Example floating
Example floating
Daerah

Monev Program READSI di Sultra Petani Keluhkan Harga Kakao Rendah

×

Monev Program READSI di Sultra Petani Keluhkan Harga Kakao Rendah

Sebarkan artikel ini
Di Desa Kasuwura Indah bertemu dengan perwakikan tujuh Poktan. Pengurus Poktan komoditi kakao Herman Porosi keluhan rendahnya harga kakao.
Example 468x60

Faktual.Net, Konawe, Sultra. – Program Rural & Agricultural Development Scaling-up Initiative (READSI) di Sulawesi Tenggara memamsuki tahun ketiga. Monitoring dan evaluasi progran langsung dilakukan oleh Team Leader (TL) Nasional READSI Wahyudin Kessa di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kabupaten Konawe, Selasa (19/10/2021).

Desa Epeea dan Desa Kasuwura Indah Kecamatan Abuki Kabupaten Konawe dikunjungi oleh TL READSI Wahyudin Kessa di dampingi Tenaga Ahli (TA) Provinsi Sultra Aisa Rauf dan TA Kabupaten Alfian Ishak. Disana mereka berdiskusi langsung dengan perwakilan Kelompok Tani (Poktan) sejumlah komoditi, diantaranya komoditi tanaman kakao.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu
TL READSI Wahyudin Kessa (Baju Coklat), dan TA READSI Sultra Aisa Rauf diskusi dengan perwakilan 7 Poktan di Desa Kasuwura Indah Kec. Abuki Kab. Konawe.

Diungkapkan oleh Haji Passe ketua Poktan komoditi kakao, bahwa saat ini petani mengeluh akibat rendahnya harga kakao di pasaran dan tidak seimbang dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Namun petani sebagian masih tetap bertahan menanam kakao sebab dianggap sebagai tanaman berhaga yang telah mengangkat kehidupan petani di masa lalu khususnya era tahun 1990-an.

“Kami keluhkan kenapa harga jual kakao sangat rendah tidak sebanding dengan biaya pemeliharaan, tolong pemerintah bantu petani jaga harga petani untung dan tetap bertahan menanam kakao sebagai tanaman kebanggaan yang pernah mengangkat kehidupan kami,” curhat Haji Passe di kolong rumahnya di Desa Eepea Kecamatan Abuki Kabupaten Konawe.

Menurut Haji Passe, era tahun 1990-an sampai tahun 2000 harga kakao pernah berjaya dan sangat menguntungkan petani sehingga banyak petani naik haji akibat keuntungan kakao termasuk dirinya.

Selasa, 19 Okt 2021, monev TL READAI didampingi TA Prov Sultra, TA Kab bersama DPMO Kab. Konawe di Kantor Dinas Tanaman Pangan Hortikultuta dan Peternakan, untuk melihat progres dan kendala kegiatan READSI di Kab. Konawe

Kepala Desa Epeea Sumitro Sabora juga mengaminkan pendapat warganya, bahwa pihaknya sudah menyuarakan jeritan petani akibat rendahnya harga kakao di pasaran yaitu Rp. 15 ribu per kilo, semèntara biaya operasional per hari untuk satu hektar tanaman kakao bisa mencapai Rp.100 ribu rupiah ditambah uang makan.

“Petani kakao sudah menjerit, ini berulang-ulang kami sampaikan dihadapan pemerintah setiap kali ada undangan pertemuan di kabupaten,” ungkap Kades Epeea Sumitro Sabora.

Di Desa Kasuwura Indah, pengurus Poktan komoditi Kakao juga menuturkan suka duka memelihara tanaman kakao, seperti diungkapkan Herman Porosi pengurus Poktan komoditi Kakao, bahwa dulunya banyak petani sudah putus asa dan menebang sebagian tanaman kakao yang tidak produktif lagi diatas umur 20 tahunan warisan orang tua. Namun setelah mengikuti pelatihan pemeliharaan tanaman kakao dari PT Mars, ia kembali semangat dan memotivasi sesama petani agar pertahankan tanaman kakaonya.

Baca Juga :  Masyarakat Jenebatu Minta Pemerintah Kelurahan Lebih Responsif terhadap Kebutuhan Warga
Kunjungan TL Readsi Pak Wahyudin ditemani ibu Aisa Rauf TA Provinsi di kantor Dinas Tanaman Pangan & Peternakan Sultra, berdiskusi dengan Ibu Dr. Mazhfia Umar Kabid, MM Kabid Penyuluhan Dinas Tanaman Pangan & Peternakan Prov Sultra & Ir. Yunus Sonda, M.Si Manager Readsi / Kasi Ketenagakerjaan, tentang progres program di Sultra.

“Saya juga dulu sudah putus asa, setelah ikut pelatihan pemeliharaan kakao, semangat kembali dan kasitau teman pertahankan kakao sebagai tanaman tabungan masa depan, sebab harga kakao pasti ada dan tetap dicari,” ungkapnya.

Poktan komoditi tanaman kakao di Desa Kasuwura Indah berharap masuknya Program READSI bisa membantu petani tidak saja pemberian bantuan bibit, pupuk dan alsintan, namun hasil akhir saat panen kakao juga dikawal agar harga jual biji kakao tidak jatuh merugikan petani.

Kabupaten Konawe adalah salah satu wilayah dampingan Program READSI di Sulawesi Tenggara, selain Kolaka dan Kolaka Utara. Tiap kabupaten menjangkau 18 Desa dampingan, tiap satu desa terdapat 7 Kelompok Tani (Poktan) yang beranggotakan 25 Kepla Keluarga. Poktan dampingan READSI terdiri berbagai komoditi seperti kakao, padi sawah, lada, vanini, dan hortikultura.

Tujuan Program READSI antara lain adalah meningkatkan pendapatan petani di desa melalui pemberdayaan pertanian dan non pertanian. Sehingga petani tidak saja mahir soal pertanian namun dapat meningkatkan nilai tambah dari hasil panen yang tidak saja dijual secara gelondomgan, namun dapat diolah kembali untuk meningkatkan value added atau nilai tambah.

TL READSI Wahyudin Kessa ditemani TA READSI Sultra Aisa Rauf, sebelum ke lokasi desa dampingan Program READSI, menyempatkan berdiskusi dengan Dr Mazhfia Umar MM Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian dan Peternakam Provinsi Sultra didampingi Manager READSI Provinsi Ir Yunus Sonda, Kasi Ketenagakerjaan di Kendari. Serta berdiskusi dengan Manager READSI Kabupaten Konawe H Yaser Arafat di Konawe, mendengarkan progres, kendala dan hambatan kegiatan program dilapangan.

(RED)

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit