Example floating
Example floating
Tokoh

Refleksi Peringatan Hari Pattimura: Meneladani Sejarah, Menumbuhkan Jati Diri, Membangun NKRI

×

Refleksi Peringatan Hari Pattimura: Meneladani Sejarah, Menumbuhkan Jati Diri, Membangun NKRI

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Faktual.net – Jakarta, 15 Mei 2026 — Setiap tanggal 15 Mei, bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Maluku, mengenang dan memperingati Hari Pattimura. Tanggal ini bukan sekadar peringatan peristiwa sejarah semata, melainkan momen sakral untuk merenungkan kembali jejak perjuangan, menimba kearifan luhur, serta membangkitkan semangat juang yang diwariskan Kapitan Pattimura dan rakyat Maluku. Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, nilai-nilai perjuangannya tetap relevan menjadi fondasi pembentukan jati diri generasi keturunan Maluku dan pilar kokoh bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia .

Sejarah Singkat dan Asal Usul Pattimura

Nama asli sang pahlawan adalah Thomas Matulessy, lahir pada 8 Juni 1783 di Negeri Haria, Pulau Saparua, Maluku. Ia berasal dari keluarga bangsawan keturunan Raja Sahulau di wilayah Seram Selatan, dengan ayah bernama Antoni Matulessy, keturunan langsung Kasimiliali Pattimura Matulessy . Masa mudanya ditempa dengan pendidikan militer di bawah Angkatan Darat Kerajaan Inggris hingga meraih pangkat Sersan Mayor, yang membekalinya dengan pengetahuan strategi perang dan kepemimpinan yang tangguh.

Setelah berakhirnya Perjanjian London tahun 1814, Inggris menyerahkan kekuasaan atas Hindia Timur kembali kepada Belanda. Sejak tahun 1816, kembalinya kolonial Belanda membawa perubahan buruk bagi kehidupan rakyat Maluku: diterapkannya sistem monopoli perdagangan rempah-rempah, kerja paksa (rodi), pajak tanah yang memberatkan, serta perlakuan sewenang-wenang yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.

Tekanan yang tak tertahankan itu meledak menjadi perlawanan besar. Pada 15 Mei 1817, dalam sebuah upacara adat bersejarah di Hutan Sasawani, rakyat Maluku sepakat mengangkat Thomas Matulessy sebagai pemimpin tertinggi dengan gelar Kapitan Pattimura. Di bawah pimpinannya, ribuan rakyat dari berbagai negeri bersatu, tanpa memandang perbedaan golongan maupun keyakinan, untuk mengangkat senjata mempertahankan tanah air mereka .

Kiprah Perjuangan Pattimura

Langkah awal perjuangan dilakukan tepat sehari setelah pelantikan, yaitu 16 Mei 1817. Pasukan gabungan rakyat Maluku yang dipimpin Pattimura melancarkan serangan mendadak dan berhasil merebut Benteng Duurstede, markas kekuasaan Belanda di Pulau Saparua. Residen Belanda, Johannes Rudolph van den Berg, beserta pasukannya gugur dalam pertempuran itu .

Kemenangan ini memicu gelombang semangat perlawanan yang meluas ke hampir seluruh wilayah Maluku: Seram, Nusalaut, Ambon, hingga pulau-pulau sekitarnya. Bahkan, pasukan Pattimura berhasil menggagalkan serangan balasan pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Beetjes, yang menelan korban lebih dari 200 prajurit musuh. Dalam masa kejayaannya, Pattimura memerintah dengan bijaksana, menegakkan keadilan, serta menjaga persatuan antarneggeri yang menjadi kunci kekuatan perlawanan.

Namun, kekuatan militer Belanda yang jauh lebih besar, ditambah siasat licik adu domba dan suap terhadap sebagian pemimpin lokal, perlahan memecah kekuatan persatuan rakyat. Pada 11 November 1817, Pattimura dan para sahabat seperjuangannya dikhianati dan ditangkap di Hutan Booi. Setelah melalui pengadilan yang dipenuhi ketidakadilan, pada 16 Desember 1817, Kapitan Pattimura bersama tiga rekannya—Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Said Parintah—menghembuskan napas terakhir di tiang gantungan di depan Benteng Victoria, Ambon. Sebelum meninggal, ia sempat mewariskan pesan bersejarah: “Beta boleh mati, tetapi akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang melanjutkan perjuangan ini” .

Pengorbanan mulianya kemudian diakui secara nasional. Melalui Keputusan Presiden Nomor 87/TK/1973 tanggal 6 November 1973, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan Kapitan Pattimura sebagai Pahlawan Nasional Indonesia .

Nilai-Nilai Luhur: Bekal Membangun Jati Diri dan NKRI

Peringatan Hari Pattimura bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan mengangkat kembali nilai-nilai yang menjadi inti kekuatan perjuangannya. Bagi generasi muda, khususnya keturunan Maluku, nilai-nilai ini adalah fondasi kokoh untuk membangun jati diri, sekaligus menjadi modal berharga dalam memajukan persatuan dan pembangunan bangsa:

1. Persatuan dalam Keberagaman

Pattimura berhasil menyatukan ribuan rakyat dari berbagai negeri, suku, dan bahkan latar belakang agama—Kristen maupun Islam—menjadi satu kekuatan. Ia membuktikan bahwa perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekuatan. Makna masa kini: Bagi keturunan Maluku, ini berarti membangun jati diri yang tidak eksklusif, tetapi menjunjung tinggi semboyan “Bersatu Kita Teguh”. Dalam bingkai NKRI, nilai ini menjadi benteng utama melawan ancaman perpecahan dan konflik sosial yang pernah melukai sejarah tanah Maluku.

2. Cinta Tanah Air dan Kedaulatan

Pattimura berjuang bukan untuk kekuasaan pribadi, melainkan demi kebebasan, martabat, dan kesejahteraan rakyat serta keutuhan tanah leluhur. Ia rela mempertaruhkan nyawa meskipun menyadari ketimpangan kekuatan senjata. Makna masa kini: Jati diri putra-putri Maluku dibangun atas dasar rasa memiliki yang mendalam terhadap tanah kelahiran. Mencintai Maluku berarti mencintai Indonesia. Bentuk pengabdiannya kini tidak lagi mengangkat senjata, melainkan berprestasi, bekerja keras, dan menjaga keutuhan wilayah NKRI di mana pun berada .

3. Keberanian dan Integritas Tanpa Kompromi

Selama ditahan, Pattimura tetap teguh pendiriannya, tidak mau mengakui kekuasaan Belanda, dan tidak mengorbankan prinsip meski menghadapi ancaman hukuman mati. Ia adalah simbol kejujuran dan keteguhan hati. Makna masa kini: Generasi muda dituntut memiliki mental pemberani dalam menghadapi tantangan zaman—baik itu persaingan ekonomi, tantangan teknologi, maupun godaan korupsi. Jati diri Maluku adalah jati diri yang berkarakter kuat, jujur, serta memegang teguh janji dan kepercayaan .

4. Semangat Melawan Ketidakadilan dan Penindasan

Perjuangan Pattimura dipicu oleh penderitaan rakyat akibat kebijakan yang merugikan. Ia berdiri sebagai pembela hak-hak rakyat lemah. Makna masa kini: Semangat ini diterjemahkan menjadi sikap kritis yang membangun, menjunjung tinggi hukum, serta berkontribusi dalam menciptakan keadilan sosial. Putra-putri Maluku dituntut menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan, kesejahteraan, dan keadilan bagi lingkungan sekitarnya, selaras dengan cita-cita pembangunan NKRI.

Warisan untuk Masa Depan

Hari Pattimura mengingatkan kita bahwa kemerdekaan dan keutuhan bangsa ini dibangun di atas tumpukan pengorbanan darah dan air mata para pendahulu. Bagi generasi penerus, warisan terbesar bukanlah kisah kepahlawanan yang ditulis di buku sejarah, melainkan semangat yang mengalir dalam darah dan jiwa.

Membangun jati diri sebagai putra keturunan Maluku berarti mewujudkan diri sebagai manusia yang menjunjung tinggi persaudaraan, berkarakter kuat, cinta damai, dan memiliki tanggung jawab besar terhadap kemajuan daerah dan bangsa. Dalam rangka memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia, sosok Pattimura adalah bukti nyata bahwa dari ujung timur nusantara lahir semangat persatuan yang mengikat seluruh komponen bangsa.

Mari jadikan peringatan ini sebagai pemicu semangat baru: melanjutkan perjuangan Pattimura dengan cara kekinian—melalui ilmu pengetahuan, keterampilan, persatuan, dan pengabdian nyata demi kejayaan Maluku dan kejayaan Indonesia Raya.

“Beta boleh mati, tetapi akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang melanjutkan perjuangan ini.” — (Kapitan Pattimura)

Sumber Kepustakaan

1. Sapija, M. (1960). Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahlawan Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

2. Kemendikbud RI. (2019). Ensiklopedia Pahlawan Nasional Indonesia. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.

3. Suryanegara, Ahmad Mansur. (2009). Api Sejarah Jilid 1. Bandung: Salam Pustaka.

4. Latuheru, J. D. (2002). Pattimura dan Perlawanan Rakyat Maluku Tahun 1817. Ambon: Lembaga Penelitian Universitas Pattimura.

5. Wikipedia Bahasa Indonesia. (2026). Pattimura. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Pattimura

6. Tuapattinaya, John. (2017). Persatuan dan Perjuangan Pattimura: Warisan Budaya untuk Generasi Penerus. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

7. Latuheru, J.D. (2017). Kapitan Pattimura: Biografi dan Nilai Perjuangannya. Ambon: Universitas Pattimura Press

Oleh: Johan Sopaheluwakan adalah Penulis dan Jurnalis Keturunan Maluku tinggal di Jakarta.

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit