Menakar Kesiapan Perguruan Tinggi Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di Sulawesi Tenggara

300

Ditulis Oleh: Muhammad Idris Putra 

Faktual.Net, Yogyakarta. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar telah membawa manusia menuju era emas yang belum pernah dicapai oleh peradaban manapun sebelum ini. 

Sejak James Watt menemukan mesin uap pada tahun 1764 saat itulah titik balik perubahan besar dalam peradaban manusia terjadi. yang mana pekerjaan manusia mulai tergantikan oleh mesin. Era itu disebut revolusi industri 1.0. Kemudian dilanjutkan dengan revolusi industri 2.0 pada abad ke-19 ditandai dengan produksi massal,penemuan dan pengembangan mesin listrik dan standarisasi industri. Revolusi industri 3.0 dimulai ketika ditemukannya PLC (programmable logic controller) dan komputerisasi dalam dunia industri manufaktur pada tahun 1969. 

Saat ini kita sedang memasuki era revolusi industri 4.0 dimana kehidupan manusia banyak disuguhi oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence). Mesin-mesin yang dahulu dikendalikan oleh manusia kini beralih menjadi fully automatic (tanpa kendali manusia) dengan kemampuan luar biasa dan  tingkat kepresisian tinggi. Fitur kendali jarak jauh dengan web interface begitu banyak kita jumpai dalam kehidupan ini.

Negara-negara maju seperti Jepang dan raksasa ekonomi China saat ini sedang gencar-gencarnya mengganti tenaga manusia dengan robot-robot cerdas. Banyak restoran kini telah dilayani oleh robot, begitupun dengan dunia industri. Saat ini Jepang menjadi negara yang banyak menciptakan robot dengan bantuan robot lain. Jadi singkatnya “Robot mampu menciptakan robot”. Begitupun Perusahaan raksasa seperti Amazaon, Tesla,  Adidas, DHL bahkan Mitsubishi Xpander Cikarang kini hampir semua lini prosuksinya dikerjakan oleh robot. Hal ini tentu menjadi solusi sekaligus ancaman bagi kehidupan manusia. Dari sudut pandang bisnis, tentu sangat menguntungkan bagi industri mengingat benefit dapat ditingkatkan hingga berlipat ganda. Namun di sisi lain keberadaan robot-obot cerdas juga menjadi ancaman karena dapat menggeser posisi manusia dalam banyak hal.

Salah satu instrumen yang dapat dijadikan acuan untuk menilai kesiapan kita adalah dukungan sistem pendidikan. Setidaknya ada beberapa poin yang harus disiapkan oleh perguruan tinggi untuk menyongsong dan menciptakan generasi siap tempur dalam revolusi industri 4.0.

Seberapa Siap Perguruan Tinggi di Sulawesi Tenggara?

Dilansir dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (20/7/19), Kampus terbaik Indonesia 2019 versi dikti itu telah berupaya menerapkan sistem pendidikan 4.0 untuk menyambut revolusi industri 4.0 dalam lingkungan kampusnya. Poin-poin penting yang menjadi fokus utama  diantaranya adalah Pembelajaran berbasis visual (visual based learning) dimana konten pengetahuan disajikan dalam bentuk visual berbasis teknologi informasi berupa video,grafik dan lain-lain.

Kedua, Flipped class room yaitu meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis pengalaman (experience based learning), pembelajaran berbasis eksperimen (experiment based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran berbasis kasus (case based learning), dan pembelajaran berbasis proyek (project based learning) serta mengganti peran pengajar menjadi fasilitator dalam proses pembelajaran dan memahami Karakteristik Generasi Z yang akrab dengan dunia digital yang eksploratif terhadap sumber belajar,berani menerima tantangan (risktaker), kolaborasi lintas disiplin (borderless of sciences) dan selalu berambisi menghasilkan sesuatu hal yang baru dan berbeda. 

Pertanyaan besar yang kemudian muncul apakah sistem dan fasilitas pendidikan kita di Sulawesi tenggara juga sudah mulai berbenah? Lalu sejauh mana ketersediaan fasilitas pendukung pembelajaran berbasis teknologi yang ada saat ini? Ataukah masih menggunakan fasilitas  lama dan berharap mampu bersaing dalam kompetisi teknologi serba canggih ini?.

Tentu butuh proses untuk mewujudkan fasilitas seperti ketersediaan infocus pada setiap  kelas, kestabilan jaringan wifi kampus serta penyediaan referensi pelajaran digital yang dapat diakses kapanpun oleh mahasiswa. Namun jika berani memulai,  bukan tidak mungkin kampus-kampus yang ada di Sultra saat ini bisa menjadi kiblat bagi perguruan tinggi lain.

Saatnya Tentukan Langkah.

Tercatat sejak dimulainya revolusi Industri 1.0 gelombang demonstrasi menolak revolusi teknologi begitu luar biasa karena dinilai merugikan. Namun seakan tak terbendung, Teknologi terus berkembang dan terus memberikan manfaat hingga saat ini memasuki era revolusi industri 4.0.

Pada masa ini prestasi akademik (Ipk) tidak lagi menjadi hal yang banyak memberikan manfaat dalam menjawab persaingan hidup. Skill adalah yang utama dan paling fundamental agar tidak terdegradasi oleh keberadaan smart teknologi. 

Dengan penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang berbasis IOT (internet of think) terhadap robot maka semua peran dalam kehidupan manusia kapanpun dapat diambil alih oleh robot-robot cerdas atau biasa dikenal dengan istilah Cobot (collaborative robot). Chip mikrokontroller AI yang dibenamkan didalam robot cerdas ini dapat mengajar, membantu pekerjaan rumah, restoran, industri, melakukan pengawasan, serta mampu mengambil keputusan secara mandiri sehingga hampir seluruh aktfitas manusia dapat dilakukan oleh robot-robot cerdas ini. Contohnya adalah Sophia yang merupakan robot humanoid milik Arab Saudi yang dikembangkan oleh perusahaan Hongkong menggunakan kecerdasan buatan (AI). 

Pada Oktober 2017, robot tersebut resmi menjadi warga negara Arab Saudi dan menjadi robot pertama yang meraih pengakuan kewarganegaraan. Sophia mampu meniru gerak tubuh dan ekspresi wajah manusia serta mampu menjawab pertanyaan dan melakukan percakapan sederhana mengenai topik yang telah ditentukan. Bayangkan lima atau sepuluh tahun mendatang, bukan tidak mungkin robot sejenis atau bahkan lebih canggih lagi bisa hadir ditengah-tengah kehidupan kita. Saat itu terjadi, tentu kita akan kewalahan dan terbuang jauh jika tak menyiapkan diri sejak dini.

Hanya mereka yang memiliki skill dan penguasaan teknologi informasi mumpunilah yang dapat bertahan dalam kerasnya persaingan. Setiap orang tentu saja memiliki pilihan ingin menjadi bagian revolusi industri 4.0 dan ikut berperan didalamnya  atau cukup menonton dan menunggu saat tereliminasi oleh kehadiran robot-robot cerdas tersebut. Dukungan pemerintah dan perguruan tinggi adalah solusi untuk mewujudkan peran itu. Mulailah berbenah agar tidak semakin jauh tertinggal. 

Penulis Adalah Seorang Mahasiswa Pasca Sarjana UGM Asal Sultra

(Isi Opini Di Luar Tanggungjawab Redaksi)

 

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :