Example floating
BeritaDaerahPemerintahan

Warga Tanakaraeng Blokir Proyek Koperasi, Alat Berat Diturunkan Tanpa Izin – Ketegangan dengan Koramil Parangloe Meningkat

×

Warga Tanakaraeng Blokir Proyek Koperasi, Alat Berat Diturunkan Tanpa Izin – Ketegangan dengan Koramil Parangloe Meningkat

Sebarkan artikel ini

Faktual.net,Gowa,Sulsel – 27 Maret 2026  Konflik terbuka mulai mengemuka di Dusun Tanakaraeng, Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa. Puluhan warga turun langsung menghadang rencana pembangunan Koperasi Merah Putih Desa Pattallikang yang dinilai dipaksakan tanpa persetujuan masyarakat setempat.

Aksi penolakan terjadi Jumat siang sekitar pukul 13.05 WITA, melibatkan sekitar 50 warga yang dipimpin tokoh pemuda Ali Afid Dg Naba. Massa secara tegas menolak proyek yang dianggap menabrak batas administratif dan mengabaikan hak warga lokal.

Minim Sosialisasi, Warga Merasa “Diterobos ”Penolakan dipicu ketiadaan sosialisasi resmi. Warga mengaku tidak pernah dilibatkan, bahkan sekadar diberi pemberitahuan sebelum rencana pembangunan dijalankan.

Lebih jauh, warga mempertanyakan logika pembangunan koperasi Desa Pattallikang yang justru diarahkan ke wilayah Desa Tanakaraeng.

“Ini bukan wilayah mereka. Kenapa dipaksakan di sini tanpa bicara dengan warga?” tegas salah satu peserta aksi.

Jejak Awal: Permohonan Lahan Tanpa KepastianP enelusuran menunjukkan rencana ini bermula sejak Februari 2026, ketika Pemerintah Desa Pattallikang bersama Koramil 1409-02 Parangloe mengajukan permohonan penggunaan lahan ke PTPN Gula Takalar.

Alasan yang digunakan: Desa Pattallikang tidak memiliki lahan untuk pembangunan koperasi.

Namun hingga kini, tidak ada persetujuan resmi dari pihak PTPN. Artinya, dasar hukum penggunaan lahan masih abu-abu—sementara aktivitas lapangan sudah berjalan.

Alat Berat Turun, Situasi Langsung MemanasP uncak ketegangan terjadi sehari sebelumnya, Kamis (26/3), saat satu unit excavator merek Sany diturunkan ke lokasi oleh pihak Koramil Parangloe untuk meratakan lahan.

Baca Juga :  Desak Pencopotan dan Evaluasi Sekda Kota Makassar, Massa Soroti Pengelolaan Aset Daerah

Langkah ini dianggap sebagai bentuk “aksi sepihak” yang memicu kemarahan warga. Tanpa izin, tanpa komunikasi, alat berat langsung bekerja.

Warga pun bergerak cepat menghentikan aktivitas tersebut. Aparat Turun, Konflik Belum Reda

Kapten Cke Tumiran bersama jajaran Babinsa Kecamatan Manuju turun melakukan koordinasi dengan pemerintah dua desa untuk meredam situasi.

Namun kondisi di lapangan masih jauh dari kondusif. Warga menyatakan siap kembali turun dengan massa lebih besar jika proyek tetap dipaksakan. Ketidakjelasan status lahan dan absennya dialog menjadi bahan bakar utama eskalasi konflik.

Potensi Bentrok Nyata

Situasi saat ini berada di titik rawan. Aktivitas pembangunan yang dipaksakan tanpa legitimasi sosial berpotensi memicu bentrokan langsung antara warga dan aparat.

Ketegangan bukan lagi sekadar penolakan administratif, tetapi telah berkembang menjadi konflik terbuka yang menyentuh rasa keadilan masyarakat.

Imbauan Keamanan: Dialog atau Konflik

Pihak keamanan mengimbau semua pihak menahan diri dan mengedepankan dialog terbuka. Pendekatan persuasif terus dilakukan guna mencegah eskalasi yang lebih luas.

Namun di lapangan, pesan itu berhadapan dengan realitas: warga menuntut kejelasan, bukan sekadar imbauan.

Jika tidak ada transparansi dan komunikasi yang nyata, Tanakaraeng berpotensi menjadi titik konflik baru di Kabupaten Gowa.

Reporter : Sattu

Tanggapi Berita Ini