oleh

Masjid adalah Awal Kebangkitan Pemuda

Oleh Muh. Hifzul (Ketua Kompi Pulau Binongko)

faktual.net, Sulsel. Krisis Aqidah, hal itulah yang melanda kaum muslimin diseluruh dunia. Perkara yang tidak boleh tidak untuk ditinggalkan (wajib) kini dipandang sebelah mata.

Oleh sebab itu, seharusnya umat Islam sedini mungkin harus sadar dan paham akan realita objektif yang kian merenggut seluruh ranah kehidupannya.

Tentunya kita membutuhkan solusi yang tepat untuk mengatasi segala permasalah yang kompleks ini? Sekiranya inilah yang ada pada benak penulis terkait solusi urgen dan wajib dilaksanakan oleh seluruh kaum muslimin.

Masjid adalah solusi utama yang akan menjadi awal kebangkitan pemuda? Alasannya akan penulis paparkan, namun alangkah baiknya kita perlu sedikit mengungkap virus yang telah menjangkiti kebenaran dan kemajuan umat Islam pada abad 21 ini!.

Merefleksi masa kejayaan Islam yang kurang lebih 1 abad lamanya telah meninggalkan kita dengan segala keterpaksaan, yaitu sejak runtuhnya kekhalifahan Islam pada 3 Maret 1924. Pasca peristiwa itu dunia Islam semakin gelap dari hari ke hari. Sejarah dan ajaran yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, sedikit demi sedikit telah dipandang sebelah mata oleh kaum muslimin. Akibatnya banyak kaum muslimin yang menganggap bahwa agama hanyalah ritual berdiri, ruku, dan sujud, yang tidak asik dan hanya membuang-buang waktu. Percaya atau tidak itu semua tak terlepas dari ancaman internal dan eksternal tubuh umat Islam.

Ancaman internalnya adalah umat Islam itu sendiri, yaitu semenjak lahirnya virus ST3 (Shalat tapi tunggu tua). Virus ini tentu sangat berbahaya bagi kehidupan pribadi seseorang dan juga dapat menjangkiti lingkungan sekitarnya. Apabila virus ini telah menjangkiti seseorang maka ia akan merasa bahwa dirinya masih muda dan masih panjang perjalanan hidupnya, mempersiapkan bekal untuk hari akhirat adalah suatu keharusan, tapi itu nanti, ketika saya berumur lima puluhan. Masa muda harus saya nikmati. Sekiranya itulah slogan yang sering diteriakkan oleh para pemuda.

Dampaknya adalah lahirnya jiwa-jiwa muda yang tidak paham dan tidak peduli terhadap lingkungannya serta tidak memiliki kreativitas.

Adapun ancaman eksternalnya tak terlepas rantai kebencian yang telah membelenggu ummat Yahudi dan Nasrani. Shalat adalah pembeda antara muslim dan non muslim. Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah tenang jika persaudaraan diantara kaum muslimin menjadi baik, mereka akan mencoba seribu satu macam cara untuk menghancurkan umat Islam, dan tanpa kita sadari mereka telah berhasil meracuni tubuh umat islam khususnya para pemuda.

Jika tidak segera dibenahi, maka para pemuda kita akan mengalami kecacatan akhlak. Sehingga munculah orang-orang yang kemudian rakus akan kekuasaan, orang-orang yang menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya dan tidak peduli apakah orang disekitarnya menderita atau bahagia dan yang lebih menyedihkan adalah mereka sama sekali tidak peduli terhadap aturan-aturan agama. Lantas bagaimanakah cara kita untuk mengatasi penyakit ini, sehingga mampu mengembalikan kejayaan umat Islam.

Dakwah adalah solusinya, pemuda adalah penggeraknya dan Salat berjamaah di masjid adalah instrumen utama kita dalam mencapai kejayaan itu. Kebangkitan umat Islam akan muncul ketika jumlah jamaah Shalat subuh sama bahkan lebih dari jumlah jamaah Shalat Jumat. Hal itulah yang paling ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Sebab Shalat Subuh berjamaah lah yang menjadi pembeda antara mukmin dan munafik. Sekiranya itulah slogan yang sering diteriakkan oleh para penceramah.
Lantas kemudian metode apakah yang mesti kita terapkan, agar kuantitas Shalat Subuh berjamaah bisa melebihi kuantitas Shalat Jumat berjamaah ?

