Example floating
Example floating
Headline

Regina Art Hadirkan Teater Inklusif, Anak dengan Autisme Disiapkan Nikmati Pertunjukan Tanpa Hambatan

×

Regina Art Hadirkan Teater Inklusif, Anak dengan Autisme Disiapkan Nikmati Pertunjukan Tanpa Hambatan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net – Jakarta – Kamis, 16 Juli 2026 –  Di tengah masih terbatasnya pertunjukan seni yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus, Regina Art menghadirkan pendekatan berbeda melalui pementasan Fantasy Land. Teater anak yang diproduksi dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 itu tidak hanya menyuguhkan kisah petualangan, tetapi juga dirancang agar dapat dinikmati secara nyaman oleh seluruh anak, termasuk penyandang autisme.

Berbeda dengan pertunjukan teater pada umumnya, Fantasy Land menerapkan konsep sensory friendly melalui penyesuaian tata suara, pencahayaan, hingga atmosfer ruang pertunjukan. Bahkan para pemain telah dibekali pelatihan untuk merespons secara adaptif apabila terjadi interaksi spontan dari anak-anak selama pementasan berlangsung.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Pertunjukan hasil kolaborasi Regina Art dan Indonesia Kaya tersebut akan dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta, pada Sabtu, 18 Juli 2026, dalam dua sesi, pukul 15.00 WIB dan 19.00 WIB. Masyarakat dapat menyaksikannya secara gratis melalui registrasi.

Pendiri Regina Art sekaligus penulis dan produser Fantasy Land, Joane Win, mengatakan konsep tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap minimnya ruang seni yang benar-benar inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

“Saya merasa pertunjukan di Indonesia masih belum banyak yang ramah bagi anak-anak berkebutuhan khusus, padahal mereka membeli tiket yang sama. Itu yang mendorong kami membuka ruang pertunjukan yang lebih inklusif,” ujar Joane dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (16/7).

Menurut Joane, setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi maupun mengekspresikan dirinya. Karena itu, pengalaman menikmati seni seharusnya dapat diakses tanpa dibatasi oleh perbedaan tersebut.

“Kami ingin menunjukkan tentang persahabatan sejati tanpa terhalang komunikasi. Setiap individu memiliki cara mengekspresikan diri yang berbeda. Mereka bebas menikmati pertunjukan,” katanya.

Pesan itu menjadi benang merah cerita Fantasy Land. Pertunjukan mengangkat makna persahabatan yang dibangun di atas penerimaan terhadap perbedaan, termasuk cara berpikir, berbicara, maupun berinteraksi.

Sutradara Kemal Ferdiansyah mengatakan kisah yang dihadirkan berangkat dari realitas kehidupan anak-anak dan keluarga sehari-hari.

Baca Juga :  Nusantara Konferensi Doa - Seminar Hari Doa Nasional 2026 Sukses Digelar, Dihadiri Ribuan Tokoh Kristen dari Seluruh Indonesia dan Mancanegara

“Yang kami angkat sebenarnya sederhana, bagaimana perilaku anak-anak dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana orang tua memandang mereka,” ujarnya.

Kemal menjelaskan karakter Black Shadow menjadi simbol sudut pandang yang melihat dunia secara sempit, berbeda dengan dunia anak-anak yang penuh imajinasi dan keberagaman.

“Dunia anak-anak penuh warna. Sementara Black Shadow hanya melihat satu warna. Karakter itu mewakili sudut pandang orang tua,” katanya.

Melalui konflik tersebut, pertunjukan mengajak orang tua untuk memberikan ruang bagi anak berkembang sesuai potensinya tanpa kehilangan pendampingan.

Di atas panggung, penonton akan diajak memasuki dunia fantasi yang dihuni berbagai karakter seperti unicorn, naga, peri, kelinci, hingga ular. Masing-masing tokoh membawa pesan tentang keberanian, empati, serta pentingnya menerima perbedaan.

Bagi para pemain, tantangan utama bukan sekadar memerankan karakter fantasi, tetapi juga menyampaikan emosi dan pesan yang mudah dipahami oleh penonton anak-anak.

Di sisi lain, pendekatan inklusif yang diterapkan Fantasy Land sejalan dengan berbagai kajian internasional mengenai pendidikan seni. UNESCO dalam laporan Reimagining Our Futures Together menempatkan seni sebagai bagian penting dalam membangun empati, kreativitas, kemampuan berkolaborasi, serta penghargaan terhadap keberagaman sejak usia dini.

Kajian OECD mengenai perkembangan sosial-emosional anak juga menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas seni berkontribusi terhadap kemampuan memahami perspektif orang lain sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.

Sementara itu, Autism Speaks menyebutkan bahwa pengaturan lingkungan pertunjukan, seperti pencahayaan, volume suara, dan fleksibilitas interaksi, dapat membantu anak dengan autisme menikmati pengalaman menonton tanpa mengalami stimulasi sensorik yang berlebihan.

Momentum Hari Anak Nasional 2026 pun menjadi pengingat bahwa hak anak tidak hanya mencakup pendidikan dan perlindungan, tetapi juga kesempatan memperoleh akses yang setara terhadap seni dan kebudayaan. Melalui Fantasy Land, Regina Art berupaya menunjukkan bahwa panggung pertunjukan dapat menjadi ruang belajar tentang empati, keberagaman, dan kesetaraan bagi seluruh anak. (Red/JS/EWT)

Tanggapi Berita Ini