Example floating
Example floating
Opini

Suka Duka Jadi Fasilitator Desa Program READSI Ini Ceritaku

×

Suka Duka Jadi Fasilitator Desa Program READSI Ini Ceritaku

Sebarkan artikel ini
Andriani Fasilitator Program READSI Desa Asinua Jaya Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara
Example 468x60

OPINI DIBUAT OLEH ANDRIANI

Faktual.Net, Konawe, Sultra. Andriani (30 th) akrab dipanggil Ani, oleh teman-teman sesama Fasilitator Desa  dan petani di Desa dampinganya, yaitu Desa Asinua Jaya Kecamatan Asinua Kabupten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara. Terlibat di Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling up Initiative (READSI) dua tahun lalu, tepatnya Oktober 2019. Latar belakang pendidikan Sarjana Pertanian Universitas Haluole, menjadi salah satu panggilan hati untuk mendedikasikan ilmu bergabung di Program READSI. Waktu itu saya mendengar ada pendaftaran lowongan pekerjaan sebagai Fasilitator Desa untuk Program READSI, selanjutnya saya menyiapkan dokumen yang disyaratkan, untuk dikirim ke Dinas Tanaman Pangan Horikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Konawe. Selanjutnya mengikuti tes tertulis dan wawancara di BPSDM Kota Kendari, Alhamdulillah saya lulus seleksi, dari beberapa banyak pendaftar, saya salah satu yang beruntung terjaring di program READSI. Lulusan Fakultas Pertanian UHO tahun 2013, sempat mengajar di Unversitas Lakidende (Unilaki) di Kabupaten Konawe tahun 2014 selama satu semester, namun karena persaingan gelar membuat saya harus berhenti sebab gelar saya masih S1. Selanjutnya peluang rezki terbuka di sebuah program bernama Agroforestry and Forestry (AGFOR) sebagai enumerator selama empat puluh lima hari. Tahun 2016 mengisi kegiatan Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan di Perdesaan (PSP3), suatu program dari Kementerian Pemuda dan Olahraga selama satu tahun saya bekerja disitu, yaitu dari 2015 sampai tahun 2016.  Kemudian pada tahun 2017 saya mendengar ada peluang terbuka di program Swisscontact sebagai Field Fasilitator (FF), saya diterima dan bekerja selama 20 bulan.   Semua kesempatan untuk mencari kerja dan mendedikasikan ilmu sesuai latar belakang pendidikan saya, rasanya belum ada yang kena dihati, namun daripada diam saya tetap mencari-cari informasi lowongan pekerjaan, sampai akhirnya bertemu dengan Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling up Initiave (READSI) di tahun 2019.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Setelah mendaftar dan mengikuti seleksi masuk Program READSI, menunggu waktu enam bulan untuk mengetahui saya dinyatakan diterima, menjali seorang Fasilitator Desa (FD), sejak pertengahan tahun 2019 hingga kini November 2021. Ucapan terimakasih kepada Program READSI yang telah menerima saya bekerja sebagai Fasilitator Desa di Desa Asinua Jaya Kecamatan Asinua Kabupaten Konawe. Saya merasa bangga bisa bersaing dengan banyak teman-teman yang tidak kalah dari saya kapasitasnya.

Bekerja di Program READSI yang saya rasakan, sangat menambah pengalaman dan pengetahuan, yang berbeda dari ilmu di perguruan tinggi Fakultas Peranian. Di pekerjaan ini saya bisa langsung bertemu dengan petani, berinteraksi dengan mereka. Salah satu kegiatan READSI pertama yaitu Kegiatan Sekolah Lapang (SL) mengecas pengetahuan saya kembali tentang ilmu yang saya pernah dapat di bangku perguruan tinggi.

Dua tahun menjalani tugas sebagai FD di Desa Asinua Jaya, rasanya makin membuat saya cinta dengan pekerjaan ini, dimana interaksi dengan petani saat ke lapangan membuat kesan tersendiri dalam kehidupan saya, mereka sangat menghargai saya dan begitu pula sebaliknya saya sangat berterimakasih atas sambutan para petani di desa dampingan saya, lantaran itu kini mereka menjadikan saya orang yang tepat untuk diajak bercerita tentang apapun yang terjadi di desa, curhat petani tumpah ruah saat saya sudah duduk bersama diantara mereka disela menyelesaikan tugas dari Program READSI. Ibaratnya jarum yang hilang pun mereka curhat, saya pun harus betah mendengarkan cerita mereka, meski harus pulang kemalaman, atau bahkan tak pulang alias bermalam dirumah petani, sebab kondisi medan tak memungkin saya harus pulang ke rumah apabila kemalaman bercerita.

Sebelumnya saya tidak mengenal siapa mereka, petani di desa dampingan saya itu, sebab saya sendiri tinggal di Kota Unaaha Kabupaten Konawe, yang jaraknya memakan waktu tempuh 1 jam lebih. Namun tanggung jawab sudah didepan mata, amanah sudah diberikan, saya harus menjalankan dengan penuh antusias.

Sebenarnya saat mendaftar sebagai FD saya tidak pernah memilih Desa Asinua Jaya, melainkan saya memilih di desa yang lokasinya paling dekat dengan domisili saya. Sebelumnya memang saya sudah mengetahui bagaimana medan di Desa Asinua Jaya, selain jauh dari kota Unaaha ibukota Kabupaten Konawe, sehingga banyak calon FD pelamar Program READSI menghindari ditempatkan di desa itu. Saya tidak bisa menolak saat amanah diberikan ke saya untuk ditempatkan di Desa Asinua Jaya karena tidak ada lagi lokasi desa yang kosong.

Sebagai perempuan awalnya saya merasa ada ketakutan saat mengetahui ditempatkan di Desa Asinua Jaya, rasanya was-was apakah bisa saya kerjakan ini, lokasinya bukan saja jauh, namun medannya yang sangat ekstrim bagi saya. Lalu, saya berpikir tidak ada yang tidak bisa jika ada kemauan, saya bertekad untuk mencoba mengalahkan kecemasan dalam hati saya tentang gambaran medan dan orang-orang yang belum saya kenal di desa itu.

Hal pertama yang saya lakukan saat ditempatkan oleh Program READSI di Desa Asinua Jaya adalah melakukan koordinasi dengan pemerintah setempat yaitu Pak Abadi Kepala Desa Asinua Jaya, selanjutnya melalui fasilitasi kepala desa Asinua Jaya saya bersilaturahim dengan petani-petani calon dampingan Program READSI yang tentunya nanti akan menjadi orang-orang yang sering saya kunjungi, ini sudah terlintas dibenak saya.

Saya menjelaskan kepada Pak Anas Ketua Kelompok Padi Sawah Morome, tentang diri saya yang akan bertugas mendampingi petani melalui Program yang namanya READSI dan kegiatan pertama yang akan dilakukan adalah Sekolah Lapang, Pak Anas menerima saya dengan baik. Selanjutnya saya melakukan silaturahim ke tujuh poktan yang ditunjukkan oleh Pak Anas, teman sesama Poktan. Koodinasi lainnya saya lakukan kepada Kepala Balai Penyuluhan Pertanian – Penyuluh Pertanian Lapang (BPP PPL) Kecamatan, serta Districk Program Management Official (DPMO) di Kantor Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Konawe.

Dimulailah rutinitas pendampingan. Dalam seminggu saya menjadwalkan paling kurang tida kali harus masuk ke lokasi dampingan saya di Desa Asinua Jaya. Biasanya sebelum masuk ke lokasi dampingan, saya janjian dengan PPL dan kepala BPP untuk bareng atau masuk bersama-sama dan kadang mereka punya waktu bersamaan dengan saya masuk ke lokasi dampingan, namun kadang pula saya masuk sendiri sebab mereka pun mempunyai pekerjaan di kantornya.

Baca Juga :  UKW Bukan Pintu Gerbang, tetapi Cermin Diri: Luruskan Pro-Kontra Agar Tak Terjebak Pemahaman Keliru

Persiapan lain yang harus saya lakukan saat hendak masuk ke desa antara lain menyiapkan perencanaan agenda  apa yang akan saya lakukan nantinya setelah sampai di desa. Saya menyiapkan pulpen buku catatan, dan administrsi lainnya jika ada yang perlu diisi oleh petani di desa.

Sehari sebelum masuk ke desa, saya pun harus menyiapkan beberapa kebutuhan perbekalan seperti kopi, teh dan gula, mie instan, sabun, dan beberapa kebutuhan lainnya, sebab disana susah warung untuk membeli kebutuhan seperti itu. Saya menginap di rumah Pak Slamet anggota Poktan Padi Sawah, namun kadang juga tidak menginap, tergantun kondisi cuaca saja. Jika cuaca hujan maka saya putuskan untuk menginap di desa, sebab untuk pulang dan berjalan malam dengan kondisi jalan yang tidak bersahabat, sangat rawan untuk keselamatan. Jalan yang dilalui tidak banyak yang mulus beraspal, serta harus melewati beberapa tikungan hutan tampa penerangan lampu jalan, serta beberapa jembatan rusak dan menyeberangi sungai yang kadang arusnya cukup tinggi jika musim penghujan tiba.

Berangkat dari rumah di Kota Unaaha menuju lokasi dampingan di Desa Asinu Jaya, biasanya saya star dibawah pukul 7.30, sehingga saya bisa perkirakan sampai dilokasi desa sekitar pukul 09. 00 pagi atau lebih sedikit, alias kurang lebih 1,5 jam. Kadang naik motor sendiri menuju lokasi kadang pula berboncengan dengan PPL  yang sudah janjian sehari sebelumnya.

Medan menuju lokasi dampingan saya itu, menurut saya cukup ekstrim, kondisinya sangat tidak bersahabat untuk dilalui kendaraan roda dua. Kondisi jalan yang begitu buruk, karena tidak semua beraspal, selanjutnya harus menyeberangi sungai untuk menjangkau kelompok tani (Poktan) Padi Sawah. Belum lagi ada banyak jembatan yang harus dilewati sekitar lima jembatan yang terbuat dari balok dan batang kelapa, itu pun sebagian sudah rusak dan lapuk, membuat perasaan cemas saat hendak melewati jembatan berikutnya diujung mata. Untuk melewati jembatan kayu dan batang kelapa itu, haruslah sangat berhati-hati apalagi menggunakan motor, terkadang licin selepas hujan, salah sedikit bisa tergilincir alias jatuh disaluran air, atau bahkan di sungai Asinua di jembatan besar yang menghubungkan Desa Asinua Jaya dan Desa Lasada, jalan yang harus saya lewati dan tak ada alternarif jalan lain. Jika musim hujan tiba, banyak kejadian kendaraan tergelincir atau terperosok, membuat jalur kedua arah berlawanan harus antri menunggu berjam-jam atau bahkan harus membatalkan meneruskan perjalanan jika kendaran yang terperosok itu belum berhasil dievakuasi, sebab tentu menghalangi arus kendaraan, ini saya pun merasakan pengalaman ini.

Lepas dari melewati jembatan, saya pun melalui jalur jalan hutan yang berkelok-kelok, dan tidak seluruhnya beraspal, belum lagi mendapati kampung yang dihuni penduduk di sepanjang hutan itu, jalan ber-aspal pun sudah putus, berganti melewati jalan tanah berbatu ataupun becek saat musim hujan. Di saat musim penghujan, kubangan air di jalan membuat kesulitan kendaraaan roda dua yang saya biasa gunakan, maka kadang saya berjalan kaki untuk sampai ke rumah Poktan, hampir tiga puluh menit lepas menggunakan motor diujung jalan yang tak bisa dipaksakan lagi untuk dilalui kendaraan roda dua.

Rasa capek terbayar jika mata ini sudah melihat ujung atap rumah anggota Poktan dari kejauhan. Mereka biasa mengetahui kedatangan saya, sebab sudah ada perjanjian atau jadwal pada hari sebelumnya. Jadi tiap hari atau diakhir hari kunjugan maka saya berjanji akan datang lagi besok.

Kegiatan yang saya lakukan saat didesa seperti SL, temu lapang, demonstrasi, Farmer Review Day (FRD), kegiatan panen, kegiatan menanam, pertemuan KSP, dan banyak lagi aktivitas lainnya yang biasa sudah dibicarakan sebelumnya.

Mendampingi petani itu, bagi saya kunci Poktan percaya kepada FD, datang tepat waktu disiplin sesuai kesepakatan, jadi kadang saya datang lebih awal dari waktu yang disepakati, sehingga saya harus menunggu kumpulnya petani, tapi kadang pula saya datang terlambat karena ada kendala di jalan, misalnya saat tiba-tiba hujan harus berteduh dulu, atau ada masalah ban bocor, itu semua saya jelaskan mengapa terlambat. Namun diawal perkenalan dengan petani saya datang lebih awal disbanding mereka setiap pertemuan. Konsistenlah dengan jadwal diawal-awal pertemuan dengan Poktan, ini saya lakukan untuk menumbuhkan kepercayaan kepada Poktan, bahwa kita konsisten apa yang kita bicarakan itu kita laksanakan, contohnya tidak terlambat, sehingga mereka juga segan kalau terlambat karena saya sudah berada ditempat pertemuan sebelum mereka tiba.

Pertemuan rutin Kelompok Simpan Pinjam (KSP) itu menjadi andalan, sebab itulah alasan mempertemukan petani,  disitulah semua kumpul, sehingga menjadi tempat curhatan mengalir, mengeluh dan melapor berbagai macam masalah Poktan yang bukan saja soal Program READSI.  Jadi apa saja soal masalah pertanian petani bercerita dengan saya, dan saya harus mendengarkan dengan sabar cerita mereka. Sikap sabar itu menjadi landasan FD untuk mendapat simpatik dan  kepercayaan dari anggota kelompok, sehingga mereka merasa percaya curhat atau cerita dengan saya, yang bukan saja sebatas kerja sebagai Fasilitator Desa.

Mereka menggerakkan sendiri aturan pertemuan, sebab awalnya tidak semua anggota poktan datang tepat waktu, ada yang rajin ada yang terlambat dikarenakan alasan macam-macam, sehingga anggota poktan mengeluarkan aturan yang disepakati bersama yaitu memberikan denda sebesar Rp 5 ribu rupiah bagi anggota yang tidak hadir pertemuan. Menurut mereka uang sebesar lima ribu itu sangat berarti dan mereka sangat hargai, karena disitu susah cari uang, jadi mereka berpikir lebih baik hadir daripada harus membayar densa lima ribu rupiah. Kumpulan dana denda terlambat datang itu menjadi tabungan kelompok.

PENULIS ADALAH SEORANG FD READSI DESA ASINUA JAYA KAB. KONAWE, SULTRA

EDITOR : WA ODE DELI YUSNIATI

Tanggapi Berita Ini