Menolak Pembangunan Mesjid Raya, Fraksi PKB Dikecam

176

Faktual.Net,Tidore. Beredarnya kabar terkait dengan sikap Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kota Tidore Kepulauan yang menolak pembangunan masjid Raya di Kota Tidore Kepulauan mendapat kecaman keras dari warga masyarakat Tidore.

Menurut salah satu tokoh Masyarakat Tidore Mansur A. Conoras kepada media ini mengatakan setelah mendengar sikap Fraksi PKB yang tergabung dengan partai Hanura menolak pembangunan sarana ibadah berupa Masjid Raya melalui pandangan Fraksi PKB dalam agenda paripurna APBD tahun 2020 di DPRD Tikep pada Jumat, (29/11/19) pekan kemarin, membuat pihaknya merasa sangat terpukul. Pasalnya sikap tersebut sangatlah aneh dan tidak memihak terhadap kepentingan publik.

“Kami merasa sangat terpukul mendengar anak daerah yang berada di dalam parlemen mempertontonkan kezoliman ummat atas pembangunan sarana ibadah, karena baru pertama kali terjadi sarana ibadah ditolak mentah-mentah yang dilakukan oleh Politisi Fraksi PKB yang bergabung dengan Hanura dengan alasan pembangunan masjid raya bukan kebutuhan mendesak dan bagi kami ini merupakan sikap yang astagfirullah, Karena pembangunan sarana ibadah tidak boleh disamakan dengan pembangunan yang lain,” ungkapnya.

Untuk itu, atas nama masyarakat Tidore, lelaki yang akrab disapa Oya itu mengutuk keras sikap Fraksi PKB – Hanura karena dianggap tidak beradab dalam memihak kepentingan umum, sehingga ia meminta kepada Pemerintah Daerah Kota Tikep dan DPRD Kota Tikep untuk kembali mempertimbangkan keinginan tak manusiawi para politisi yang hanya mengedepankan kepentingan politik partai semata.

“Kita harus berkaca pada kepemimpinan Hein Namotemo, dan Namto Hui Roba, meskipun mereka beragama nasrani namun mereka membangun Masjid Raya yang begitu megah, sementara kita di Tidore yang dikenal sebagai kota santri malah menolak adanya pembangunan masjid Raya,” pungkasnya.

Senada disampaikan Imam Masjid Miftahul Jannah Kelurahan Indonesiana, Ridwan Ahmad, dia mengatakan sikap yang ditunjukan Fraksi PKB sangatlah tidak baik, olehnya itu sebelum mengeluarkan sikap PKB dan Hanura diminta untuk datang melakukan sholat di Miftahul Jannah, sebab bukan berarti banyaknya masjid kemudian itu menjadi alasan bagi Fraksi PKB Hanura menolak dibangunnya Masjid Raya. Karena pembangunan masjid menjadi sebuah sarana yang penting bagi ummat islam untuk mendapatkan kenyamanan dalam beribadah.

Baca Juga :  Dishub Bersama KUPP Gelar Pertemuan Dengan Motores

“Rasulullah bersabda bahwa siapa yang membangun masjid di dunia ini, maka allah akan membangun istana untuknya di surga, bagaimana kita sebagai seorang muslim apalagi sebagai wakil rakyat menolak mentah-mentah untuk membangun masjid, mana sikap mereka sebagai seorang muslim ketika hal ini menjadi tujuan bagi Tidore untuk menjadikan Icon Tidore sebagai kota Santri, coba kita contohkan ternate yang berdekatan dengan Tidore, meskipun mereka sudah punya banyak masjid namun mereka tetap membangun masjid raya untuk dijadikan sebagai central ummat muslim beribadah,” jelasnya.

Bahkan tak hanya itu, Sikap Fraksi PKB yang bergabung dengan Hanura ini juga mendapat sorotan dari Ustad ternama di Tidore yakni Agus Taufan, dia mengatakan bahwa pembangunan Masjid Raya di Kota Tidore Kepulauan ini bukan menjadi hal baru yang dirindukan oleh ummat islam di Tidore, karena jauh sebelum Tidore dikokohkan sebagai kota Santri kerinduan akan adanya Masjid Raya sudah ada, terbukti saat Tidore masih bersatatus kabupaten Halmahera Tengah terdapat adanya fondasi Masjid raya yang berdekatan dengan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kota Tikep.

“Adanya fondasi itu adalah bukti konkrit masyarakat sebelum kita sudah merindukan adanya pembangunan Masjid Raya di tengah-tengah pusat kota sebagai Icon daerah, lagipula dengan adanya kemajuan tekhonologi dengan desaign kajian-kajian yang begitu ramai mewarnai media sosial maka masyarakat perlu mengkaji bagaimana islam yang benar dengan mengkonsepkan dari masjid kita bangkit seperti yang dilakukan oleh Yayasan Darul Mujtama di Masjid Miftahul Jannah dan yang hadir dalam kegiatan itu tidak hanya orang Tidore melainkan orang diluar Tidore,” ujarnya.

Olehnya itu, ini menunjukan bahwa ada kerinduan yang perlu dibaca dan dirasa oleh wakil rakyat terpilih, apalagi kondisi Masjid Miftahul Jannah yang akan menjadi cikal bakal pembangunan masjid raya untuk menjadi suatu tempat dalam melakukan kajian-kajian islam. Hanya saja masjid tersebut tidak mampu menampung jamaah yang banyak, karena posisi masjid Miftahul Jannah berada di tengah-tengah layanan publik dan bisa diakses oleh orang banyak. Apalagi Kota Tidore Kepulauan diapit oleh dua pondok pesantren, pertama pesantren Kharisul Khairat Kelurahan Ome dan Pesantren Ali Bin Abitalib Kelurahan Dowora.

Baca Juga :  23 Kades Terpilih Resmi Dilantik

“Kemarin yayasan Darulsalam bekerjasama dengan pondok Pesantren menggelar kegiatan dengan mendatangkan Guru Besar Fikih dari Yaman bernama Dr. Arif Anwar Aladni Al Yamani, namun apa yang terjadi ternyata masjidnya tidak tampung, padahal guru besar banyak yang tertarik datang ke tidore,” tambahnya.

Olehnya itu hal ini perlu dibaca dan didukung dengan fasilitas yang memadai dalam hal ibadah, maka dari itu bagi kami sebagai tokoh agama Masjid Raya merupakan suatu kebutuhan yang mendesak untuk kita membangun silaturrahim dengan mendatangkan guru-guru besar di Tidore yang mampu menampung banyak masyarakat. Olehnya itu jika ada yang mengatakan membangun masjid tidak terlalu penting bagi kami sangat penting.

“Kami menghargai pendapat teman-teman di DPRD yang menilai itu belum penting, namun kami berharap pendapat kami juga bisa dihargai,” tambahnya.

Menanggapi persoalan tersebut, saat diconfirmasi Wakil Ketua Fraksi PKB Riri Aisyah Do Taher kemudian angkat bicara, ia membenarkan bahwa Fraksi PKB yang tergabung dengan Hanura menolak pembangunan masjid raya, dengan alasan Tidore sudah banyak memiliki masjid, sehingga tidak perlu adanya Icon Masjid Raya, Melainkan ada hal lain yang perlu dijadikan Icon, untuk itu masjid-masjid yang begitu banyak ada di Tidore perlu diperbagus.

“Uang untuk dibuat masjid raya itu seharusnya diperuntuhkan untuk memperbagus masjid-masjid yang sudah ada karena masjid di Tidore ini sudah banyak sehingga tidak terlalu boros anggaran,” singkatnya melalui telephone, Minggu, (1/12/19).

Reporter : Aswan Samsudin

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :