Mengenal Dato Sri Tahir, Berkeinginan Kuatkan Rupiah

147

Faktual. Net, Jakarta. Viral akhir-akhir ini, Dato Sri Tahir pemimpin Mayapada Group sekaligus orang terkaya nomor delapan di Indonesia versi majalah Forbes, menukarkan mata uang dollarnya menjadi rupiah dengan nilai yang fantastis yakni Rp 2 triliun. Tujuan Dato Sri Tahir menukarnya dolarnya tersebut tidak lain untuk menguatkan nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang dollar Amerika.

Tidak tanggung-tanggung, besaran mata uang Dollar Amerika yang ditukarkannya sebanyak 93 juta Dollar Amerika dan 55 juta Dollar Singapura.

Sebelumnya juga telah viral dimedia saat gempa dan tsunami melanda Palu dan Donggala, Dato Sri Tahir tidak ketinggalan berkontribusi. Menggunakan jet pribadinya yakni Global 5000, Tail M JGJV beliau terbang langsung ke palu pada Selasa, 2/10/2018 lalu.

Dalam jet pribadinya itu, Dato Sri Tahir membawa banyak dos makanan cepat saji dan membagikannya kepada para korban gempa Palu, Ia juga membagikan air mineral, mie instan, genset, tenda dan kebutuhan lain bagi para korban terdampak bencana.

Lalu Siapa Dato Sri Tahir?

Lahir Dari Keluarga Pembuat Becak

Lahir di Surabaya, 26 Maret 1952, Dato Sri Tahir berasal dari keluarga biasa. Ayahnya bekerja sebagai pembuat becak, sedangkan ibunya punya toko pakaian.

Dari ibunya Tahir belajar cara berdagang. Tahir sering disuruh ibunya menjual barang ke Pasar Baru dan Mangga Dua di Jakarta. Karena usaha orang tuanya makin berkembang, Tahir disuruh menjual barang bukan lagi ke Jakarta, melainkan ke Singapura.

Baca Juga :  Rumah Tahfidz Binaan BURHAN KAMIL, butuh perhatian pemerintah Desa Parangloe

Kuliah Ke Singapura

Begitu lulus dari SMA Kristen Petra Kalianyar Surabaya tahun 1971, Dato Sri Tahir mengambil pendidikan bisnis di Nanyang University, Singapura. Ia bersekolah atas desakan orang tuanya.

Sama seperti waktu SMA, di Singapura Tahir juga lebih sering menggunakan waktunya buat belajar. Ia merasa bahwa dirinya masih berada dalam situasi memperjuangkan ekonomi keluarga.

Ketika ayahnya jatuh sakit, Sri Tahir harus rela berhenti kuliah dan melanjutkan bisnis ayahnya. Putus kuliah, takdir justru membawa Sri Tahir menerima beasiswa dari Nanyang Technological University Singapura.

Sambil kuliah Sri Tahir membeli pakaian wanita dan produk lain di negeri singa tersebut lalu menjualnya kembali di Indonesia. Aktivitas ini pula yang akhirnya membuat Sri Tahir membuka bisnis garmen, multifinance, hotel, dealer mobil sampai kesehatan.

Jatuh Bangun Merintis Usaha

Menikah dengan putri Mochtar Riady tidak membuat Sri Tahir bermalas-malasan, Ia pun memilih menjalankan usahanya sendiri. Sejumlah usaha dijalankannya mulai dari furnitur hingga showroom mobil.

Namanya menjalankan usaha, tentu saja tidak selamanya berjalan lancar. Sri Tahir pernah mengalami kebangkrutan. Tapi bantuan sang mertua dalam bentuk utang berhasil menyelamatkannya.

Mochtar Riady juga mempercayakan pengelolaan perusahaan garmen miliknya ke tangan SRi Tahir. Kepercayaan ini tentu tidak disia-siakan. Tahir sukses menjalankan perusahaan.

Baca Juga :  Khofifah Siapkan 3 Langkah Strategis untuk Jaga Sentra Industri Tas Tanggulangin Tetap Eksis & Maju

Mendirikan Mayapada Grup

Mayapada didirikannya pada 7 September 1989. Selain itu Sri Tahir juga merambah ke bisnis-bisnis lainnya. Mulai dari jasa keuangan, kesehatan, properti, retail, hingga media. Berbekal pengalamannya dalam dunia usaha, ia berhasil menciptakan grup usaha dalam satu naungan yakni Mayapada Group.

Beberapa usahanya yang tidak asing lagi bagi kita antara lain : asuransi Zurich, RS Mayapada, Mayapada Tower, resor Fairmont Sanur Bali, Topas TV, Forbes Indonesia, Elle Indonesia, hingga Rajawali Televisi (RTV).

Berkat Mayapada Group, Tahir menjadi konglomerat sama seperti mertuanya Mochtar Riady. Tahir pun kini lebih sering membaktikan hidupnya pada kegiatan sosial. Ia mendirikan Tahir Foundation sebagai lembaga yang bakal menyalurkan uangnya buat amal.

Lewat Tahir Foundation, ia pernah menyumbang hingga Rp 950 Miliar buat membantu penanggulangan TBC, HIV, dan Malaria di Indonesia. Ia juga pernah membantu nelayan dan petambak yang rugi akibat banjir sebesar Rp 100 Miliar tahun 2014.

Itulah kisah singkat Dato Sri Tahir, si anak juragan becak yang kini menjadi konglomerat dan masuk 10 besar orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes.

Di Himpun Dari Berbagai Sumber

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :