faktual.net, Muna, Sultra. Menjadi lokasi penerapan model pemberdayaan UMKM berbasis pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang dikombinasikan dengan strategi digitalisasi kontekstual. Program ini dipimpin oleh Laode Baka, dosen Universitas Karya Persada, sekaligus penerima hibah penelitian dari Kemendikbudristek tahun 2025.
Penelitian ini berfokus pada penguatan daya saing UMKM melalui pemanfaatan kekuatan lokal seperti budaya, keterampilan tradisional, dan gotong royong masyarakat. Salah satu terobosannya adalah pelibatan pemuda desa sebagai agen digital lokal untuk memperkenalkan teknologi sederhana ke pelaku UMKM. “Kami ingin perubahan yang mengakar, bukan sekadar pelatihan lalu ditinggal,” ujar Laode Baka kepada media.
Selama proses riset yang berlangsung beberapa bulan, tim peneliti melakukan pendampingan langsung terhadap pelaku UMKM di berbagai kecamatan di Muna. Mereka menggunakan metode partisipatif dan studi kasus multipel untuk menggali praktik terbaik yang bisa direplikasi. Beberapa temuan menarik muncul, di antaranya penggunaan rotan dan nentu (paku hata) sebagai bahan dasar kerajinan yang masih dilestarikan oleh warga.
Di sisi lain, literasi digital pelaku usaha masih rendah, sehingga strategi digitalisasi harus dimulai dari platform paling sederhana seperti WhatsApp dan Facebook. “Kami temukan bahwa intervensi teknologi harus menyesuaikan dengan realitas komunitas, bukan malah membebani,” tambah Laode.
Model yang dikembangkan dalam penelitian ini menggabungkan pemetaan aset komunitas, proses co-design bersama UMKM, serta pelatihan digital berbasis budaya lokal. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan program top-down yang selama ini diterapkan secara seragam di berbagai wilayah.
Dalam praktiknya, pelaku UMKM diajak merancang strategi bisnis mereka sendiri berdasarkan kekuatan yang dimiliki komunitas. Pelatihan digital dilakukan secara bertahap, mulai dari pembuatan katalog produk digital hingga promosi di media sosial. Hasilnya, beberapa UMKM mulai mendapatkan pesanan dari luar daerah melalui jaringan digital sederhana.
Selain penguatan internal komunitas, riset ini juga mendorong kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang inklusif. Laode menilai penting adanya kebijakan berbasis bukti (evidence-based) yang lahir dari riset lapangan, bukan hanya hasil seminar.
Ia juga menyarankan agar pemerintah fokus pada pengembangan talenta digital lokal dan penyediaan akses internet di desa-desa produktif. Model ABCD-digital ini kini menjadi rujukan internal kampus Universitas Karya Persada untuk pengabdian masyarakat berbasis riset. “Kuncinya ada pada kekuatan lokal dan kemauan gotong royong,” ujarnya.
Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi akademik, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan kebijakan intervensi UMKM yang lebih kontekstual. Melalui dokumentasi visual dan laporan pertanggungjawaban yang telah dibuat, hasil riset ini rencananya akan dipublikasikan secara terbuka melalui kanal YouTube kampus.
Tim peneliti juga tengah menyiapkan naskah jurnal ilmiah untuk diterbitkan di jurnal nasional terakreditasi. Laode berharap, hasil penelitian ini dapat direplikasi di kabupaten lain yang memiliki karakteristik sosial-budaya serupa. “Ini bukan hasil akhir, tapi pijakan awal untuk gerakan pemberdayaan yang lebih besar,” tegasnya.
Program hibah ini merupakan bagian dari skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) yang diselenggarakan oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat – Kemendikbudristek. Universitas Karya Persada secara aktif mendorong dosennya untuk berkontribusi dalam riset berbasis lokalitas sebagai bentuk tanggung jawab institusional terhadap pembangunan daerah.
Dalam konteks Sulawesi Tenggara, model seperti ini menjadi penting karena banyak UMKM berada di wilayah yang belum tersentuh transformasi digital secara optimal. Penelitian ini menunjukkan bahwa kekuatan sosial, budaya, dan teknologi bisa disatukan dalam satu kerangka pemberdayaan yang relevan. “Kalau kita percaya pada kekuatan komunitas, maka perubahan itu akan tumbuh dari bawah, bukan dari atas,” pungkas Laode Baka.
Redaksi















