Faktual. Net, Tidore. Menyikapi tuduhan dua orang warga kelurahan Sofifi bernama Asia Jamal dan Nurhayati Soleman yang mengaku dipecat dari kader posyandu kelurahan Sofifi, karena dianggap tidak mau mendukung Calon Petahana dalam pemilukada 9 Desember 2020, sehingga berujung pada pelaporan ke Bawaslu Kota Tidore Kepulauan.
Mendapat tanggapan serius dari pihak kelurahan Sofifi, melalui Sekretarisnya Samad Saman kepada media ini, mengaku bahwa tuduhan tersebut merupakan sebuah fitnah, pasalnya dia tidak pernah mengarahkan kedua kader posyandu itu untuk mendukung Calon Petahana maupun pasangan Calon tertentu. melainkan ia hanya sebatas menegur kedua kader posyandu itu karena dianggap mereka sudah terlalu jauh terlibat dalam politik praktis. sehingga banyak warga masyarakat di kelurahan Sofifi yang kemudian mengeluhkan sikap mereka sebagai pelayan masyarakat.
“Karena mereka berdua sudah terlalu jauh terlibat dalam politik praktis, sehingga saya kemudian memanggil untuk menegur, sebab bagaimanapun juga mereka adalah kader posyandu yang merupakan bagian dari pihak kelurahan, dan tugasnya sebagai pelayan masyarakat. sehingga saya minta kepada mereka agar tidak terlalu jauh terlibat dalam politik praktis. beda pilihan tidak masalah karena itu adalah hak mereka, tetapi kalau terlalu berlebihan maka tentu akan berdampak terhadap masyarakat, sehingga lebih baik diam dan tidak perlu terlalu frontal. dan merekapun ikut mengiayakan itu,” ungkapnya saat dihubungi media ini melalui telephone, Kamis, (8/10/20).
Hanya saja dalam perjalanan, kedua kader posyandu kelurahan Sofifi ini tidak mau merubah sikapnya, bahkan disuatu kesempatan mereka sempat membuat video (Live Facebook) mendukung Pasangan Salahudin Adrias dan Muhammad Djabir Taha (SALAMAT) sembari berjoget ria dan saling menyindir dengan pendukung Pasangan Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen (AMAN) di Sofifi. melihat sikap tersebut, lantas membuat Samad kemudian kembali memanggil yang bersangkutan untuk diberi pilihan, antara bertahan sebagai kader posyandu atau memilih terjun ke politik praktis.
“Saya tidak pernah memberikan pilihan ke mereka untuk memilih pasangan petahana, yang saya bilang itu kalau mereka mau terlibat dalam politik praktis maka sebaiknya berhenti dulu dari kader posyandu, nanti selesai pemilu baru merapat kembali. dan disitu ibu Asia Jamal (Titin) mengaku ke saya bahwa dia lebih memilih berpolitik praktis,” kisahnya.
Selain dari itu, Samad juga mengaku bahwa terkait dengan masalah insentif yang sempat mereka keluhkan bahwa belum dilakukan pembayaran mulai dari triwulan 1 hingga 4, juga tidak benar. karena pembayaran insentif untuk Triwulan 1 dan 2 telah dibayarkan dan itu ada bukti penandatanganannya. sedangkan untuk Triwulan 3 masih dalam proses pencairan, dan untuk triwulan 4 pembayarannya baru bisa dilakukan pada bulan Desember mendatang.
Sementara terkait dengan nama Kepala Puskesmas (Kapus) Galala Kecamatan Oba Utara yang ikut diseret dalam masalah tersebut, Samad mengatakan bahwa hal itu tidak benar, bahkan masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Kepala Puskesmas Galala.
“Kami sempat berdebat soal pemberhentian, dimana ibu Asia bilang bahwa pemberhentian itu merupakan kewenangan Ibu Kapus, dan saya kemudian menjelaskan bahwa pemberhentian ini bukan kewenangan Ibu Kapus, melainkan pihak kelurahan. karena pihak kelurahan yang membayar insentif mereka menggunakan dana kelurahan, Ibu Kapus hanya sebatas membangun koordinasi dengan Kelurahan,” tuturnya.
Terpisah, ketika diconfirmasi mengenai keterlibatan Kepala Puskesmas Galala terkait pemberhentian kedua kader Posyandu itu, kepada media ini Kepala Puskesmas Galala Rosmini Abd. Kadir mengaku kaget dengan informasi tersebut, karena dirinya tidak tau menau akan hal itu.
“Prilaku kedua kader posyandu ini memang sudah ada warga sofifi yang mengeluhkan ke saya untuk minta dipecat dan itupun sudah lama, dan saya sampaikan waktu itu, bahwa persoalan pemecatan bukan kewenangan saya, melainkan kewenangannya ada di kelurahan, jadi saya tidak bisa mencampuri sampai kesitu, olehnya itu Saya hanya merasa lucu ketika tiba-tiba sudah melihat foto mereka bersama Bawaslu muncul di koran, padahal saya tidak tau apa-apa soal masalah mereka dengan kelurahan,” tuturnya.
Reporter : Aswan Samsudin













