Faktual.Net, Makassar, Sulsel. Prof. Rocky Gerung mengatakan bahwa Profesor sekalipun bisa menjadi dungu jika terlibat dalam upaya meraih kekuasaan sementara profesor tersebut tidak maksimal menggunakan kecerdasan nalar sehatnya.
Hal tersebut di ungkap Rocky Gerung saat menghadiri Sekolah Kebangsaan yang bertajuk Indonesia Masa Depan Meluruskan Lintasan Kebenaran Sejarah Kebangsaan yang di gelar AKAR Institute Makassar di Traning Center UIN Alauddin Makassar pada pada Ahad, 13/1/2019.
Pria kelahiran Manado tersebut menyinggung terkait larangan politik pada ruang lingkup Kampus, menurutnya langkah tersebut mengakibatkan aib nasional sebab peraturan kampus menghalangi pengetahuan mahasiswa akan aib pemerintah.
Baginya, kedunguan pendidik yang mayoritas profesor lahir dari kampus, sebab kampus telah menyediakan fakultas khusus yang mempelajari persoalan politik tetapi mahasiswanya dilarang berpolitik.
“Hal yang membingungkan, di kampus disediakan jurusan yang berkaitan dengan politik, baru pihak kampus melarang politik masuk kampus, itukan pemikiran yang dungu,” kata Rocky di sambut tepuk tangan meriah oleh peserta.
Lebih lanjut pendiri AKAR Institute itu menjelaskan, pemerintah sangat berpotensi merampok warga negara sehingga menurutnya di butuhkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melakukan pengawasan.
“Tapi kedudukan DPR hari ini kan di ibaratkan anjing yang menggonggong rakyat, yang seharusnya mereka menggonggong kepada pemerintah, bukan kah itu kurangajar, awalnya mereka mengemis dengan cara meminta suara dari rakyat, namun ketika ia sudah meraih kekuasaan, berlapis-lapis alasan jika ada rakyat yang bertemu dengan nya,” tegasnya.
Kekacauan Bangsa dan pelanggaran Demokrasi menurut nya harus di revisi mulai dari persoalan DPR tersebut.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Hastati Novianti Tahir tersebut di hadiri Prof. Rocky Gerung dan Akademisi Dr. Buhari, S.Pd, M. Pd masing-masing sebagai narasumber, Ketua Umum AKAR Institute, Muhammad Akbar dan Seratusan Mahasiswa dari berbagai Universitas di Kota Makassar.
Reporter : Juliadin
















