjaga serta hidup rukun tetangga,” tuturnya.

“Agama Islam bukan agama untuk kekerasan, sinergitas antara TNI-Polri dan pemerintah bersama masyarakat yang harus tetap kita laksanakan dan terus kita jaga,” pungkas Dwison.

Sementara Camat Tersono H. Bambang Urip Widodo M.M mengucapkan terima kasih karena sudah memfasilitasi Halaqoh Kebangsaan. Ancaman radikalisme sangat memprihatinkan, Jika lihat dari masalalu sudah banyak kejadian.

“Dengan harapan, para ulama dapat menyampaikan ke masyarakat dengan cara pendekatan humanis dan baik. Ini merupakan salah satu tugas kita bersama, saling menjaga sehingga kondisi bisa kondusif. Semoga generasi muda yang berada di wilayah Tersono dapat di berikan pengertian mengenai paham radikalisme, sehingga tidak mudah terprovokas,” tutur Bambang.

Selanjutnya KH. Ijroh Saputro mewakili Ketua MUI Batang KH Zaenul iroki secara resmi membuka Halaqoh Kebangsaan. KH. Ijroh mengatakan bahwa MUI Kabupaten Batang setiap hari Selasa keliling di tiap Kecamatan menyelenggarakan acara Halaqoh Kebangsaan, ini yang ke enam kalinya, di selenggarakan di Tersono, dengan mengikuti Kegiatan yang di laksanakan MUI Jawa Tengah.

Reporter : Niko

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit