Faktual.net – JAKARTA – 24 Oktober 2026 – Perjuangan Auw Tjoei Lan, perempuan keturunan Tionghoa yang dikenal dengan nama Njonja Ati Soetji, dalam menolong perempuan dan anak-anak pada masa kolonial diangkat ke panggung teater oleh Regina Art. Pementasan bertajuk Njonja Ati Soetji dijadwalkan berlangsung pada 30–31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan.
Melalui pertunjukan ini, Regina Art berupaya memperkenalkan sosok Auw Tjoei Lan yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong sesama. Perjuangannya tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Yayasan Hati Suci, tetapi juga merefleksikan nilai kemanusiaan, keberanian, dan kepedulian terhadap perempuan serta anak-anak yang membutuhkan perlindungan.
Pendiri Regina Art, Joane Win, memerankan tokoh utama Njonja Ati Soetji. Dalam mini showcase yang digelar di The Forest, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026), Joane tampil mengenakan kain batik dan membawakan salah satu adegan dari pertunjukan tersebut.
“Kami tak butuh uangmu, tetapi bagaimana cara baik mendapatkannya,” ujar Joane dalam dialognya.
Wakil Ketua Yayasan Hati Suci, Wenny, mengapresiasi inisiatif Regina Art yang mengangkat kisah pendiri yayasan tersebut melalui seni teater. Menurutnya, perjalanan hidup Auw Tjoei Lan bukan sekadar catatan sejarah, melainkan juga teladan yang relevan bagi generasi masa kini.
“Kami mengapresiasi Regina Art karena mengangkat tentang pendiri kami. Buat kami, ini bukan saja hanya sejarah, namun juga sebuah teladan. Melalui seni, kami harapkan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh Njonja Ati Soetji bisa terus terpelihara,” kata Wenny dalam konferensi pers di The Forest, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).
Ia menilai keberanian, kasih yang diwujudkan melalui tindakan nyata, serta kepedulian sosial merupakan nilai penting yang dapat dipetik dari perjalanan Auw Tjoei Lan. Wenny berharap pementasan tersebut dapat memperluas pengenalan masyarakat terhadap sosok dan perjuangannya.
Di balik penggarapan pertunjukan, penulis naskah Endah D. Jenura mengungkapkan bahwa proses riset dan penelusuran bahan sejarah berlangsung selama dua tahun. Tim mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk arsip surat kabar dan dokumentasi sejarah, untuk memahami kehidupan Auw Tjoei Lan serta kondisi sosial pada masanya.
Salah satu referensi yang ditemukan ialah artikel surat kabar De Locomotief tertanggal 23 Juni 1925 yang memuat informasi mengenai perdagangan manusia. Dokumen tersebut menjadi salah satu bahan untuk memahami konteks sosial yang melatarbelakangi cerita.
Namun, keterbatasan dokumentasi tertulis dan rekaman visual menjadi tantangan dalam proses penelusuran. Untuk melengkapi informasi, tim juga menggali kesaksian Oma Stela, cucu Auw Tjoei Lan. Dari penuturan keluarga, tim memperoleh gambaran mengenai sisi personal tokoh tersebut, mulai dari cara berjalan dan kebiasaannya berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda hingga panggilannya kepada sang suami, yakni “Brur”.
Endah menjelaskan, kesaksian keluarga membantu tim memahami karakter Auw Tjoei Lan secara lebih dekat. Meski demikian, tidak semua detail kehidupannya dapat dipastikan melalui dokumentasi tertulis yang tersedia.
Tantangan berikutnya adalah mengolah bahan sejarah menjadi cerita yang memiliki konflik dan alur dramatik. Tidak seluruh karakter maupun peristiwa yang dibutuhkan untuk membangun pertunjukan ditemukan secara langsung dalam sumber sejarah. Karena itu, tim mengembangkan sejumlah karakter untuk mendukung kebutuhan artistik dan penyampaian cerita di atas panggung.
Pengembangan tersebut merupakan bagian dari interpretasi dramatik, bukan pernyataan bahwa seluruh karakter, dialog, dan peristiwa dalam pertunjukan tercatat secara langsung dalam dokumen sejarah. Pembedaan antara temuan arsip, kesaksian keluarga, dan pengembangan artistik menjadi bagian penting dalam proses adaptasi kisah tokoh sejarah ke dalam seni pertunjukan.
Pementasan ini disutradarai Wawan Sofwan dengan naskah yang ditulis Endah D. Jenura. Keduanya mengolah hasil penelusuran sejarah, kesaksian keluarga, dan kebutuhan dramatik untuk menyusun pertunjukan yang menghubungkan perjalanan masa lalu dengan persoalan kemanusiaan yang masih relevan bagi masyarakat saat ini.
Aktris Maudy Koesnaedi turut terlibat dengan memerankan Sayap Hitam, salah satu karakter dalam pertunjukan. Karakter ini menghadirkan perspektif lain mengenai perempuan, pilihan moral, serta tindakan yang dilakukan seseorang dalam situasi sosial tertentu.
Dalam konferensi pers, Maudy menyampaikan salah satu dialog karakternya, “Aku kan membantu perempuan-perempuan ini untuk mendapatkan penghasilan….”
Dialog tersebut menjadi bagian dari konflik dramatik yang mengajak penonton mencermati alasan di balik suatu tindakan sekaligus mempertanyakan dampaknya terhadap kehidupan orang lain. Karakter Sayap Hitam memberikan ruang bagi penonton untuk melihat persoalan moral melalui sudut pandang yang tidak selalu sederhana.
Selain Joane Win dan Maudy Koesnaedi, pertunjukan ini melibatkan sejumlah pemain, yakni Tika Bravani sebagai Noona Kneefel, Willem Bievers sebagai Van Walsem, Lutfi Ardiansyah sebagai Jirrin, Chloe Gerry sebagai Suyun, Jim Lim sebagai Seng Hoe, Haikal Mubarok sebagai Tuan Lie, Andri Surawan sebagai Buron, dan Andi Solohin sebagai Jagal. Joane Win juga bertindak sebagai produser eksekutif.
Melalui pementasan Njonja Ati Soetji, Regina Art berupaya membawa kisah perjuangan Auw Tjoei Lan lebih dekat kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Pertunjukan ini mempertemukan seni teater dengan penelusuran sejarah sekaligus membuka ruang refleksi mengenai keberanian, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan.
Pementasan Njonja Ati Soetji akan berlangsung pada 30–31 Oktober 2026 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan. Pertunjukan ini didukung oleh Indonesia Kaya, Ciputra Artpreneur, BFI Finance, Alcester, Regina Realty, Sariayu Martha Tilaar, dan Le Minerale.
Red/JS/IM













