Faktual.net – Jakarta Barat, DKI Jakarta – Genosida Umat Kristen Nigeria: Indonesia Harus Bertindak, Jangan Jadi Penonton! Itulah sepenggal kata yang mengarahkan Umat Kristen memiliki tanggung jawab suara kenabian. Tragedi kemanusiaan yang mengerikan di Nigeria, di mana ribuan umat Kristen menjadi korban pembantaian sistematis, telah mencapai titik nadir. Dalam diskusi daring yang penuh emosi bertajuk “Pembantaian Umat Kristen di Nigeria: Siapa Peduli?” yang diselenggarakan pada Minggu (12/10/2025), para tokoh agama dan aktivis menyerukan agar Indonesia tidak lagi menjadi penonton bisu, tetapi mengambil tindakan nyata.

Acara yang digagas oleh Pewarna Indonesia, Simposium Setara Menata Bangsa, dan Asosiasi Pendeta Indonesia (API) ini menghadirkan mantan diplomat Partogi Samosir dan Pdt. Ronny Mandang dari Majelis Pertimbangan PGLII sebagai pembicara utama. Mereka dengan tegas menggambarkan situasi di Nigeria sebagai “genosida yang sedang berlangsung,” di mana nyawa manusia tidak lagi berharga di mata kelompok-kelompok ekstremis.
Nick Irwan, moderator diskusi, membuka acara dengan data yang mengejutkan dari Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED), yang membuktikan bahwa berita tentang pembantaian ini bukanlah hoaks, melainkan realitas yang mengerikan.
“Ribuan nyawa telah melayang, dan sebagian besar adalah umat Kristen. Ini bukan lagi sekadar isu regional, ini adalah kejahatan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dan tindakan segera,” tegas Nick dengan nada geram.

Partogi Samosir, dengan pengalaman diplomasi yang luas, menjelaskan bahwa akar konflik ini sangat kompleks, melibatkan perebutan sumber daya alam, ketimpangan ekonomi yang mencolok, dan manipulasi politik identitas oleh kelompok-kelompok radikal seperti Boko Haram.
“Pemerintah Nigeria gagal melindungi warganya, dan ini telah menciptakan lahan subur bagi kekerasan yang tak terkendali,” ujarnya dengan nada prihatin.
Namun, yang paling menggugah adalah seruan Pdt. Ronny Mandang, yang tanpa ragu menyebut situasi ini sebagai “genosida.” Ia mendesak gereja-gereja di Indonesia untuk bangkit dari keterdiaman mereka dan mengambil tindakan nyata untuk membantu saudara-saudara seiman mereka di Nigeria.
“Kita tidak bisa lagi hanya berdoa dan berharap. Kita harus bertindak! Ini bukan hanya soal iman, ini soal nyawa manusia yang sedang dibantai!” serunya dengan suara bergetar.
Para penanggap, termasuk Pdt. Yohanis Henock, Hasudungan Manurung, dan Prima Surbakti, membawa diskusi ini lebih dekat ke rumah, menyoroti bahaya apatisme dan intoleransi yang juga mengancam Indonesia.
Hasudungan Manurung dengan tegas menyatakan, “Gereja harus menjadi ‘suara kenabian’ yang berani berbicara kebenaran, bukan hanya tempat ritual yang sunyi.”
Prima Surbakti menambahkan, “Tragedi Nigeria adalah peringatan bagi kita. Jika kita tidak belajar dari sana, sejarah yang sama bisa terulang di sini.”
Diskusi ini ditutup dengan pesan yang kuat: solidaritas sejati diuji dalam penderitaan. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Kristen yang signifikan, memiliki tanggung jawab moral untuk bertindak dan membela keadilan bagi mereka yang tertindas di Nigeria. Diam bukanlah pilihan!
(Red/JS)
















