Example floating
Example floating
Headline

STT Apollos Jakarta Kaji Relasi Agama dan Budaya di Prambanan, Perkuat Semangat Kebangsaan

×

STT Apollos Jakarta Kaji Relasi Agama dan Budaya di Prambanan, Perkuat Semangat Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net  – Yogyakarta  Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apollos Jakarta kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan pendidikan tinggi berbasis riset melalui penelitian lapangan di kawasan Candi Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (2/6/2026). Mengusung tema “Menemukan Kesamaan Religius untuk Membangun Ruang Dialog Agama dalam Bingkai NKRI,” kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun perspektif teologis yang kontekstual, inklusif, dan relevan dengan realitas kebangsaan Indonesia.

Penelitian yang berlangsung pukul 10.00–12.30 WIB tersebut diikuti oleh 14 mahasiswa bersama dosen pembimbing akademik dan didampingi dua pemandu profesional di bidang sejarah, budaya, dan arkeologi. Observasi dilakukan mulai dari area pelataran hingga kompleks utama candi guna mengkaji aspek religius, historis, sosial, dan budaya yang terkandung dalam salah satu warisan peradaban Nusantara tersebut.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Kegiatan ini turut dihadiri Ketua STT Apollos Jakarta Dr. Daud Alfons Pandie, M.Th., M.Mis., Ketua LP2M Rustam Larope, M.Pd., Ketua SPMI Maria Analisa, M.Th., Wakil Ketua I Dr. Gustaf Kase, Wakil Ketua III Dr. Jemrif Nabunome, serta Kepala Program Studi Teologi Aleksander Selan, M.Th.

Dalam sambutannya, Dr. Daud Alfons Pandie menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak dapat dibatasi hanya pada ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa perlu berinteraksi langsung dengan realitas sosial, budaya, dan keagamaan agar mampu mengembangkan kemampuan analisis yang lebih kontekstual dan kritis.

“Pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah perlu diuji dan diperkaya melalui pengalaman empiris di lapangan. Perguruan tinggi harus menghadirkan ruang belajar yang memungkinkan mahasiswa berjumpa secara langsung dengan keragaman budaya, agama, dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Penelitian ini juga menjadi wahana integrasi berbagai mata kuliah seperti Teologi Agama-agama, Misi Lintas Budaya, Antropologi Budaya, dan Sosiologi Agama. Melalui pendekatan interdisipliner tersebut, mahasiswa diajak memahami hubungan antara agama, budaya, identitas, dan kehidupan kebangsaan secara lebih mendalam.
Secara akademik, pemilihan Candi Prambanan memiliki relevansi yang kuat karena situs warisan dunia tersebut tidak hanya merepresentasikan tradisi Hindu Siwa (Shaivisme) pada masa Mataram Kuno abad ke-9 Masehi, tetapi juga mencerminkan perjumpaan antara nilai-nilai religius, budaya, seni, arsitektur, dan kekuasaan politik dalam sejarah Nusantara. Keberadaan kompleks candi yang didedikasikan kepada Trimurti—Brahma, Wisnu, dan Siwa—menunjukkan bagaimana sistem kepercayaan diwujudkan dalam bentuk budaya yang memiliki makna filosofis dan spiritual yang mendalam.

Baca Juga :  Rosmauli Tim  Humas Pattimura Internasional Bight Fight 2026 Ucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Ketua Umum GRIB

Hasil observasi menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak selalu berada dalam hubungan yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berinteraksi secara dinamis dan melahirkan nilai-nilai universal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Temuan ini sejalan dengan tema penelitian yang berangkat dari kenyataan bahwa iman kerap ditempatkan dalam posisi superior sehingga mengabaikan budaya sebagai bagian dari kearifan lokal.

Menurut tim peneliti, berbagai tradisi keagamaan memiliki nilai-nilai universal yang sama, seperti penghormatan terhadap kehidupan, pencarian kebenaran, tanggung jawab moral, penghargaan terhadap sesama, dan upaya menciptakan harmoni sosial. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi titik temu dalam membangun dialog antaragama tanpa harus menghilangkan identitas keyakinan masing-masing.

 

Sejalan dengan orientasi teologi STT Apollos Jakarta yang berfokus pada misi dengan pendekatan holistik, penelitian ini menegaskan bahwa budaya, bahasa, tradisi lokal, dan konsep-konsep religius dapat menjadi instrumen strategis dalam membangun komunikasi dan dialog antariman. Pendekatan tersebut tidak dimaksudkan untuk mencampuradukkan keyakinan, melainkan memperkuat sikap saling menghormati, saling memahami, dan memperkokoh persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melalui kegiatan ini, STT Apollos Jakarta berharap mahasiswa mampu mengembangkan wawasan teologis yang terbuka, kritis, dan kontekstual, sekaligus memiliki sensitivitas sosial yang tinggi. Penelitian ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah ancaman bagi kehidupan beragama, melainkan ruang perjumpaan yang memungkinkan lahirnya dialog, kerja sama, dan rekonsiliasi demi terwujudnya kehidupan yang harmonis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Red/js

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit