Example floating
Example floating
DaerahPendidikan

MPLS SMAN 10 Bulukumba Makin Berkelas, Siswa Dibekali Etika Digital dan Keamanan Siber

×

MPLS SMAN 10 Bulukumba Makin Berkelas, Siswa Dibekali Etika Digital dan Keamanan Siber

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

faktual.net, Bulukumba, Sulsel – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau MPLS Ramah Tahun Pelajaran 2026/2027 di UPT SMA Negeri 10 Bulukumba berlangsung semakin berkelas dan penuh makna.

Tidak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru, kegiatan ini juga menghadirkan materi yang sangat relevan dengan kehidupan pelajar masa kini, yakni Keadaban dan Keamanan Digital.Materi tersebut dibawakan oleh Dr. Muhammad Yusran, S.Kom., M.Kom., guru SMAN 15 Bulukumba sekaligus Fasilitator Koding dan Kecerdasan Artifisial atau KKA.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Kehadiran Dr. Muhammad Yusran menjadi nilai tambah tersendiri dalam pelaksanaan MPLS SMAN 10 Bulukumba (16/07/2026), karena peserta didik baru tidak hanya memperoleh wawasan tentang penggunaan teknologi, tetapi juga dibekali cara berpikir kritis, santun, aman, dan bertanggung jawab di ruang digital.

Kegiatan ini menunjukkan komitmen SMAN 10 Bulukumba dalam menghadirkan MPLS yang tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi juga edukatif, adaptif, dan visioner. Di tengah derasnya perkembangan media sosial, kecerdasan artifisial, serta berbagai ancaman siber, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter digital peserta didik sejak awal memasuki lingkungan pendidikan baru.

Dalam materi yang disampaikan, peserta didik diajak memahami bahwa aktivitas digital bukanlah sesuatu yang terpisah dari kehidupan nyata. Penggunaan gawai, komentar di media sosial, unggahan foto atau video, penyebaran informasi, hingga perlindungan akun dan data pribadi merupakan bagian dari tanggung jawab seorang pelajar di era digital. Materi kegiatan menegaskan bahwa aktivitas digital dapat meninggalkan jejak, data pribadi dapat disalahgunakan, komentar dapat menyakiti orang lain, informasi di internet tidak selalu benar, dan akun digital dapat dicuri apabila tidak dijaga dengan baik.

Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah pengenalan prinsip 3S, yaitu Screen Time, Screen Zone, dan Screen Break. Melalui prinsip tersebut, peserta didik diajak mengatur waktu penggunaan layar, menentukan tempat yang tepat untuk menggunakan gawai, serta memberi jeda dari aktivitas digital agar tetap sehat, fokus, dan produktif. Pesan sederhana yang ditekankan adalah: atur waktunya, tentukan tempatnya, dan berikan jedanya.

Dr. Muhammad Yusran juga mengajak peserta didik melihat kembali kebiasaan digital sehari-hari, seperti bermain gawai sampai lupa waktu, tidur sambil membawa ponsel, makan sambil menonton video, membuka media sosial saat belajar, hingga menerima tautan mencurigakan. Dari kebiasaan-kebiasaan tersebut, siswa diajak berpikir lebih kritis tentang mana perilaku digital yang aman, sehat, dan mendukung proses belajar.

Tidak hanya membahas penggunaan gawai, kegiatan ini juga menekankan pentingnya keadaban digital. Peserta didik diingatkan bahwa di balik setiap akun terdapat manusia nyata. Karena itu, komunikasi di ruang digital harus tetap mengedepankan sopan santun, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan kepada orang lain. Kebebasan berpendapat tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan untuk menghina, menyerang, atau merendahkan orang lain.

Dalam sesi tersebut, peserta didik juga diberi pemahaman mengenai pentingnya menyaring informasi sebelum membagikannya. Mereka diajak menerapkan rumus sederhana: berhenti, pikirkan, periksa, baru bagikan. Pesan ini menjadi sangat penting di tengah maraknya hoaks, judul provokatif, dan informasi yang belum tentu benar di berbagai platform digital.

Aspek keamanan siber menjadi bagian yang tidak kalah penting. Peserta didik diperkenalkan pada berbagai ancaman digital seperti penipuan, pencurian data, peretasan, penyalahgunaan akun, penyebaran data tanpa izin, phishing, serta bahaya membagikan informasi pribadi secara sembarangan. Materi kegiatan menegaskan bahwa data rahasia seperti kata sandi, OTP, PIN, dan kode pemulihan akun tidak boleh diberikan kepada siapa pun, termasuk teman dekat.

Baca Juga :  TMMD ke-129 Dimulai, Kodim 1311/Morowali Bangun Infrastruktur dan Berdayakan Masyarakat Bungku Selatan

Suasana kegiatan semakin hidup ketika peserta didik diajak memahami studi kasus dan permainan cepat bertema “Aman atau Tidak Aman?”. Melalui aktivitas ini, siswa dilatih mengenali tindakan berisiko, seperti memberikan OTP kepada orang lain, menggunakan tanggal lahir sebagai kata sandi, serta menyalin seluruh jawaban dari AI. Sebaliknya, siswa juga diajak mengenali perilaku digital yang positif, seperti memeriksa sumber berita, meminta izin sebelum mengunggah foto teman, dan menggunakan AI untuk memahami materi pembelajaran.

Pembahasan mengenai kecerdasan artifisial atau AI menjadi salah satu bagian yang sangat relevan bagi pelajar masa kini. Dr. Muhammad Yusran menekankan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, memahami materi, membuat latihan, memperbaiki tulisan, dan merangkum informasi. Namun, AI tidak boleh digunakan untuk mencontek, menyalin seluruh jawaban, membuat fitnah, memalsukan foto atau suara, maupun memasukkan data pribadi. Pesan utama yang ditekankan adalah bahwa AI merupakan alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir.

Kehadiran Dr. Muhammad Yusran dalam kegiatan ini juga menjadi gambaran positif tentang kontribusi pendidik di Kabupaten Bulukumba. Sebagai guru yang berdinas di SMAN 15 Bulukumba, sekaligus fasilitator Koding dan Kecerdasan Artifisial, kiprah beliau menunjukkan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membangun literasi digital, memperkuat karakter peserta didik, dan menjembatani kebutuhan pendidikan dengan perkembangan teknologi.

Di sisi lain, SMAN 10 Bulukumba sebagai tuan rumah kegiatan memperlihatkan keseriusan dalam menghadirkan MPLS yang berkualitas. Dengan mengangkat tema keadaban dan keamanan digital, sekolah ini tidak hanya memperkenalkan peserta didik baru kepada lingkungan sekolah, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan hidup yang penting untuk menghadapi tantangan zaman.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi positif antarsatuan pendidikan. SMAN 10 Bulukumba tampil sebagai sekolah yang responsif terhadap kebutuhan generasi digital, sementara SMAN 15 Bulukumba turut memberi kontribusi melalui kiprah salah satu gurunya dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kolaborasi seperti ini menjadi bukti bahwa kemajuan pendidikan dapat dibangun melalui sinergi, kepedulian, dan semangat berbagi antarsekolah.

Sebagai pengingat akhir, peserta didik diajak menanamkan empat kata kunci penting dalam kehidupan digital, yaitu Santun, Aman, Kritis, dan Bertanggung Jawab. Keempat nilai tersebut menjadi bekal utama agar pelajar mampu menggunakan teknologi secara cakap, menjaga data pribadi dengan aman, memeriksa informasi secara kritis, serta tetap beradab dalam setiap interaksi digital.

Melalui MPLS Ramah Tahun Pelajaran 2026/2027 ini, SMAN 10 Bulukumba menegaskan komitmennya dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya siap belajar di lingkungan sekolah baru, tetapi juga siap menjadi generasi digital yang cerdas, santun, aman, kritis, dan bertanggung jawab. Sementara itu, kehadiran Dr. Muhammad Yusran sebagai guru SMAN 15 Bulukumba sekaligus Fasilitator KKA menjadi wujud nyata kontribusi pendidik Bulukumba dalam membangun masa depan pendidikan yang semakin adaptif, berkarakter, dan berkelas.

Reporter: Ahmad Rabbani

Tanggapi Berita Ini