Faktual.Net, Surabaya. Pemilihan Calon Walikota/Wakil Walikota (Pilwali) Surabaya akan diselenggarakan pada tahun 2020 mendatang sehingga terhitung masa kerja pasangan Risma-Whisnu masih tersisa kurang lebih dua tahun lagi, namun masih banyak tugas yang belum dituntaskan oleh Pemkot Surabaya saat ini, seperti ancaman anak putus sekolah di tingkat SMA/SMK, serta jaminan kesehatan Warga miskin dan Perumahan layak.
Belum lama ini cukup banyak tokoh yang mendeklarasikan diri untuk maju sebagai Calon Kepala Daerah (Cakada) di Surabaya. Memang secara konstitusonal tidak dilarang namun bagi saya sebagai warga surabaya nampaknya kurang elok bila dimunculkan sekarang, lebih terlihat ambisinya ketimbang niatan untuk mengabdi.
Surabaya menjadi kota terbaik dengan berbagai penghargaan organisasi kelas dunia. Dari segi tata kota, manajemen birokrasi, pelayanan publik dan kemampuan memberikan jaminan sosial bagi warganya. Proses ini butuh kerja keras yang tidak sebentar. Salah satu faktor berasal dari kecakapan Bu Risma.
Saat maju di tahun 2010 mendatang, Bu Risma mungkin tidak punya niatan menjadi walikota, tetapi bisa dilihat sekarang hasil kerjanya begitu luar biasa, karena sebagai pemimpin tahu betul bahwa amanah memimpin Surabaya sangat berat sehingga harus bekerja sungguh-sungguh.
Saya hanya khawatir kalau nanti yang memimpin Surabaya tidak secakap Ibu Risma, bagaimana jadinya Kota Surabaya? Karena memimpin Surabaya tidak hanya modal ambisi, namun harus punya dedikasi dan Keikhlasan luar biasa.
Oleh: Achmad Hidayat (Staf Ahli Henky Kurniadi, Komisi V DPR RI)
















