Pemanasan Pilkada Muna, Adakah Yang Lebih Penting Dari Sekedar Baliho

82

Opini Ditulis Oleh: Muhammad  Triputra

Faktual.Net, Jakarta. Baliho kini menjadi trend dan menjadi topik hangat yang diperdebatkan menjelang perhelatan pilkada Muna tahun 2020.

Pemasangan baliho Rajiun Tumada (RT) dengan Tag Line “Amaimo Pada Ini” di Kab. Muna telah melahirkan perdebatan panjang ada yan pro dan kontra antara simpatisan RE dan RT. Di dalam baliho Rajiun di bagian atas kepala foto tertulis “Mai Te Wuna” dan paling bawah foto tertulis “Amaimo Pada Ini”. Dua Kalimat tersebut inilah yang menjadi perdebatan hingga saat ini. Kita mempertanyakan output dari perdebatan kedua kalimat tersebut. Justru outputnya adalah terjadinya situasi sosial masyarakat Muna tak lagi kondusif dan perdebatan untuk mencari bakal Calon Bupati Muna  periode tahun 2020-2024 khususnya dijagat maya media sosial tidak pula produktif.

Jika RT yang saat ini sedang menjabat Bupati Muna Barat benar-benar ikut sebagai kandidat pada kontestasi politik Muna tahun 2020, menjadi sebuah  kesempatan bagi masyarakat Muna yang tidak puas dengan kepemimpinan petahana Rusman Emba (RE) untuk mendeklarasikan diri sebagai bagian perjuangan RT kedepan.

Tag line “Amaimo Pada Ini” ibarat sihir yang memiliki daya tarik simpati masyarakat Muna yang cukup dahsyat. Masyarakat Muna yang kontra Petahana berlomba-berlomba mendeklarasikan diri dan membalas tag line tersebut (aintago, mai dua we lambu mani, angka dua wedesaku, mempali-mpali dua we liwu mani.. dll). Hal tersebut adalah respon masyarakat Muna, menyambut RT untuk maju di Pilkada Muna tahun 2020. Mungkin ini terkesan sangat subjektif dan bisa saja dibantah…Tapi itu adalah fakta yang terajadi saat ini.

Menafsir Tag line “Amaimo Pada Ini” Bagi saya adalah sebuah bentuk sosialisasi atau pencitraan Rajiun Tumada bahwa kedepan iya adalah salasatu kandidat Calon Bupati Muna Tahun 2020. Bagaimanapun pembelaan para simpatisan RT saat ini, sekalipun hal tersebut dianggap  sebagai perkenalan semata seorang Rajiun di tanah kelahiranya, tetapi seiring dengan beberapa pernyataan RT melalui media masa, kunjungan silaturahim beliau hingga kelorong-lorong kampung, terbentuknya kelompok-kelompok pro Rajiun, tidak bisa dielakan. Kita bisa menilai bahwa hal itu adalah sebuah pemanasan untuk menarik simpati dan membangun kekuatan. Dan hari ini, tidak salah kalau kita katakan bahwa RT adalah bakal calon kandidat kuat yang akan dihadapi petahana RE pada pilkada Muna tahun 2020. Alasanya hanya satu “Karena Baliho dengan tag line ~Amaimo Pada Ini~”.

Baca Juga :  Perilaku Seks Bebas, Hancurkan Generasi Bangsa Indonesia

Puncak dari besarnya pengaruh tag line tersebut, setelah banyak baliho yang terpasang di simpangan-simpangan jalan strategis wilayah Muna dengan Foto Rajiun Tumada yang tampak gagah nan karismatik.
Hingga memancing reaksi Pemda Muna, mengintruksikan pencopotan baliho tersebut pada bawahanya karena dianggap telah dipolitisir sehingga menciderai slogan “Mai Te Wuna” dari cita awalnya sebagai promosi wisata Wite Barakati.

Oleh karenya Pro Kontra penertiban baliho antara simpatisan RE dan RT khususnya di media sosial kini terus bergulir dan memanas. Mulai dari berbalas komentar pedas, hingga menyeret pihak Polres Muna untuk melakukan mediasi.
Luar biasa

Melihat fakta saat ini: Karena baliho, masyarakat Muna menjadi terbelah dua. Tidak 3 atau pun empat. Dua tersebut adalah kelompok Rajiun dan kelompok Rusman Emba.
Dimana dr. LM. Baharuddin ?, Sjarifudin Udu, Abdul Rahman Farisi, Ringa John dan tokoh-tokoh lainya ??? Kenapa mereka harus tereleminasi secepat ini. Oleh karena itu muncul pertanyaan, adakah yang lebih penting dari pada baliho ???

Tanpa disadari, setelah munculnya baliho RT dengan Tag Line “Amaimo Pada Ini”, ada banyak hal dan isu penting yang terpinggirkan, luput dari diskusi yang seharusnya diangkat sebagai isu strategis untuk kemajuan daerah kedepan.

Baca Juga :  Perilaku Seks Bebas, Hancurkan Generasi Bangsa Indonesia

1. Tokoh politik Muna bukan hanya RT dan RE. Masyarakat perlu melihat dan mendengarkan gagasan dari tokoh-tokoh politik muna yang lain. Masih banyak tokoh-tokoh Muna yang memiliki prestasi, kredibilitas dan gagasan pembaharuan yang betul-betul bisa menjawab persoalan yang ada di Kab. Muna saat ini.

2. Permasalahan kemiskinan yang cukup besar luput dari pembahasan terkini, pengangguran, infrastruktur jalan yang belum memadai, pelayanan publik yang amburadul, kebijakan yang tidak pro terhadap pendidikan, kesehatan, fasilitas umum,  semua itu masih luput dari diskusi saat ini. Hal demikian seharunya menjadi topik-topik penting untuk dijadikan bahan diskusi yang nantinya menjadi referesi bupati kedepan untuk kemajuan daerah pada semua lini sektor.

3. Perdebatan yang mengarah pada terjadinya polarisasi ditengah masyarakat dan ketegangan yang mempengaruhi kondusifitas masyarakat sebisa mungkin  diminimalisir. Kita mesti belajar dari pengalaman pada momentum pilkada 2014 sebelumnya. Terjadi konflik, pertikaian sesama saudara, keadaan mencekam hingga berdampak terhadap perputaran ekonomi yang tidak stabil. Kita semua pasti sepakat bahwa kondisi tersebut tidak terulang pada momen pilkada tahun 2020 kedepan. Terwujudnya KAMTIBMAS di Kab. Muna tidak sendirian menjadi tanggungjawab pihak Kepolisian/ Polres Muna semata, tetapi setiap kita, mesti turut serta bertanggung jawab atas terwujudnya situasi aman dan kondusif hingga selesainya pemilihan nanti.

Jika benar-benar ada pemikiran kemajuan daerah Kab. Muna kedepan, saat ini pula kita mesti masuk pada wacana baru yang kontekstual dan berdampak terhadap kemajuan daerah kedepan.

Jakarta, 31 Agustus 2019

Penulis adalah Mantan Ketua DPM FH UHO 2015/2016

(Isi Opini Di Luar Tanggungjawab Redaksi)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :