Faktual.Net, Malut,Tidore. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Abubakar, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi ancaman perubahan lingkungan. Hal ini disampaikannya dalam diskusi publik bertajuk “Perubahan Lingkungan dan Masa Depan Tidore” yang diinisiasi Sekolah Adat Dodara di Titik Temu Coffee, Gamtufkange, Jumat (6/2/2026).
Menurut Muhammad, dampak krisis iklim seperti banjir, tanah longsor, dan abrasi kini sudah menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Tidore. Ia menilai peran komunitas seperti Sekolah Adat Dodara sangat strategis dalam memperkuat edukasi kebencanaan melalui pendekatan budaya.
“Perubahan lingkungan bukan lagi sekadar isu global, dampaknya sudah kita rasakan di sini. Menanamkan nilai kearifan lokal adalah kunci mitigasi bencana yang berkelanjutan,” tegas Muhammad. Ia menambahkan bahwa BPBD sangat terbuka untuk bersinergi dengan komunitas adat guna memperluas edukasi berbasis lokal.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Lingkungan Sekolah Adat Dodara, Nurlia Safitri Abubakar, menjelaskan bahwa dialog ini merupakan langkah konkret merespons krisis iklim yang melanda wilayah kepulauan.
”Diskusi ini bukan sekadar ruang tukar gagasan, tapi harus menjadi titik awal langkah nyata. Kami ingin mendorong kebijakan yang lebih pro-lingkungan di Kota Tidore,” ujar Nurlia.
Ia menekankan bahwa pengelolaan sampah dan kepedulian ekosistem sekitar adalah tanggung jawab kolektif. “Harapan kami ada peningkatan kesadaran masyarakat. Menjaga alam bukan tugas satu pihak saja, melainkan investasi bersama untuk masa depan Tidore yang lebih sehat,” pungkasnya.
















