Example floating
Opini

Antara Amanah Negara dan Pimpinan Gereja: Pilihan Tegas demi Independensi Suara Kenabian

×

Antara Amanah Negara dan Pimpinan Gereja: Pilihan Tegas demi Independensi Suara Kenabian

Sebarkan artikel ini

Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D., CPC., CPL

Ketua PEWARNA Indonesia DKI Jakarta & Ketua LBH No Viral No Justice DPD DKI Jakarta

Faktual.net – Jakarta – 02 Oktober 2026 – Presiden Prabowo Subianto telah resmi melantik Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2024–2029 di Istana Negara. Di antara nama-nama yang dipercaya menasihati Kepala Negara, terdapat satu nama yang menyita perhatian seluruh umat Nasrani di Indonesia: Pdt. Dr. Jackvlyn Manuputty, M.Th., Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). (Menurut sumber terpercaya Pdt Dr. Jackvlyn Manuputty., M.Th. tidak hadir saat pelantikan karena berada di Thailand. – red).

Pengangkatan ini patut disambut dengan penghormatan tulus. Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan mendasar yang jujur dan perlu diucapkan secara terbuka: apakah merangkap kedua jabatan sekaligus — memimpin organisasi gereja nasional sekaligus menjadi penasihat Presiden — adalah pilihan yang paling tepat demi menjaga kemurnian suara kenabian?

DAFTAR LENGKAP ANGGOTA DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN (WANTIMPRES) PERIODE 2024–2029

Berikut seluruh nama lengkap dan gelar anggota Wantimpres yang telah dilantik:

  1. Dr. H. Pratikno — Ketua merangkap Anggota
  2. H. Muhammad Hatta Rajasa — Wakil Ketua merangkap Anggota
  3. Dr. Muhammad Qodari — Sekretaris merangkap Anggota
  4. Sinta Nuriyah Wahid — Anggota
  5. K.H. Muhammad Quraish Shihab, M.A. — Anggota
  6. H. Agum Gumelar — Anggota
  7. Dr. H. Chairul Tanjung — Anggota
  8. K.H. Said Aqiel Siradj, Ph.D. — Anggota
  9. K.H. Anwar Iskandar — Anggota
  10. K.H. Yahya Cholil Staquf — Anggota
  11. Dr. Jusuf Wanandi — Anggota
  12. Jenderal Pol. (Purn.) Dr. Budi Gunawan — Anggota
  13. H. Bambang Soesatyo — Anggota
  14. H. Salim Segaf Al-Jufri — Anggota
  15. Dr. H. Soekarwo — Anggota
  16. Dato’ Sri Dr. Tahir — Anggota
  17. Dr. Rocky Gerung — Anggota
  18. Dr. Ida Bagus Purwalaksana — Anggota
  19. Dr. Philip Kuncoro Wijaya — Anggota
  20. Budi Santoso Tanuwibowo — Anggota
  21. Dr. Anwar Usman — Anggota
  22. Mohamad Hatta — Anggota
  23. H. Jusuf Hamka — Anggota
  24. Dr. Margarito Kamis — Anggota
  25. Pdt. Dr. Jackvlyn Manuputty, M.Th. — Anggota
  26. Ir. Ignasius Jonan — Anggota

Di jajaran ini, Pdt. Dr. Jackvlyn Manuputty, M.Th. adalah satu-satunya pimpinan tertinggi lembaga gereja nasional yang duduk sebagai anggota Wantimpres. Penempatan ini sekaligus mengangkat martabat seluruh umat Nasrani, namun juga membawa beban ganda yang tidak ringan untuk dipikul sekaligus.

UCAPAN SELAMAT YANG TULUS

Pertama-tama, seluruh umat Nasrani menyampaikan selamat dan penghormatan yang mendalam kepada Pdt. Dr. Jackvlyn Manuputty, M.Th. Kepercayaan yang diberikan Presiden ini adalah pengakuan atas kiprah, ketegasan, pengabdian, dan integritas yang telah beliau tunjukkan selama ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan hikmat, kesehatan, kekuatan, dan penyertaan untuk menjalankan amanah ini sebaik-baiknya bagi bangsa, negara, dan seluruh umat.

Namun penghormatan yang tulus tidak berarti menutup mata terhadap pertanyaan yang lahir dari keprihatinan yang sama tulus: apakah memegang dua amanah puncak sekaligus adalah cara terbaik untuk melayani keduanya?

MENGAPA HARUS MEMILIH: INDEPENDENSI DI ATAS SEGALA-GALANYA

Suara gereja kepada negara adalah suara kenabian. Ia tidak boleh terikat, tidak boleh tawar, dan tidak boleh dicampuradukkan dengan kepentingan apa pun — termasuk kepentingan lembaga gereja yang dipimpinnya. Ketika seseorang duduk di dua kursi pimpinan tertinggi sekaligus, muncul persoalan yang bukan soal pribadi, melainkan soal prinsip yang menyangkut kepercayaan publik:

Jika Tetap Merangkap: Risiko yang Nyata

– Suara kenabian menjadi tumpul. Ketika gereja perlu mengingatkan negara atas ketidakadilan, pelanggaran hak, atau kebijakan yang kurang berpihak pada rakyat, siapa yang dapat memastikan: apakah suara itu mewakili kebenaran yang lurus, atau mewakili posisi yang sedang bernegosiasi dengan kekuasaan? Keraguan ini sendiri sudah melemahkan daya lurus suara gereja.

– Kepentingan tercampur. Apakah kebijakan yang menguntungkan umat Nasrani itu lahir dari keadilan semata, atau karena pimpinan gereja duduk di lingkaran kekuasaan? Keraguan ini, sekecil apa pun, sudah merusak kemurnian pelayanan.

– Beban ganda yang menguras fokus. PGI membutuhkan kepemimpinan penuh waktu, perhatian utuh, dan ketenangan untuk menyusun program gereja yang luas. Wantimpres pun menuntut pemikiran mendalam, waktu yang cukup, dan tanggung jawab pribadi yang menyeluruh.

– Mekanisme internal PGI terabaikan. PGI memiliki tata kelola, musyawarah, dan regenerasi kepemimpinan sendiri. Ketua Umum adalah amanah dari seluruh gereja anggota — bukan jabatan yang dapat dijalankan sambil menunaikan tugas negara yang berat dan menyita perhatian nasional.

Jika Memilih Satu: Keuntungan yang Lebih Besar dan Langgeng

– Suara menjadi jernih dan didengar sepenuhnya. Ketika berbicara, rakyat tahu: itu adalah suara gereja, bebas, mandiri, tidak berutang apa pun kepada siapa pun.

– Integritas terjaga tanpa keraguan. Tidak ada pihak yang dapat menuduh adanya kompromi. Tegak lurus — kepada Tuhan, kepada kebenaran, kepada umat yang dipercayakan.

– Kepemimpinan PGI berjalan sehat dan berkelanjutan. Mekanisme pergantian dan pemilihan pemimpin berjalan sesuai aturan dan musyawarah yang berlaku.

– Fokus pada amanah yang diemban. Menasihati Presiden adalah tugas mulia dan berat. Menjalankannya tanpa beban jabatan lain justru membuat nasihatnya lebih berwibawa, lebih berani, dan lebih jujur — tanpa beban kepentingan lembaga apa pun.

HARAPAN: PILIHAN YANG MEMULIHKAN KEPERCAYAAN

Umat Nasrani tidak meminta Pdt. Dr. Jackvlyn Manuputty, M.Th. menolak amanah negara. Sebaliknya, umat berharap beliau memilih jalur yang justru memperkuat kemuliaan kedua amanah tersebut:

Menerima kepercayaan mulia sebagai Anggota Wantimpres, dan menyerahkan kepemimpinan PGI kepada mekanisme musyawarah organisasi yang berlaku.

Dengan demikian:

– Beliau menjadi penasihat negara yang bebas, mandiri, dan tidak terikat kepentingan lembaga apa pun;

– PGI tetap memiliki pimpinan yang utuh, penuh waktu, dan dipilih melalui proses yang sah oleh keluarga besarnya;

– Suara kenabian gereja kepada negara tetap lurus — tidak dibayangi kedekatan kekuasaan, tidak juga dijauhkan dari kebenaran;

– Teladan integritas ini menjadi warisan terindah: bahwa jabatan bukan untuk dikumpulkan, melainkan dipertanggungjawabkan satu per satu dengan segenap kemampuan.

PENUTUP

Bangsa ini butuh pemimpin agama yang berani tampil di depan, tetapi jauh lebih butuh pemimpin agama yang berani memilih agar suaranya tetap murni.

Pdt. Dr. Jackvlyn Manuputty, M.Th. dipercaya oleh Presiden dan dipercaya oleh umat. Kini saatnya mempercayai proses: biarkan PGI memilih pemimpinnya sendiri sesuai mekanisme, dan biarkan beliau menasihati negara dengan tangan yang bebas, hati yang jernih, dan suara yang lantang tanpa ragu.

Itulah pengabdian yang paling tinggi: bukan memegang dua tampuk sekaligus, melainkan melepaskan satu agar keduanya terhormat di hadapan Tuhan dan manusia.

Red

Tanggapi Berita Ini