Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA+D
Faktual.net – Jakarta Barat – Kamis (12/1/2026) – Dalam teologi Kristen, memprioritaskan Tuhan adalah prinsip dasar yang menjadikan Dia sebagai pusat kehidupan dan segala tindakan orang percaya.
Konsep ini berakar pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Yang Mahakuasa, sumber segala kehidupan, dan layak mendapatkan penghormatan, ketaatan, serta pengabdian yang tertinggi.
Dasar Alkitabiah tentang Memprioritaskan Tuhan
– Perintah Utama: Dalam Keluaran 20:3, Tuhan menyatakan, “Janganlah kamu memiliki sembahan berhala lain di hadapan-Ku.” Ini menetapkan kedudukan Tuhan yang tidak dapat digantikan di atas segala kesetiaan dan cinta lainnya. Sedangkan Ulangan 6:5 menginstruksikan, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu,” yang menekankan keseluruhan dedikasi kepada-Nya.
– Ajaran Yesus: Yesus menegaskan prinsip ini dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka segala sesuatu itu akan ditambahkan kepadamu.” Ia menekankan pentingnya mengutamakan kerajaan dan kebenaran Allah di atas kekhawatiran duniawi, dengan janji bahwa kebutuhan akan terpenuhi.
– Nilai Pengetahuan akan Kristus: Rasul Paulus dalam Filipi 3:7-8 menulis, “Apa saja yang dahulu menjadi keuntungan bagiku, aku kini menganggapnya sebagai kerugian karena Kristus. Lebih dari itu, aku menganggap segala sesuatu itu sebagai sampah karena keunggulan yang besar dari pengetahuan akan Kristus Yesus, Tuhanku, karena Dia aku telah merelakan segala sesuatu dan menganggapnya sebagai sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Ini menunjukkan bahwa segala hal lain tidak berarti dibandingkan dengan hubungan dengan Kristus.
– Ketaatan sebagai Wujud Kasih: Dalam Yohanes 14:15, Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku.” Ketaatan kepada perintah-Nya adalah manifestasi dari cinta yang menjadikan kehendak Tuhan sebagai prioritas utama.
Penerapan Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari
– Hidup Rohani: Memprioritaskan Tuhan melibatkan komitmen harian dalam doa, pembacaan Alkitab, dan ibadah untuk memperdalam hubungan dengan-Nya (Mazmur 63:1). Hal ini juga berarti memusatkan pikiran pada hal-hal yang berasal dari sorga (Kolose 3:1-2).
– Pengambilan Keputusan: Dalam setiap keputusan, besar atau kecil, orang percaya harus mencari petunjuk Tuhan dan memastikan bahwa pilihan yang diambil sesuai dengan nilai-Nya (Amsal 3:5-6).
– Pengelolaan Keuangan: Amsal 3:9-10 menyatakan, “Hormatilah TUHAN dengan kekayaanmu dan dengan hasil pertama dari segala hasil panenmu; maka lumbungmu akan dipenuhi dengan kelimpahan, dan tempayanmu akan melimpah dengan anggur baru.” Ini menyoroti pentingnya mengutamakan Tuhan dalam urusan keuangan dengan mempercayakan pemberian-Nya.
– Pelayanan: Melayani sesama dalam nama Tuhan adalah cara untuk mengutamakan-Nya. Matius 25:40 mencatat perkataan Yesus, “Sesungguhnya aku berkata kepadamu, karena kamu telah melakukannya kepada salah seorang dari saudara-Ku yang paling kecil ini, kamu telah melakukannya kepada-Ku.”
Tantangan dan Hadiah
– Tantangan: Orang percaya mungkin menghadapi tekanan dari dunia, ambisi pribadi, dan prioritas yang bersaing yang dapat mengalihkan fokus dari Tuhan. Namun, seperti yang diajarkan dalam Ibrani 12:1-2, kita harus “melemparkan segala beban dan dosa yang begitu mudah menjerat kita, dan berlari dengan kesabaran dalam perlombaan yang telah disiapkan bagi kita, dengan memperhatikan Yesus, yang memulai dan menyempurnakan iman kita.”
– Hadiah: Memprioritaskan Tuhan membawa kedamaian dan kebahagiaan yang melampaui pemahaman (Filipi 4:7), hikmat dan petunjuk (Yakobus 1:5), serta ganjaran kekal (Ibrani 11:6). Mazmur 37:4 menjanjikan, “Hiburlah dirimu pada TUHAN, maka Ia akan memberimu hajat hati mu.”
Tantangan Umum dan Solusi Praktis
1. Kesibukan yang Berlebihan
– Tantangan: Kerja, keluarga, urusan rumah tangga, bahkan aktivitas gereja aja bisa bikin kita kelelahan dan gak punya waktu untuk pribadi sama Tuhan.
– Solusi: Jadwalkan waktu khusus sama Tuhan seperti waktu makan atau tidur – bisa mulai dari 10-15 menit sehari aja buat doa dan baca Alkitab. Mazmur 119:147 bilang, “Aku bangun sebelum fajar dan berdoa, aku harap mendengar firman-Mu.”
2. Genggaman Teknologi dan Media Sosial
– Tantangan: Ponsel dan aplikasi bisa jadi “sembahan berhala tersembunyi” yang nyuri perhatian kita dari Tuhan.
– Solusi: Atur batas waktu penggunaan gadget, atau gunakan teknologi untuk kebaikan – misalnya instal aplikasi Alkitab atau podcast renungan rohani yang bisa dengerin saat bepergian.
3. Tekanan dari Dunia dan Standar Sosial
– Tantangan: Mimpi jadi sukses, punya banyak uang, atau diterima orang lain seringkali jadi prioritas yang lebih besar.
– Solusi: Ingat ajaran Matius 6:19-21 tentang menyimpan harta di surga. Cari teman atau kelompok kecil di gereja yang bisa saling mendukung dan mengingatkan satu sama lain tentang nilai-nilai Kristiani.
4. Perasaan Ragu atau Kosong Rohani
– Tantangan: Kadang kita merasa jauh dari Tuhan atau gak merasakan kehadiran-Nya, bikin kita jadi malas untuk tetap menjadikan-Nya prioritas.
– Solusi: Jangan biarkan perasaan jadi pegangan utama – tetap konsisten dalam ibadah dan hubungan dengan orang percaya lain. Roma 10:17 bilang, “Iman datang dari pendengaran, dan pendengaran itu melalui firman Kristus.”
Penulis adalah Mahasiswa Magister PAK STTI Philadelphia, Banten.
Pimpinan Lembaga Pelayanan Literasi Sola Scriptura.
Ketua DKI LBH No Viral No Justice



