Masjid sebagai tonggak utama peradaban harus mampu eksis di garda terdepan dalam menyongsong kejayaan Islam. Masjid harus memiliki magnet terkuat yang dapat menarik minat masyarakat untuk selalu konsisten mengikuti segala program-program keislaman dan kemasyarakatan yang diselenggarakan oleh masjid setempat.

Masjid harus mampu mewadahi segala kebutuhan masyarakat khususnya pemuda sebagai agen of change. Contohnya, dengan mengadakan program-program kekinian seperti tongkrongan ilmu yang asik khusus untuk para kaum muda yang didalamnya akan diselipkan ilmu-ilmu dasar keislaman sehingga nantinya produk-produk yang dihasilkan akan berguna bagi personalnya dan lingkungannya. Kita dapat meneladani keberhasilan Generasi Bangun Masjid. Mereka adalah pemuda-pemuda yang berasal dari Kabupaten Wakatobi, tepatnya di Kecamatan Wangi-Wangi, yang kini telah berhasil membawa perubahan besar bagi daerahnya. keresahannya adalah sepulang kuliah mereka tidak menemukan para pemuda yang Shalat di masjid. Maka kemudian mereka membuat kelompok Generasi Bangun Masjid. Adapun program-program mereka sekarang adalah sebagai berikut:

1. Bergerak di bidang Ekonomi dan pemberdayaan
2. Pendidikan yaitu mendirikan sekolah-sekolah
3. Bergerak di bidang Sosial
4. Bergerak di bidang Kesehatan dan
5. Bergerak di bidang Dakwah

Namun itu saja tidak cukup, untuk menjemput kejayaan Islam seluruh elemen masyarakat harus terlibat aktif, mulai dari orang tua sebagai nahkoda suatu keluarga sampai dengan pemerintah sebagai nahkoda utama suatu masyarakat. Orang tua sebagai role model pertama bagi anak-anaknya, harus mampu menjalankan kewajibannya dalam mengontrol segala kegiatan anak-anaknya, mulai dari anak itu tidur, kemudian bangun dan hingga ia tidur lagi. Kemudian pemerintah juga harus mampu melahirkan kebijakan-kebijakan yang elegan dan kekinian. Contohnya, dengan mengadakan perlombaan hafalan Qur’an, perlombaan Salat berjamaah di masjid selama 40 hari, tidak ketinggalan takbir pertama dari imam, dan yang menjadi pemenangnya akan mendapatkan uang senilai Rp 1.000.000, atau dengan poster ajakan Salat subuh berjamaah sebagaimana keberhasilan Pemkot Bandung yang belum lama ini.

Pada awalnya mungkin akan terlihat seperti riya (sholat karena selain Allah), akan tetapi jika kaum muda sudah nyaman di masjid, maka tugas kita selanjutnya adalah membimbing mereka untuk meluruskan niatnya.

Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa kebangkitan pemuda dan Shalat subuh berjamaah di masjid merupakan akar kejayaan Islam, yang nantinya akan melahirkan batang dan ranting yang kokoh, dan juga daun, bunga serta buah-buahan yang sangat berkhasiat. Jika program ini mampu kita realisasikan, maka saya yakin kita akan menjumpai para pemuda yang disiplin, bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan sekitarnya dan juga kita menyaksikan para pemuda yang berlomba-lomba untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat dengan meninggalkan segala kemalasan mereka. Insyaallah dengan Shalat Subuh yang bagaikan Shalat Jumat, maka dengannya kita dapat melihat cerminan kejayaan umat Islam dimasa mendatang.

Wallahu a’lam bishawab

 

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam, Kampus STAI Al-AZHAR Gowa, Sulawesi Selatan

 

(Semua isi yang menyangkut dengan opini ini bukan tanggung redaksi)

 

 

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :