
Faktual.Net, Kendari — Seorang warga Kelurahan Anawai, Kecamatan Wua-Wua, Kota Kendari menjadi korban pembacokan orang tak dikenal (OTK) saat sedang pesta minuman keras (miras), Kamis (29/5/2025).
Berdasarkan keterangan saksi, pelaku adalah sekelompok orang yang tengah pesta miras tidak jauh dari lokasi kejadian.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Ruang Sipil La Ode Muhammad Safaat menilai peristiwa naas itu merupakan dampak karena Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari tidak mampu mengawasi dan mengontrol penyebaran miras.
Safaat mengaku, persoalan miras sudah ia bawa ke meja DPRD sejak awal tahun, namun inspeksi mendadak (sidak) yang dijadwalkan tak kunjung dilaksanakan. Diketahui, dari 30 outlet penjual miras, 20 diantaranya tidak mengantongi izin.
“Kalau situasinya saat ini ada korban jiwa, biarkan saja. Kita cukup mengantri untuk menjadi korban selanjutnya. Kan seperti itu, pemerintah bisa apa coba, DPRD apalagi. Para elit ini kan hanya bisa ngoceh di media tapi minim tindakan. Kesimpulannya, pemerintah tak berdaya, wakil rakyat tutup mata,” ungkap Safaat.
“Saya sudah sarankan outlet tidak berizin ditutup, outlet yang berizin dihentikan dulu aktifitas penjualannya karena situasi kota kita ini tengah berada pada fase darurat miras, toh saat ini Perda yang tengah diharmonisasi juga belum selesai. Apakah kita harus menunggu Siska dan Inarto menjadi korban pembacokan baru mau bertindak,” lanjut Safaat.
Setelah usai merangkum semua pendokumentasian dan melengkapi bahan yang dibutuhkan, Safaat berencana kembali membawa masalah ini untuk dilakukan rapat gelar pendapat (RDP). Ia berharap, salah satu idenya tentang satu kecamatan satu outlet miras bisa diterima. Langkah ini cukup efektif untuk mengawasi dan meminimalisir penyebaran miras.
Saat ini Safaat juga sudah mengantongi sejumlah nama legislator yang diduga menjadi tameng sehingga outlet bermasalah tidak tersentuh. Ia berjanji, RDP adalah waktu yang tepat membongkar aib dan kelakuan busuk orang yang bersembunyi dibalik keagungan lencana.
Hingga berita diterbitkan, media ini masi beruapaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
Reporter: Kar














