Cover : Foto Dr. Andri Budiman, M.Pd.K – Dosen Pengampu Mata Kuliah Teologi Misi Kontekstual dan Ketua STTI Philadelphia
Faktual.net – Jakarta Timur, DKI Jakarta – Rabu, 22 April 2025/6 – ✅ KELEBIHAN BUKU
1. Kerangka Pemikiran yang Sistematis dan Mudah Dipahami
Bevans membagi pendekatan teologi kontekstual menjadi enam model, yaitu: Terjemahan, Antropologis, Praksis, Sintesis, Transendental, dan Budaya Tandingan. Pembagian ini sangat membantu pembaca memahami keragaman cara berteologi yang disesuaikan dengan budaya, situasi sosial, dan pengalaman manusia.
2. Menghargai Keberagaman dan Dinamika Konteks
Buku ini menekankan bahwa tidak ada satu model teologi yang berlaku secara universal. Setiap konteks memiliki karakteristik tersendiri, sehingga teologi harus bersifat dinamis dan responsif terhadap realitas lokal. Hal ini sangat relevan bagi dunia yang majemuk dan multikultural.
3. Menyeimbangkan Antara Tradisi dan Konteks
Bevans tidak hanya berfokus pada adaptasi budaya, tetapi juga tetap menjaga integritas ajaran Kristen. Ia menunjukkan bagaimana Injil dapat hadir dalam budaya tanpa kehilangan identitasnya, sekaligus mampu mengkritisi aspek budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai iman.
4. Relevan untuk Praktik Misi dan Pelayanan
Buku ini menjadi panduan praktis bagi misionaris, pendeta, dan akademisi dalam merumuskan teologi yang dapat diterima dan dimengerti oleh masyarakat setempat, serta mendorong keterlibatan aktif dalam perubahan sosial.
⚠️ KEKURANGAN DAN KRITIK TERHADAP BUKU
1. Masalah Metodologis dan Kekaburan Definisi
Beberapa kritikus menilai bahwa batasan antara satu model dengan model lain tidak selalu jelas. Ada kecenderungan tumpang tindih, sehingga sulit menentukan di mana satu model berakhir dan model lain dimulai. Selain itu, definisi “konteks” itu sendiri kadang terlalu luas, yang berpotensi menimbulkan interpretasi yang beragam.
2. Risiko Relativisme dan Pengenceran Kebenaran
Dengan menekankan bahwa semua teologi bersifat kontekstual, muncul kekhawatiran bahwa kebenaran mutlak Injil bisa menjadi relatif. Pendekatan yang terlalu fleksibel dikhawatirkan dapat melemahkan doktrin inti atau memudarkan identitas khas Kristen, terutama jika terlalu mengikuti arus budaya tanpa kritik yang memadai.
3. Kurang Menekankan Peran Ilahi yang Otonom
Sebagian kritik menyebutkan bahwa buku ini lebih menekankan pada aspek budaya, pengalaman manusia, dan proses intelektual. Akibatnya, peran Tuhan sebagai sumber wahyu yang independen dan yang bekerja di luar batas budaya manusia terkesan kurang mendapatkan porsi yang cukup.
4. Tidak Cukup Membahas Konflik Antar-Model
Bevans menjelaskan kelebihan masing-masing model, namun kurang mendalam membahas bagaimana model-model tersebut bisa bertentangan satu sama lain dalam praktiknya. Misalnya, seseorang yang menggunakan model “Budaya Tandingan” mungkin akan sulit memahami atau menerima pendekatan model “Antropologis” yang lebih terbuka terhadap budaya.
5. Potensi Romantisisme Budaya
Pada model tertentu (seperti model Antropologis), terdapat risiko melihat budaya sebagai sesuatu yang baik secara mutlak tanpa analisis kritis yang mendalam. Hal ini bisa berujung pada sinkretisme atau pencampuran ajaran yang tidak sesuai dengan iman Kristen.
✍️ KESIMPULAN
Secara keseluruhan, Models of Contextual Theology adalah karya yang sangat penting dan menjadi rujukan utama dalam studi teologi kontekstual. Kelebihannya terletak pada kerangka berpikir yang jelas, penghargaan terhadap keberagaman, dan relevansi praktis.
Namun, pembaca perlu tetap bersikap kritis terhadap potensi kekaburan metodologis dan risiko relativisme. Keseimbangan antara respons yang sensitif terhadap konteks dan kesetiaan yang teguh terhadap wahyu Tuhan tetap menjadi kunci utama dalam memanfaatkan karya ini.
Oleh: Johan S – NIM: 2516057002 – Prodi: Magister PAK STTI Philadelphia
Dosen Pengampu: Dr. Andri Budiman, M.Pd.K
















