Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Memoar Tragedi Cikini Berdarah, Antara Trauma Megawati, Terorisme Versus Imperatif Pendidikan Anti-Radikalisme

×

Memoar Tragedi Cikini Berdarah, Antara Trauma Megawati, Terorisme Versus Imperatif Pendidikan Anti-Radikalisme

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ.,  C.BJ., CLA-D

Pasang Iklanmu
iklan 468x60
Pasang Iklanmu

Faktual.net – Jakarta Barat, DKI Jakarta – (28/11/2025) – Pernah mendengar kisah Tragedi Perguruan Cikini 1957? Yang tepatnya terjadi pada tanggal 30.Novemner 1957, sebuah noda kelam dalam sejarah Indonesia, bukan hanya meninggalkan luka fisik dan psikologis bagi para korbannya, tetapi juga membentuk cara pandang seorang Megawati Soekarnoputri Presiden Kelima Republik Indonesia terhadap bahaya terorisme dan pentingnya pendidikan.

Sumber: UIII Library

Peristiwa Cikini tersebut merupakan percobaan pembunuhan terhadap Sukarno dipimpin oleh Jusuf Ismail, yang bersama rekannya Sa’adon bin Muhammad, Tasrif bin Husein, dan Moh. Tasin bin Abubakar melemparkan enam granat ke arah kendaraan Soekarno. Lima granat meledak dan menewaskan 10 orang dan mencederai 48 orang lainnya.

Saat itu sebagai seorang siswi yang menyaksikan langsung kengerian tersebut, pengalaman itu menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidup dan karir politiknya dan turut membentuk jiwa yang kokoh dan teguh dalam perjuangan hidup dan kehidupan politiknya: tegas, keras dan berwibawa.

Data menunjukkan bahwa peristiwa traumatis di masa kanak-kanak dapat memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan kognitif, emosional, dan sosial individu. Penelitian dari National Scientific Council on the Developing Child (2005) menegaskan bahwa pengalaman traumatis dapat mengubah arsitektur otak, memengaruhi kemampuan belajar, memori, dan regulasi emosi. Dalam konteks ini, tragedi Cikini menjadi semacam “laboratorium” bagi Megawati, di mana ia belajar tentang kekejaman ideologi ekstremis secara langsung.

Sikap kritis dan rasa ingin tahu Megawati sejak kecil, seperti yang tercermin dalam buku “Cerita Kecil dari Cikini,” menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembelajar aktif. Namun, tragedi Cikini mengubah fokus belajarnya. Ia tidak lagi hanya ingin memahami pelajaran di kelas, tetapi juga akar masalah kekerasan dan cara mencegahnya.

Sumber: Detikcom

Kehadiran Sukarno sebagai orang tua murid dalam pameran sekolah menjadi ironi yang pahit. Di satu sisi, itu adalah momen kebersamaan dan kebanggaan Sang Megawati karena dapat mengajak Sang Ayah datang ke sekolah bukan sebagai Kepala Negara/Presiden. Kehadiran Sukarno ternyata menjadi target serangan teroris. Data dari Global Terrorism Database (GTD) menunjukkan bahwa serangan terhadap tokoh politik dan simbol negara sering kali menjadi strategi kelompok teroris untuk menciptakan ketidakstabilan dan menyebarkan ketakutan.

Ledakan granat di Cikini bukan hanya merenggut nyawa dan menyebabkan luka fisik, tetapi juga merusak rasa aman dan kepercayaan anak-anak terhadap lingkungan sekitar. Penelitian dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar kekerasan cenderung mengalami masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Baca Juga :  Ketua Umum FOKSI, M. Natsir Sahib: Stop Asal Bunyi, Hargai Pengabdian Tulus Pak Luhut untuk Bangsa!

Penyesalan Megawati karena merasa bertanggung jawab atas kehadiran ayahnya di Cikini adalah manifestasi dari “guilt complex,” sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa bersalah atas kejadian yang sebenarnya di luar kendalinya. Namun, penyesalan ini juga menjadi motivasi baginya untuk berbuat lebih banyak dalam mencegah terorisme.

Pembentukan BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) oleh Megawati adalah upaya konkret untuk melawan radikalisme dan menanamkan nilai-nilai Pancasila sejak dini. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan bahwa pendidikan dan deradikalisasi adalah dua strategi penting dalam mencegah penyebaran ideologi terorisme.

Kisah Cikini 1957 mengajarkan kita bahwa terorisme tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Oleh karena itu, perlindungan anak dari paparan ideologi ekstremis harus menjadi prioritas utama. Data dari UNICEF menunjukkan bahwa anak-anak yang menjadi korban terorisme sering kali mengalami trauma mendalam dan membutuhkan dukungan psikologis yang komprehensif.

Guna merefleksikan peran para pendidik / gitu dalam mencegah radikalisme. Pendidik / guru bukan hanya sekedar mentransfer pengetahuan, tetapi justru juga yang terpenting menanamkan nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan cinta tanah air. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa pendidikan yang berkualitas dapat menjadi benteng pertahanan terhadap ideologi ekstremis.

Megawati, dalam kapasitasnya sebagai seorang negarawan dan seorang ibu, telah menunjukkan komitmennya dalam melawan terorisme dan mempromosikan pendidikan.

Pengalamannya di Cikini menjadi pengingat bahwa perdamaian dan keamanan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan setiap saat.

Kiranya Tragedi Cikini 1957 kita jadikan  sebagai pelajaran berharga untuk membangun Indonesia yang lebih aman, damai, dan toleran bagi generasi mendatang. Untuk semua kita semua bukan saja pendidik / guru secara formal tetapi kita juga sebagai pendidik / guru di kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, mari terus berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan melindungi anak-anak dari bahaya radikalisme.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Pendidikan pada STTI Philadelphia, Banten.

Mahasiswa Ilmu Hukum pada Fakuktas Hukum Ilmu Sosial Ilmu Politik UT UPBJJ Jakarta.

Ketua PEWARNA Indonesia Provinsi DKI Jakarta Masa Bakti 2025-2030.

Tanggapi Berita Ini