Petani Tambak Udang Vaname Wolo Kesulitan Modal Guna Mengembangkan Tambaknya

16

Faktual.Net, Kolaka, Sultra. Petani tambak udang Vaname di Desa Ululapaopao, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka mengaku kesulitan untuk mencari tambahan modal guna mengembangkan tambaknya.

Untuk modal satu kolam, setidaknya dibutuhkanRp 30 jutaan. Karena kekurangan modal, mengakibatkan petani berhubungan dengan pihak peminjam, meski bunganya besar.

Salah satu pegiat petani tambak udang vaname, Zakaria saat ditemui pada rabu (27/3/2019) mengatakan potensi budidaya udang vaname di Kecamatan Wolo cukup tinggi. Alhasil saat ini terdapat sekitar 360 Hektar tambak yang ada di Kecamatan Wolo. Namun, sebagian besar tambak itu dimiliki oleh para pemilik modal dari luar kecamatan, karena petani lokal tidak memiliki modal.

Sekalinya, melakukan budidaya petani terpaksa meminjam kepada pemilik modal dengan resiko bunga tinggi. Mereka (petani) terpaksa meminjam kepada pemilik modal, karena tidak perlu memiliki anggunan untuk meminjam. Adapun pembayarannya, dilakukan saat waktu panen dengan sebutan “bayar panen” atau yarnen.

“Kami dan petani lainnya terpaksa meminjam dengan bunga tinggi kepada pihak lain, karena kesulitan mengakses pinjaman ke lembaga keuangan. Di mana untuk meminjam ke lembaga keuangan harus memiliki anggunan,” ucapnya.

Baca Juga :  KKN Kebangsaan Resmi Dibuka Oleh Direktur Kemahasiswaan Kemenristekdikti

Menurut M.H Rachman selaku Sekretaris Umum Forum UKM-IKM Sultra menuturkan, jalan yang ditempuh para petani udang vaname dengan meminjam kepada non lembaga keuangan karena terpaksaan, agar budidaya udangnya bisa berjalan.

Selain itu, pinjaman tersebut sangat mudah karena tidak perlu memiliki anggunan. Berbeda dengan ke lembaga keuangan perbankan, yang harus memiliki anggunan untuk mendapatkan pinjaman.

Untuk permodalan saat ini, setidaknya dibutuhkan Rp 35 – 50 jutaan per kolam untuk satu siklus dengan modal yang cukup besar itu mengakibatkan petani kesulitan untuk mengembangkan budidaya vaname. Karena selama ini untuk mengakses pinjaman modal ke perbankan dibutuhkan anggunan, padahal tidak semua petani memiliki anggunan.

Akibatnya, petani mencari modal lain hingga akhirnya berhubungan dengan pemilik modal perorangan dengan bunga yang cukup besar dan dibayar dalam setiap kali panen.

“Kami sangat berharap pemerintah dan perbankan bisa memberikan kemudahan dalam memberikan pinjaman. Artinya, tidak perlu menggunakan agunan rumah atau sertifikat, namun cukup dengan kolam dan udang yang dibudidayakan,” tuturnya.

Ketua Pemuda Tani HKTI Sultra ini juga mengatakan, dengan memberlakukan anggunan aset kolam dan udang, nantinya petani, pemerintah dan perbankan bisa sama-sama mengawasi. Sehingga tidak ada alasan terjadi kredit macet. Kalaupun terjadi kemacetan, maka aset kolam tambak dan udang yang dilelang oleh pihak pemerintah dan perbankan.

Baca Juga :  PK IMM Ahmad Dahlan & AR Fachruddin FKIP UMK Di Lantik

“Kami Jamin dan pastikan tidak akan terjadi kredit macet,karena akan di lakukan pendampingan mengenai budidaya udang vaname sampai pasca panen melalui Science Laboratory MS ,yg sudah terbukti mampu mencegah gagal panen, Karena jika tidak begitu atau tidak ada dukungan dari pemerintah, petani masih terus kesulitan mengakses permodalan untuk mengembangkan tambaknya,” tegasnya

Dijelaskan juga, bahwa budidaya udang vaname yang telah kembangkan itu sangat menjanjikan. Tapi sayangnya belum banyak warga yang mengikuti karena kendala permodalan yang cukup besar. Dengan demikian, diharapkan pemerintah bisa memfasilitasi bantuan permodalan bagi petani tambak udang vaname.

Alasannya, dari segi pasar sangat menjanjikan keuntungannya. “Bahkan, potensi ini dapat meningkatkan kesejahteraan kaum petani tambak yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah,” ungkapnya.

Reporter: La Ode Subroto

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :