Penderita Stunting Dan Gizi Buruk Di Tikep Menurun

76

Faktual. Net, TIDORE. Angka penderita stunting atau kekerdilan pada bayi dibawah lima tahun dan gizi buruk yang dialami masyarakat tidore kini mulai mengalami penurunan dari tahun 2017 ke 2018.

Penrunan angka stunting maupun gizi buruk berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan pada tahun 2017 penderita stunting sebanyak 17 orang, sementara di tahun 2018 menurun menjadi 14 orang, sedangkan untuk penderita gizi buruk pada tahun 2017 sebesar 17,5 Persen, di tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 17 persen. Sedangkan untuk data di tahun 2019 baru bisa dirilis pada bulan desember mendatang.

“Yang pasti untuk Kota Tidore Kepulauan merupakan suatu daerah yang nilainya paling sedikit menderita stunting dan gizi buruk karena jika dibandingkan dengan standar nasional, karena pada saat rakernas sebelumnya angka stunting secara nasional itu mencapai 28 persen, sementara soal gizi buruk itu dari tahun ke tahun juga mengalami penurunan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Tikep dr. Abdullah Maradjabessy saat ditemui media ini di ruang kerjanya Kamis, (28/2/19).

Lebih lanjut, Kadis menjelaskan bahwa sebelum anak mengalami gizi buruk terlebih dahulu ia melalui gizi kurang akibat kekurangan asupan makan yang masuk ke dalam tubuh dengan jangka waktu yang lama, dan di Kota Tidore Kepulauan untuk gizi kurang masih dibawah standar nasional dengan capaian target dibawah 15 persen.
“Untuk mencegah adanya gizi buruk maka perlu dilakukan imunisasi, sehingga disitu akan diberi makanan tambahan melalui posyandu,” jelasnya.

Sedangkan untuk mengurangi penyakit stunting pada anak, sejauh ini Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan melalui Puskesmas intens mengunjungi setiap sekolah saat enam bulan sekali untuk memberikan zat besi agar tidak mengalami penyakit cacingan yang dapat menurunkan HB pada perempuan, karena penanganan kasus stunting harus dimulai sejak remaja putri.

Selain dari itu, Dinas Kesehatan juga memfokuskan perhatian pada ibu hamil sampai 2 tahun pasca melahirkan yang biasanya disebut 1000 hari pertama kehidupan, pasalnya jika tidak demikian, maka tentu asupan gizi yang dinikmati bayi balita dalam kandungan akan berkurang dan sangat menganggu otak maupun organ-organ tubuh yang lain pada bayi tersebut, sehingga bisa berdampak pada kecerdasan anak.

“Kalau terdapat kekurangan gizi pada ibu hamil maka kami dari dinas kesehatan langsung menginterfensi untuk diberi makanan tambahan. Jadi ada beberapa program dari dinas kesehatan untuk mencegah stunting juga sudah dijalankan seperti Asi Eksklusif selama enam bulan, Imunisasi, masalah Kesling (Air bersih dan Jamban), pemeriksaan ibu hamil dengan baik,” tuturnya.

 

Reporter : Aswan Samsudin

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :