Faktual.net – Kampung Tugu, Jakarta Utara, DKI Jakarta – Minggu (10/5/2026) – Berdiri selama setengah abad bukanlah perjalanan yang mudah. Itulah kenyataan yang dirasakan Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), organisasi pemersatu komunitas keturunan Portugis di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Saat merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-50 pada Minggu, 10 Mei 2026, IKBT menegaskan satu kunci utama yang membuat identitas dan warisan leluhur mereka tetap kokoh bertahan: kasih dan persaudaraan yang dipegang teguh lintas generasi yang kini dinahkodai oleh Rensyi Michiels yang didampingi Sekretaris Roni Banunaek (leluhur fam Abrahams).
Hadir dalam kesempatan tersebut Keluarga-keluarga yang tergabung dalam IKBT seperti: Abrahams, Andries, Braune, Cornelis dan Seymons, Salomons (sayang dua fam ini mati obor), Michiels dan Quiko serta keluarga-keluarga lain sebagai pendukung fam asli Tugu hasil pernikahan seperti, Mega Tadoe, Corua, Sopaheluwakan, Thenu, Hukom, Sepang, Thomas, Manusama, Yunus, Lauw, Loen dan lain-lain yang semakin memperkokoh eksistensi IKBT serta hadir pula para Ketua yang pernah melayani IKBT di antaranya Andre Juan Michiels, Alfondo Andries, Erni Lisje Michiels serta Ketua IKBT yang kini masih menjabat Rensyi Michiels beserta segenap jajaran Pengurus IKBT.
Berdiri resmi pada tahun 1976 tepatnya pada tanggal 2 Mei, IKBT hadir sebagai wadah untuk menyatukan kembali keluarga besar Orang Tugu — komunitas yang berakar dari kedatangan kelompok Mardijkers, atau bekas budak yang dimerdekakan, sejak tahun 1661.
Selama lebih dari 365 tahun (1661-2026) dari percampuran budaya Portugis dan Betawi (Melayu), lahirlah kekayaan tak ternilai seperti Keroncong Tugu, tradisi Rabo-Rabo, hingga tradisi Mandi-Mandi serta dengan kulinernya yang khas Gado-gado Tugu (Siram), Pisang Udang dan Pindang Serani yang hingga kini tetap dijalankan. Keroncong Tugu yang legendaris yang kini bertumbuh sebagai suatu ekosistem salah satu penentu ikon yang semakin menegaskan eksistensi Orang Tugu, dengan group-group yang ada seperti Keroncong Tugu Cafrinho, Krontjong Toegoe, Keroncong Muda Mudi Cornelis, Balle Keroncong dan Keroncong Muda Indonesia binaan Krontjong Toegoe.
Gereja Tugu, Anno 1747 yang ditahbiskan tahun 1748 oleh Predikant Johan Maurits Mohr (Keturunan Jerman – Belanda) merupakan benda bersejarah yang ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) menjadi ikon utama yang menarik untuk dikaji.
Bahkan IKBT juga mengembangkan tradisi seni pertunjukan tari dengan andalannya Tari Noni Tugu sebuah tarian tradisional kontemporer yang diadaptasi dari hasil anjangsana ke Kampung Portugis Malaka di Malaysia yang merupakan sister city Kampung Tugu.
Namun, tantangan terbesar yang terus dihadapi bukan hanya soal melestarikan kesenian dan adat, melainkan menjaga kebersamaan di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Dalam refleksinya yang mendalam, Pendeta Josep Bates Raku, S.Si.Teol yang adalah Ketua Majelis GPIB Jemaat Tugu DKI Jakarta, menggarisbawahi bahwa di balik segala kemegahan tradisi, ada satu landasan yang paling menentukan kelanggengan komunitas ini. “Selama 50 tahun, di dalam IKBT tentu ada banyak perbedaan pendapat, latar belakang, dan cara pandang. Tapi satu hal yang tidak boleh luntur adalah kasih. Tanpa kasih, perbedaan itu akan menjadi api permusuhan; dengan kasih, ia justru menjadi kekuatan yang memperkaya,” tegasnya.
Mengutip Kitab Amsal 3:3, ia mengingatkan agar kasih setia senantiasa dijaga bagaikan kalung yang menghiasi leher dan tertulis dalam sanubari. Menurutnya, modernisasi dan kemajuan zaman boleh diterima, namun tidak boleh sampai mengikis jati diri. “Perubahan boleh masuk ke dalam rumah kita, tapi jangan sampai mengusir akar kita. Kasihlah yang membuat kita tetap mengenang siapa asal kita dan untuk apa kita bersatu,” tambahnya.
Pesan ini mendapatkan makna yang semakin nyata dengan kehadiran kalangan akademisi dari Universitas Indonesia Jurusan Antropologi yang melakukan kajian mendalam mengenai kehidupan sosial dan budaya Kampung Tugu secara khusus tentang Tradisi Rabo-rabo.
Bagi para peneliti, daya tahan budaya ini menjadi fenomena yang menarik dipelajari — bukan hanya karena kekhasan keseniannya, melainkan karena cara komunitas ini mengelola keberagaman dan mempertahankan ikatan emosional antarwarganya.
Dalam usia emas, IKBT membuktikan bahwa warisan budaya tidak akan punah hanya karena berganti zaman. Selama ada kasih yang menyatukan, semangat untuk melestarikan tradisi, serta rasa memiliki yang kuat seperti seruan yang dikumandangkan: “Aku adalah IKBT, IKBT adalah aku, I love IKBT”, maka jati diri Orang Tugu akan terus hidup, menjadi kebanggaan tersendiri dan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya bangsa Indonesia khususnya di Kota Jakarta.
Suasana Ibadah Perayaan Syukur tersebut yang liturgi dipimpin oleh Diaken Vans Rotte Braune semakin terasa berbeda dan unik bagi Komunitas di luar Tugu karena penampilan Keroncong Tugu yang dimainkan oleh para generasi muda Tugu sebagai pengiring ibadah tersebut yang dipimpin oleh Santana Imanuel Manurung (Keturunan Cornelis), tetapi pemandangan ini bagi orang Tugu sendiri merupakan hal yang biasa, suatu tradisi yang terus dilakukan melanjutkan warisan Budaya nenek moyang / leluhur.
Sepanjang ada anggota Komunitas yang sadar akan jatidiri dan keberadaannya maka niscaya peninggalan sejarah, seni budaya akan abadi atas perkenan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Reporter: Johan Sopaheluwakan






















